
"Sifat kamu memang sama persis dengan sifat Papah kamu," ucap seorang wanita tua kepada salah satu anak lelakinya dengan wajah terlihat sangat kesal. "Kamu sama sekali nggak peduli dengan perasaan adikmu sendiri."
"Loh, apa hubungannya, Mah?" tanya sang anak. Sepertinya dia tidak terima dengan ucapan yang keluar dari mulut wanita yang telah melahirkannya. "Aku kan hanya ngomong, ngapain laki laki ini masih berani menunjukan wajahnya di hadapan keluarga kita? Apa itu salah?"
"Ya salah!" bentak Mamah benar benar kesal. "Kalau bukan karena pertolongan Dandi, saat ini mungkin hidup adikmu sudah hancur, dinodai rame rame oleh pria yang tidak bertanggung jawab. Kamu itu memang dari dulu tidak pernah peduli dengan adikmu. Kamu aja sering berbuat salah. Harusnya kamu bercermin, kenapa kamu sampai digugat cerai istri kamu!"
"Mamah," laki laki itu terperangah dengan tidak percaya kalau wanita yang telah melahirkannya bisa berkata seperti itu. Bahkan dia tidak bisa membantah ucapan wanita itu karena mungkin dia merasa tersindir oleh ucapan sang Mamah. Ucapan wanita tua itu juga cukup mengejutkan bagi dua tamu yang baru datang, terutama tamu wanita, yang merupakan anak dari wanita itu.
"Mah, masuk dulu, jangan ribut ribut di luar," salah satu anak yang lain ikut mengeluarkan suaranya. Meski perdebatan itu tidak mungkin ada tetangga yang mendengarnya, tapi tetap dia merasa tidak pantas saja kalau ada keributan di teras rumah.
"Lihat! Kamu diam kan?" sang mamah masih meluapkan amarahnya tanpa mempedulikan nasehat anak yang lain, yang memintanya masuk. "Kamu memang sama persis dengan Papah kamu. Bahkan Papah kamu, meskipun sudah tahu alamat keberadaan Rianti, dia sama sekali tidak ada keinginan untuk menjenguknya."
__ADS_1
Deg!
Rianti terkesiap, mendengar ucapan dari mulut wanita yang telah melahirkannya membuat hati Rianti merasa ada yang sakit. Matanya sontak memandang pria yang sedari tadi memilih memalingkan tetapannya sejak dia datang. Entah kenapa pria yang dipanggilnya Papah hanya sekilas memandang anak yang tiga tahun telah menghilang dari hidupnya. Rianti tidak tahu kenapa Papahnya seperti itu.
"Nggak apa apa, Mah," ucap Rianti dengan pelan dan suara yang sedikit bergetar. Wanita itu sedang bersikap tegar meski sebenarnya dia sangat kecewa dengan apa yang baru dia dengar. "Yang penting Mamah dan Papah tetap sehat, Rianti sudah seneng. Ya udah, Mah, Rianti pamit ya?"
"Pamit?" sang Mamah begitu terkejut. Rasa terkejut itu juga terlihat dari wajah Dandi yang sedari tadi terdiam dan juga keluarga Rianti yanng lainnya. "Kenapa buru buru sekali, Nak? Kamu nggak pengin kembali ke rumah ini? Kamu nggak kangen sama Mamah?"
"Tapi, Nak?" Mamahnya Rianti kini terlihat sedih. Belum juga lama bertemu dengan anak perempuannya, tapi si anak malah akan pergi lagi.
"Maaf, Mah, nanti kita telfonan aja ya?" Rianti tetap memaksa untuk segera pergi dari rumah itu. Wanita itu lalu melangkah menghadap pria yang yang sedari tadi terdiam. Dengan dada bergemuruh hebat, Rianti memeluk pria yang sangat dia hormati meski sikapnya dari dulu berbeda.
__ADS_1
"Maafkan Rianti jika sering ngecewain Papah. Maaf, tidak bisa menjadi anak yang bisa dibanggakan. Semoga Papah dan Mamah tetap sehat. Toling jagain Mamah ya, Pah." pria itu tidak merespon. tapi tidak dipungkiri hatinya juga sedih karena sang anak memilih jauh tinggal dari hidupnya. Bahkan sudut mata pria tua itu sampai meneteskan airmatanya beberapa kali.
Rianti melepas pelukannya dan menatap papahnya dengan segala rasa sedihnya. "Saya harap Papah dapat mererstui apapun yang menjadi keputusan saya, ya? Termasuk jika saya menerima Dandi lagi sebagai suami saya, saya harap Papah mengerti dan mau memberi doa restunya."
Pria yang sedari tadi menunduk itu lantas mendongak, menatap anaknya dengan mata yang memerah. "Apa kamu yakin?" suaranya lirih dan bergetar. Tidak ada kemarahan yang dia tunjukkan seperti biasanya. Semua mata yang ada di sana juga terharu melihat pemandangan ayah dan anak yang tidak pernah akur sejak sang anak beranjak dewasa.
Rianti tersenyum lalu mengangguk. "Kalau dia memang jodoh saya, sekuat apapun saya menolak, nyatanya Tuhan masih teerus mendekatkan Dandi kepada Rianti, Pah."
Pria tua itu meliirik ke pria muda yang namanya baru saja disebut oleh mulut anak perempuannya, lalu dia kembali menatap anaknya. "Kalau itu sudah keputusan kamu, Papah bisa apa, Nak. Baiklah, Papah merestui kalian. Papah minta maaf," laki laki itu langsung memeluk anaknya.
...@@@@@...
__ADS_1