
Jam yang melingkar di pergelangan tangan Dandi baru menunjukan pukul enam pagi lebih dua puluh menit. Pria yang usianya sudah hampir menyentuh angka dua puluh delapan itu, masih duduk berdampingan dengan seorang wanita yang sedang dilanda rasa takut. Randi tidak menyangka jika wanita yang dulu pernah sangat dia sakiti, bisa mengalami kejadian mengerikan seperti itu.
Sebuah kado berisi ancaman kini sudah teronggok di tempat sampah. Dandi sungguh tak menyangka jika Rianti sudah menerima teror berupa ancaman berkali kali. Tapi sayang, beberapa kali menerima teror itu, Rianti tidak tahu alasan wanita itu mendapat teror. Ancaman teror itu lebih kepada sebuah pengusiran.
"Apa pemilik toko ini ada masalah dengan kamu?" pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Dandi setelah keduanya larut dalam diam. Teror itu berisi tentang Rianti yang diminta segera meninggalkan kios buahnya.
"Tidak," bantah Rianti. "Aku yakin ini hanya perbuatan orang lain yang akan mengadu domba aku dan pemilik toko ini."
"Loh, tapi kok bunyi ancamannya seperti itu?"
"Mungkin saja orang yang menerorku ingin aku berselisih paham dengan pemilik toko. Aku sebelumnya sudah mengkonfirmasi sama mereka dan semuanya baik baik saja. Mereka bahkan sangat terkejut saat tahu akan teror ini."
Dandi kembali mengedarkan pandangannya me toko yang terbuka pada bagian pintunya saja. "Bagaimana kalau toko kamu dipasang cctv. Siapa tahu orang yang meneror kamu nanti ketahuan."
__ADS_1
Rianti menatap tokonya dan menelisik arah pojokan atap toko yang dijadikaan tempat tinggal juga. "Apa harus?"
"Ya paling nggak kamu nanti tahu orang yang sudah meneror kamu. Aku yakin, dia bisa seenak itu neror kamu karena merasa aman."
"Ya sudah nanti aku coba cerita sama Mas Agus. Kali aja dia tahu toko yang sedia kamera cctv."
"Kenapa harus suami orang lain yang kamu mintain tolong?" Dandi sedikit protes. "Nanti biar aku aja yang nyari."
Mendengar ucapan Dandi seketika Rianti menoleh dan menatap Dandi dengan tatapan menyelidik. "Jangan berbuat baik sama aku jika pada ujungnya ada rencana besar yang sudah kamu siapkan untuk menghancurkan aku kembali."
"Jika orang lain, aku percaya bisa berubah, tapi entah dengan kamu. Dari sisi mana aku bisa percaya kalau kamu bisa berubah?" ucapan Rianti benar benar terdengar menohok di telinga dan perasaan Dandi. Jika bukan karena sedang berjuang, mungkin Dandi sudah habis rasa sabarnya. Tapi pria itu memang harus bisa bersabar lebih lama lagi agar bisa membuat kepercayaan Rianti kembali hadir.
"Terserah kamu lah, yang pasti nanti biar aku yang beli kameranya. Jangan terlalu merepotkan suami orang lain meski dia adalah sahabat kamu sendiri. Kamu tahu kan, jalan perselingkuhan itu bisa datang darimana aja? jangan sampai hubungan yang baik menjadi rusak nantinya."
__ADS_1
Rianti kembali menoleh dan menatap Dandi dengan kening yang berkerut. Tapi itu hanya sebentar, selebihnya wanita itu malah memandang ke arah lain. "Aku tahu. Bahkan hubungan baikku dengan keluarga juga rusak gara gara perbuatan seseorang yang di sengaja."
Lagi lagi Dandi kembali tertohok. Sebijak apapun ucapan yang keluar dari mulut Dandi, Rianti akan dengan sangat mudah mengembalikan ucapannya dan seakan menyuruh Dandi untuk bercermin. "Perasaan ucapanku selalu salah ya?" keluh Dandi dan tanpa sadar Rianti menipiskan senyumnya. "Dahlah aku pulang dulu, nanti siang aku kesini lagi. Kamu jangan buat jus untuk warungku, karena hari ini aku libur."
Rianti tidak bereaksi. Bahkan wanita itu hanya menatap sekilas kepergian Dandi lalu dia bangkit dan melangkah masuk ke dalam tokonya. "Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan, Dan?" gumam Rianti begitu sudah berada di dalam toko.
Sementara itu tak jauh dari keberadaan Rianti. Ada seseorang yang mengulas senyum penuh dengan kelicikan. Orang itu sedari tadi memperhatikan Rianti dari seberang jalan. Kehadiran Dandi di sana, membuat orang itu bertanya tanya, siapa pria itu? Dan ada hubungan apa dengan Rianti?
"Sudah puas kan? Ngerjain pedagang buah itu?" seseorang yang sedari teersenyum sembari menatap Rianti langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Belum lah, aku nggak akan diam kalau wanita itu masih berada di sini," balas orang itu.
"Loh, dia nggak salah apa apa sama kamu, kok kamu sampai segitunya gangguin hidup dia?"
__ADS_1
"Nggak salah kata kamu! Justru gara gara wanita itu, aku jadi kehilangan kesempatan untuk mendekati Mas Romi. Kamu lihat kan dia kemarin seharian di toko itu! Pokoknya aku nggak akan berhenti gangguin wanita itu!"
...@@@@@...