
"Kau!" tunjuk sang Paman dengan tatapan tajam kepada Randi. "Kamu masih berani mendekati Eliza!"
Randi terkesiap seketika tapi dia juga tidak membantah ucapan Paman Eliza karena pada kenyataannya Randi memang sudah bertekad akan terus mengejar dari keponakan pria galak itu. Tadi aku hanya berniat mengantar Eliza, Paman," Randi hanya bisa bersikap ramah.
"Kenapa kamu mau diantar oleh pria sialan ini!" kini bentakan dan tudingan sang paman tertuju pada Eliza.
"Udah sih, Pak, orang lagi dapat musibah malah main marah sagala. Yang harusnya dimarahin itu tiga orang ini," ucapan Anto seakan menjadi penyelamat Randi saat itu juga. Sang Paman langsung mendengus sebal dan melayangkan tatapan tajam pada tiga pria yang terduduk sambil menunduk.
"Buka helm mereka, To! Bapak pengin tahu, siapa yang berani mengusik keponakan Bapak," titah sang paman.
"Ini juga sedang diusahakan, Pak. Mereka sangat ngeyel, nggak mau buka helm," jawab Anto. Randi seketika langsung membantu Anto dengan menahan dua tangan salah satu pria itu agar memudahkan Anto melepas helm mereka dengan paksa.
"Loh, Dede!" pekik Anto begitu melihat wajah si pemakai helm. "Kamu ngapain ganggu sepupuku, Hah!" Anto seketika naik pitam saat mengenali salah satu dari ketiga pria itu.
"Buka semua dulu helm mereka, To! Kali aja kamu kenal semuanya!" titah Paman lagi. Tanpa penolakan, Anto dan Randi saling membantu satu sama lain dan lagi lagi Anto dibuat terkejut saat melihat satu persatu wajah pria yang akan menyakiti sepupunya.
"Kalian apa apaan hah! Berani beraninya gangguin sepupuku! Sialan!" dengan penuh emosi Anto langung menendang salah satu dari mereka hingga terjungkal ke belakang.
__ADS_1
"Jangan main hakim sendiri, Anto!" teriak Paman Iksan dengan lantang. "Kamu kenal sama mereka semua?"
"Kenal banget lah, Pak. anak anak kampung sebelah," balas Anto dengan segala emosi yang kini membumbung tinggi. "Apa yang kalian rencanakan pada sepupuku, Hah!"
"Maaf, To, kami hanya dimintai tolong," jawab salah satu dari mereka, kini mulai mengakuinya. Tentu saja mendengar pengakuan mereka, Paman dan yang lainnya merasa terkejut mendengarnya.
"Disuruh siapa?" Anto masih bertanya dengan lantang.
"Kami hanya ingin membantu Rudi, To," jawaban mereka tentu saja semakin membuat Paman, Anto dan Eliza terkejut. Mereka sangat mengenal dengan sosok yang bernama Rudi itu.
"Rudi! Kamu yakin?" kini sang Paman yang mengeluarkan interogasinya.
Keempat orang yang mendengar pengakuan mereka tentu saja sangat tercengang. "Jadi maksud kamu agar Rudi dianggap pahlawan gitu?" tanya Randi, dan pria yang tadi memberi keterangan langsung mengangguk. "Hahaha ... konyol sekali."
Paman Iksan juga nampak menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Paman heran sama kamu, Za, kenapa kamu selalu berhadapan dengan cowok pengecut sih?"
Bukan maksud menyindir, tapi ucapan sang Paman sukses membuat Randi tersenyum kecut karena merasa tersindir. Sedangkan Eliza juga tersenyum canggung tanpa ingin membalas ucapan Paman. Wanita itu masih tidak menyangka kalau pria yang tadi mengajaknya makan bersama, malah tega melakukan sandiwara seperti itu.
__ADS_1
"Iya ya, Pak, laki lakinya nggak ada yang beres," ucapan Anto malah semakin membuat Randi salah tingkah sendiri. "Enaknya diapain tuh, Pak, mereka bertiga? Apa laporin aja ke polisi"
"Waduh, Jangan dong, To," salah satu dari mereka langsung memberi permohonan, disusul oleh dua temannya. "Jangan laporkan kami ke polisi. Serius, kami tidak ada niat jahat kok, sumpah!"
"Iya, To, kami hanya menakut nakuti wanita itu saja. Kami melakukan kayak gini karena Rudi katanya akan membayar kami. Kamu tahu kan kalau kami lagi nganggur."
"Meskipun hanya pura pura, tindakan kalian itu sudah termasuk kejahatan! Kalian benar benar merencanakan dengan matang. Bahkan kalian tahu jam berapa Eliza pulang dan juga jalan pulangnya. Untung malam ini Eliza nggak naik ojeg."
"Maaf, To, kami tahu kami salah, tapi tolong, jangan bawa kami ke kantor polisi."
Anto tidak menanggapi rengekan mereka. Pemuda itu malah menatap Paman Iksan dan Eliza seperti sedang meminta pendapat, tindakan apa yang harus dia ambil saat ini. Randi yang memahami situasi yang terjadi di hadapannya, sontak ikut berpikir mencari jalan keluar. Sampai tak lama kemudian, mata Randi terlihat berbinar dan sepertinya dia menemukan sebuah ide bagus.
"Aku ada ide, Paman?" seru Randi agak keras hingga suaranya mengejutkan keheningan yang tercipta beberapa saat tadi.
"Ide apaan? Jangan yang aneh aneh kayak dulu," Lagi lagi Paman Iksan mengeluarkan sindiran.
"Ya nggak paman," ucap Randi sedikit menggerutu karena kembali mendapat sindiran. " Gini ide aku ..."
__ADS_1
...@@@@@@...