
"Bu," suara seorang wanita begitu lirih memanggil wanita yang lebih tua di hadapannya. Airmata wanita itu tidak bisa dibendung begitu wanita tua yang dipanggilnya Ibu muncul di hadapannya. Wanita yang sangat dia rindukan setelah dirinya pergi tanpa kabar sejak terjadi peristiwa yang membuat keluarganya malu.
"Arimbi," suara sang ibu juga tidak kalah pelan dan diiringi getaran. Tangis wanita tua itu pecah begitu anak perempuan yang telah lama hilang dari hidupnya, kini berada di depan mata. Tidak menunggu waktu lama, kedua wanita yang saling merindukan itu saling berpeluk dengan segala rasa yang menyergap benak mereka.
Suasana haru seketika menyelimuti teras rumah orang tuanya Arimbi. Tidak banyak suara yang terlontar dari mulut mereka. Yang ada hanya ada isak tangis yang keluar dari mulut para wanita. Sedangkan para pria juga menitikkan air mata tapi tidak disertai dengan tangisan yang menyayat.
"Kamu kemana aja, Nak? Kenapa baru pulang? Kenapa meninggalkan ibu, hmm?" cecar sang ibu bersamaan dengan isak tangis dan tangan yang tidak kunjung lepas dari tubuh anaknya.
"Maafkan Arimbi, Bu," cuma itu yang bisa Arimbi katakan untuk saat ini. Semua kata yang telah dia rangkai, langsung hilang dalam pikirannya karena pertemuan ini. Arimbi melepas pelukan sang ibu dan dia satu persatu memeluk suadaranya dengan diirngi permintaan maaf dan isak tangis juga.
"Ayah, maafin Arimbi," ucap wanita satu anak itu kepada pria yang berdiri di hadapannya. Mereka saling tatap dengan airmata yang sama sama mengalir.
Ayah menyeka air matanya. "Masuklah, kita bicara di dalam." Sang ayah langsung berbalik badan dan berjalan terlebih dahulu di susul yang lainnya.
"Ayah, Ibu kenapa? Kok nangis?" tanya Reyhan yang saat itu sedang dalam gendongan Sandii.
"Ini anaknya kalian?' tanya kakaknya Arimbi.
__ADS_1
"Iya, Mbak," jawab Sandi ramah.
Kakaknya Arimbi lantas tersenyum dan mengusap lembut pipi anak itu. "menggemaskan," ucapnya. "Masuklah, San, kita bicara di dalam."
"Baik, Mbak," Sandi mengikuti langkah kaki keluarga Arimbi, masuk dan duduk di ruang tamu.
Sementara itu di tempat lain, suasana haru, saat ini juga menyelimuti beberapa hati yang ada di teras rumah. Ibu dan anak yang telah berpisah selama beberapa tahun, kini kembali dipertemukan setelah sekian lama tidak saling memberi kabar. Sedangkan di sana ada lelaki yang bersikap tenang meski keluarga dari wanita yang dia antar pulang menatapnya dengan sinis.
"Kamu kenapa pergi nggak ngajak ngajak Mamah sih, Sayang? Kamu nggak sayang lagi sama Mamah?" cerca wanita paru baya ketika anak yang dilahirkannya kini berada di dalam pelukan. "Harusnya kamu ngajak Mamah, atau memberi tahu Mamah kamu berada di rumah Paman kamu."
"Maafkan Eliza, Mah," cuma itu yang mampu Eliza katakan saat ini. Airmatanya benar benar tumpah sebagai tanda kalau dia sangat bahagia masih bisa bertemu dengan Mamahhnya dalam keadaan sehat.
"Tidak, bang," bantah Eliza. "Justru aku yang melarang Paman untuk memberi kabar."
"Kenapa?"
Eliza melepaskan pelukannya dan mengedarkan pandangannya ke arah sang kakak yang bediri di dekat ayahnya. "Karena aku tidak mau Papah ngirim orang untuk memaksa aku pulang jika Papah tahu aku berada di rumah Paman Iksan."
__ADS_1
Deg!
Semua yang menderngar ucapan Eliza langsung menunjukkan wajah terkejutnya.
Hampir sama yang terjadi dengan Arimbi dan Eliza, suasana haru juga saat ini sangat terasa di depan rumah Rianti. Wanita itu sedang menumpahkan segala rasa rindu yang dia pendam selama ini kepada wanita yang telah melahirkannya. Satu satunya wanita yang mengerti keadaan dan isi hatinya. Sedangkan pria yang mengantar Rianti pulang, saat ini terlihat bersikap tenang meski saudara suadara Rianti menatapnya dengan penuh kebencian.
"Kamu masih berani, menampakkan wajah kamu di depan keluarga wanita yang pernah kamu permalukan?" tanya Kakaknya Rianti dengan tatapan yang begitu sinis.
"Jangan seperti itu!" hardik Mamahnya Rianti setelah segala rasa rindu dan beban dalam benaknya dia curahkan kepada anaknya. Wanita itu melepas pelukannya dan menatap anaknya yang tadi berbicara. "Setidaknya saat ini, Dandi benar benar melindungi adik kamu."
"Mamah percaya kalau dia beneran melindungi Rianti?" kakak Rianti terlihat tidak terima dengan sikap mamahnya yang membela Dandi. "Bisa saja kan, ini hanya akal akalan Dandi aja seperti dulu."
"Sifat kamu ternyata seperti ayahmu, tidak pernah senang melihat Rianti bahagia," Mamah Rianti malah terlihat kesal.
"Loh, apa hubungannya?" sang anak malah terkejut dengan ucapan Mamahnya.
"Tanya aja sama Papah kamu, kenapa di saat tahu kabar dari Mirna kalau Rianti baik baik saja, Papah kamu enggan menjenguk Rianti?"
__ADS_1
Rianti yang mendengarnya sontak hatinya seperti ada yang mencubit. Sakit.
...@@@@@...