
"Saya sangat tahu, Om, perbuatan saya ke Eliza dulu sangat fatal. Tapi saya benar benar serius ingin menikahi Eliza, Om," ucap Randi dengan segala ketenangan yang dia miliki. "Karena saya benar benar ingin melindungi Eliza, Om."
"Melindungi dalam hal apa, hah!" seru ayahnya Eliza dengan suara yang lantang dan maasih penuh dengan amarah yang cukup membara. mungkin karena usia sudah tua, jadi sebesar apapun amarahnya, ayahnya Eliza masih mampu mengendalikannya. "Bukankah penjahatnya itu kamu sendiri?"
"Melindungi dari orang orang yang ingin berbuat jahat pada Eliza, Om," jawab Randi tegas. Pria muda itu tidak peduli dengan sindiran yang dilontarkan ayahnya Eliza. "Di kampung sana, Eliza bahkan dua kali, hampir dinodai oleh dua orang yang berbeda, Om."
"Apa! dinodai?" pekik Ibunya Eliza. Wanita yang matanya memerah dengan beberapa tetes airmata yang telah mengalir, terlihat begitu terkejut dengan apa yang disampaikan oleh pria muda di hadapanya. "Bagaimana bisa Eliza hendak dinodai?"
"Mamah jangan percaya beegitu saja dengan pemuda ini. Dia tukang fitnah, mungkin saja berita yang dia sampaikan salah satunya adalah kebohongan yang sudah dia rencanakan," ucap Ayahnya Eliza dengan menunjukan senyum sinisnya.
Randi tersenyum getir. Dia sangat memaklumi dengan sikap tidak percaya yang di tunjukkan oleh orang tuanya Eliza. "Mungkin, Om bisa menanyakan kebenarannya lewat salah satu saudara, Om. beliau yang sangat tahu kejadian yang menimpa Eliza, Om."
"Saudaraku? Saudaraku yang mana?" tanya ayahnya Eliza dengan wajah sedikit terkejut.
__ADS_1
"Paman Iksan, Om."
"Apa!" lagi lagi rasa terkejut itu ditunjukan oleh ibunya Eliza. Begitu juga dengan sang suami. "Jadi selama ini benar, Eliza tinggal di rumah Iksan?"
"Benar, Tante. Di sana dia merasa sangat bahagia. Apa lagi tiap pagi dan sore, Eliza ikut jualan. Anak Tante menjadi anak yang mandiri. Tapi sayang karena terlalu banyak yang menyukai anak Tante, ada yang ingin berbuat jahat. Tiap malam, aku sendiri yang nganter pulang Eliza, karena kebetulan tempat usaha Eliza dan tempat usahaku yang baru, letaknya berhadapan, Tante."
Ibunya Eliza sontak terdiam dengan air mata yang mengalir deras. Sedangkan ayahnya juga ikut terdiam. Tidak lagi ada kemarahan meski jelas sekali, dimata pria itu, masih ada emosi yang dia tahan. Mungkin pria itu cukup terkejut karena semua yang dikatakan Randi berdasarkan bukti yang kuat.
Sementara itu, ketegangan masih terlihat jelas di rumah orang tuanya Rianti. Mereka beberapa kali terkejut dengan berita yang diceritakan Dandi tentang keaadaan Rianti dan juga hal apa saja yang dialami wanita itu.
"Rianti dapat teror? Teror bagaimana?" tanya Ibunya Rianti meminta Dandi untuk menjelaskan semuanya. Sedangkan sang ayah terdiam, meskipun pria itu juga penasaran dengan yang terjadi pada putrinya.
Sebelum menjelaskan, Dandi pun mengulas senyum sebagai cara untuk menutupi kegugupan dalam benaknya. "Semua diawali karena masalah pria, Tante. Intinya ada cewek yang tidak suka pada Rianti karena laki laki yang disukai si peneror, lebih menyukai Rianti. Bahkan tiga penjahat yang hampir menodai Rianti juga ada hubungannya dengan si peneror itu, Tante."
__ADS_1
Air mata ibunya Rianti keluar semakin deras. Wanita itu tidak bisa membayangkan bagaimana rasa takut putrinya menghadapi situasi semcam itu. Sedangkan Ayahnya Rianti juga masih terdiam. Entah apa yang dipikirkan orang tua itu saat ini.
"Kalau sudah tahu akan mengalami hal buruk kayak gitu, kenapa Rianti tidak langsung pulang saja? Malah lebih memilih berlindung kepada laki laki yang sudah membuatnya malu," setelah diam beberapa saat, akhirnya ayahnya Eliza kembali mengeluaarkan suara bernada kecaman.
Dandi pun tersenyum masam. Selain sabar, tidak ada cara lain untuk menghadapi amarah dari pria tua dihadapannya. "Karena Rianti sudah terlalu nyaman hidup di kampung sendirian, Om. Di sana, dia merasa tenang, karena tidak mendengar kemarahan Om yang selalu membandingkan Rianti dengan kakak kakaknya."
"Apa maksudmu, hah!" tanya Ayahnya Rianti lantang dengan wajah kembali dibuat terkejut dengan ucapan anak muda di hadapannya.
"Rianti sudah berkali kali dibujuk pulang oleh sahabatnya, Om. Tapi dia tidak mau karena Rianti merasa, Rianti tidak lebih berharga daripada ketiga putra Om. Rianti sering Om banding bandingkan. Apa lagi sejak kejadian pernikahannya yang gagal, Rianti semakin tidak tahan dengan ucapan yang Om keluarkan."
Deg!
...@@@@@...
__ADS_1