
Begitu mendengar semua yang dikatakan Dandi, ayahnya Rianti langsung terbungkam dengan mata yang menatap tajam kepada anak muda itu. Mungkin karena apa yang dikatakan Dandi adalah sebuah kebenaran, membuat ayahnya Rianti tidak langsung menyangkal semua keluhan putrinya yang selama ini tidak dia ketahui.
Sedangkan Ibunya Rianti sendiri tangisannya semakin deras. Mungkin wanita itu juga tahu perasaan putrinya yang terpendam. Sebagai seorang Ibu, sudah pasti dia sangat tahu apa yang dirasakan putrinya. Mungkin ini juga yang menjadi penyebab kalau ibunya Rianti sering berada di dalam kamar yang dulu sering dipakai putrinya untuk istirahat.
"Rianti sampai ngomong seperti itu?" tanya Ibunya Rianti dengan suara bergetar.
"Benar, Tante," jawab Dandi dengan yakin. "Awalnya aku juga kaget dan hampir tidak percaya dengan apa yang aku dengar, saat sahabat Rianti menceritakan hal itu. Tapi aku baru sangat percaya, saat Rianti mengatakan hal itu kepada saya. Rianti juga awalnya tidak ingin ikut pulang ke kota, Tante, tapi aku terus membujuknya dan akhirnya dia mau."
Dandi mengatakan semuanya dengan sangat tenang. Dandi tidak memberi tahu kapan Rianti menceritakan beban dalam hatinya kepada orang tua Ranti. Jika Dandi memberi tahu, bisa saja hal itu akan kembali membangkitkan amarah orang tuanya. Dandi mengetahui itu semua karena memang Rianti menceritakan hal itu saat Dandi bermalam di tempat Rianti kembali.
__ADS_1
"Tapi kenapa Rianti tidak langsung ikut pulang ke rumah?" tanya Ibunya Rianti lagi.
"Mungkin karena hal itu, Tante, yang tadi saya ceritakan. Rianti belum siap dengan ucapan yang nantinya akan membuat dia menyesal memilih keputusan untuk ikut saya pulang. Sepertinya, Rianti hanya ingin membuktikan kalau dia bisa mandiri, bukan hanya gadis yang bisa menghabiskan uang orang tuanya," ucapan Dandi terdengar cukup menohok bagi yang mendengarnya, terutama ayahnya Rianti.
"Bukankah beberpa waktu yang lalu, Mbak Mirna datang ke tokonya Rianti, Tante? Apa dia nggak cerita tentang keadaan Rianti disana kepada Om dan Tante?" kembali Dandi mengeluarkan suaranya. Dandi cukup penasaran, karena kata Rianti, Mirna itu tetangga yang sudah sangat dekat dengan keluarganya, jadi Rianti yakin kalau Mbak Mirna dan suaminya pasti sudah memberi kabar tentang keberadaan Rianti.
"Yah, Mirna memang sudah memberi tahu saya. Tapi entah seberapa besar dosa Rianti kepada Papahnya, sampai Papahnya tidak mau diajak menjenguk anaknya sendiri," balas Ibunya Rianti semakin tersedu dan ucapannya cukup membuat Dandi terkejut. Ternyata benar dugaan Rianti, pasti kabar yang dibawa oleh Mirna tidak berpengaruh apa apa pada ayahnya.
"Nyatanya benar kan, Pah? Mamah beberapa kali mengajak papah untuk menjenguk Rianti, tapi Papah menolaknya. Apa alasannya, Pah?" tanya Ibunya Rianti dengan mata menatap suaminya. Airmatanya sudah membanjir tapi tidak bisa menutupi amarah yang ingin dia luapkan.
__ADS_1
Melihat situasi sepperti itu, Dandi pun menjadi tidak enak hati. "Baiklah Om, Tante, maaf jika kedatangan saya menganggu. Saya hanya ingin menyampaikan kalau saya siap menikahi putri Om dan Tante. Saya harap Om dan Tante sudi memberi restu kepada saya. Cuma itu, Om, tante." setelah itu, Dandi lantas memilih segera pamit. Ibunya Rianti pun mempersilahkan pria muda itu.
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di rumah Arimbi, suasana sudah lebih tenang daripada sebelumnya. Meski masih ada kemarahan dalam wajah ayahnya Arimbi, tapi pria itu mampu mengolah amarahnya agar bisa dikendalikan. Apa lagi di sana ada Reyhan yang membuat orang tua Arimbi merasakan kesedihan juga.
Mendengar dari mulut Sandi kalau alasan Arimbi tidak ikut pulang ke rumah karena alasan masih takut, membuat orang tua Arimbi merasa sedih dan cukup syok. Sebegitu takutnya Arimbi kepada mereka sampai dia pulang ke kota harus tinggal di rumah pria yang telah membuat hidup Arimbi hancur.
"Ayah, pulang," rengek anak kecil yang sedari tadi lebih banyak diam dan memperhatikan manusia dewasa sedang berbicara. Nampaknya Reyhan sudah tidak betah berada di rumah eyangnya sendiri. Wajar jika Reyhan merasa asing, karena ini pertama kalinya anak itu bertemu dengan orang tuanya Arimbi.
"Reyhan ngantuk?" tanya Sandi dengan lembut, dan Reyhan pun mengangguk sambil mengencangkan pelukannya pada leher ayahnya. "Ya udah yuk, kita pulang." Setelah berkata demikian, Sandi langsung menatap orang tau Arimbi yang ternyata juga sedang memperhatikan Reyhan.
__ADS_1
"Maaf, Om, Tante, cuma itu yang bisa saya sampaikan. Semoga Om dan Tante mau merestui niat saya untuk menikahi Arimbi. Kalau begitu Saya permisi dulu, Om," Pamit Sandi, dan setelah dpersilahkan, pria itu pulang dengan hati yang cukup tenang.
...@@@@@...