
Rianti dan Tiwi seketika saling pandang setelah mendengar apa yang dikatakan pria yang saat ini sedang menuruni tangga yang tadi Rianti pinjam dari toko bahan bangunan yang ada di seberang jalan. Yang pinjam memang Rianti, tapi yang mengangkatnya tetap Dandi.
Sandi memindahkan tangga itu ke sisi toko yang lain tapi menghadap ke dalam toko. Sedangkan kamera yang sudah terpasang, menghadap halaman toko dan sebagian jalan raya. Dua wanita itu hanya memperhatikan sekaligus mengerjakaan pekerjaannya masing masing. Untuk saat ini kedua wanita itu hanya membicarakan tentang barang dagangan saja.
"Oh iya, Ri, kemarin katanya Romi datang kesini?" tanya Tiwi yang saat ini sedang membantu mengupas beberapa mangga yang sudah terlalu matang untuk dijadikan jus. Jika tidak segera diolah, mangga mangga itu pasti besok atau lusa akan membusuk. "Apa dia kembali nembak kamu?"
Rianti mengangguk dengan tangan yang sedang memotong dan memeras beberapa jeruk yang sudah terlalu matang juga untuk dijadikan jus. "Heran aku sama itu cowok, udah aku tolak, kok ya masih saja datang kesini."
"Namanya juga cinta," ledek Tiwi. "Eh, apa mungkin orang yang neror kamu ada hubungannya dengan Romi? secara dia kan anak orang kaya, pasti banyak cewek yang ngincer kan?"
Rianti mengangkat kedua bahunya. "Kalau soal itu aku sendiri nggak mau nuduh. Tapi jika diperhatikan, aku itu mulai mendapat teror begitu Romi sering main ke toko ini loh, Wi."
Kening Tiwi sontak berkerut sembari memikirkan tentang apa yang baru saja Rianti katakan. "Benar juga," ucap Tiwi tak lama kemudian. "Jangan jangan yang neror kamu, memang ada hubungannya dengan Romi."
__ADS_1
"Nah itu dia, aku juga curiganya ke sana. Dia sengaja neror dengan cara ngusir aku agar seolah olah si pemilik toko ini yang menginginkan aku untuk pergi."
"Loh, emang tadi bahasa terornya masih sama?"
"Ya beda sih, tapi tetap, dia seperti memberi isyarat kalau pemilik toko inilah yang menerorku. Heran aku tuh, demi cowok aja, sampai pada kayak gitu."
"Hahaha ... nasibmu apes, Ri. dulu udah mau nikah malah ditinggal dengan berbagai drama penuh kepengecutan. Eh sekarang. sekalinya ada cowok yang mendekai, malah dapat teror."
Dandi yang diam diam mendengarkan obrolan dua wanita itu, tentu saja kembali dibuat tersinggung dengan ucapan Tiwi yang jelas sekali sedang menyindirnya. Namun disaat bersamaan, Dandi juga merasa kasihan dengan nasib yang menimpa Rianti. Meski saat ini Dandi tidak bisa berbuat apa apa, tapi pria itu sudah memiliki niat untuk berubah dan mendapatkan kepercayaaan Rianti kembali.
Di saat Randi sedang asyik menikmati kesendirian, pria itu sayup sayup mendengar suara seseorang menggedor gerbang warung makannya. Gerbang yang terbuat dari baja ringan itu, tentu saja sangat menggema jika digedor dengan sangat keras. Randi langsung turun dan memilih menemui orang itu lewat pintu samping.
"Paman!" pekik Randi begitu matanya menangkap sosok pria yang baru dia kenal beberapa harri ini sejak mengantar wanita incarannya. Dialah Iksan, Pamannya Eliza. "Masuk lewat samping aja, Paman. Kebetulan hari ini kami lagi libur jualan."
__ADS_1
Pria itu hanya mengangguk lalu mengikuti langkah Randi memasuki warung makannya. Mata paman Iksan langsung mengedar ke sekitar ruangan itu. Randi dengan sopan meminta pria itu duduk setelah pemuda itu menyalakan lampu agar ruangannya lebih terang.
"Kenapa libur jualan, bukankah katanya warung makan ini sangat rame?" tanya Paman Iksan setelah duduk di salah satu kursi.
"Ya pengin istirahat aja, Paman," jawab Randi sambil menyeduh kopi instan untuk tamunya. "Kita kan hampir satu bulan nggak pernah libur, Paman. Jadi hari ini kita memutuskan untuk libur buat nyegerin badan dan pikiran."
Paman Iksan nampak menggut manggut sebagai tanda mengerti kalau alsan Randi memang terlihat cukup masuk akal. "Lalu, mana temanmu? Katanya kamu di sini tidak sendirian?"
Randi sontak tersenyum sembari melangkah mendekat ke tempat Paman Iksan dan menaruh segelas kopi di atas meja, di hadapan pria paruh baya tersebut. "Dua temanku sedang pergi, Paman. Mereka ada urusan masing masing."
"Kamu kenapa nggak pergi?" tanya Paman Iksan yang langsung menyeruput sedikit kopinya.
"Aku nggak ada urusan yang harus dilakukan, Paman, jadi aku dirumah aja," jawab Randi jujur. "Gimana dengan kasus yang menimpa Eliza, Paman? Apa Paman sudah mengambil tindakan?"
__ADS_1
"Ya sudah, maka itu Paman datang kesini, Paman mau minta bantuan sama kamu."
...@@@@@...