TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Lega


__ADS_3

"Terus nanti saat di kampung, kamu juga akan tinggal bareng Randi juga, Za?" tanya seorang kakak kepada sang adik setelah pertemuan mereka kembali sejak tiga tahun tidak bertemu. Pertanyaan yang terlontar itu cukup mengejutkan, sampai beberapa orang yang ada di ruang tamu terdiam untuk beberapa saat, menunggu jawaban yang keluar dari mulut Eliza.


"Ya tergantung, Mas," bukan Eliza yang menjawab, tapi Randi. Semua mata langsung tertuju pada pria yang sedari tadi lebih banyak diam karena fokus memperhatikan interaksi Eliza yang baru bertemu dengan keluargantya kembali. "Kalau keluarga Eliza merestui kami untuk menikah ya, kita bakalan tinggal bareng setelah menikah nanti."


"Menikah? Emang kamu serius?" tanya kakak Eliza lagi.


Randi lantas tersenyum dengan sumringah. "Kalau tidak serius, mungkin malam ini aku tidak berada di sini, Mas, Dari dulu aku memang sudah menyukai Eliza. Cuma dulu caraku salah sampai harus menfitnahnya dengan kejam."


"Ya, aku tahu. Bahkan aku sangat ingin menghajarmu saat ini juga," balas kakak Eliza yang lain. "Tapi perbuatan buruk kamu ada hikmahnya juga. Selain Eliza terhindar dari tukang selingkuh, ada kemungkinan tali silaturahmi keluarga Papah dengan keluarga Paman Iksan akan terjalin kembali."


"Nggak bakalan," Mamah langsung memotong ucapan anaknya sambil melirik suaminya yang sedari tadi lebih banyak diam. "Selama salah satunya masih ada yang menahan egonya ya, nggak bakalan keluarga kita bersatu lagi."

__ADS_1


"Terus kalau kalian menikah, kalian akan merayakannya disini apa di kampung?" tanya kakaknya Eliza lagi agar Mamahnya tidak terus memojokkan sang Papah, dan tidak terjadi perbedatan antar keluarga, karena saat ini di rumah itu sedang kedatangan tamu.


"Ya jangan tanya seperti itu dulu dong," protes kakak yang lain. "KIta kan belum dengar dari mulut Eliza kalau dia mau menikah dengan Randi atau tidak? Lagian Papah juga belum bersuara dan mengatakan restunya."


"Ah iya," seru kakak pertama dengan sedikit terperangah lalu dia menatap adik perempuannya yang duduk berdampingan dengan Mamah. "Memang kamu serius mau menikah dengan Randi dan memaafkan perbuatannya di masa lalu, Za?"


Eliza tidak langsung menjawab. Sejenak matanya mengedar dan menatap semua orang yang ada disana sambil pikirannya terus bekerja mencari jawaban yang tepat. "Terlepas dari perbuatan Randi di masa lalu, aku sudah memaafkannya, dan mungkin entah ini takdir atau bukan, saya mau menerima lamaran dia, Bang."


"Kalau itu keputusan kamu ya sudah, Abang tidak bisa melarangnya," ucap Kakak pertama lalu dia menatap pria tua yang sedari tadi lebih banyak diam. "Menurut Papah gimana? Papah mau menerima lamaran Randi untuk Eliza nggak?"


Pria yang dipanggil Papah itu agak tersentak begitu dilempar pertanyaan oleh sang anak. Matanya menatap lekat putrinya yang juga sedang menatapnya. Pria itu menghela nafasnya yang terasa berat untuk menetralkam gemuruh di dalam hatinya. "Kalau itu sudah menjadi keputusan Eliza, Papah bisa apa. Lagian usia Eliza sudah bukan usia remaja lagi."

__ADS_1


"Jadi Papah merestui mereka berdua?" tanya sang kakak menegaskan. Sang papah pun mengangguk pelan. Randi terlihat sangat lega dan bahagia, karena perjuangannya selama ini tidak sia sia.


Setelah melakukan kunjungan yang cukup lama, tiga pria itu pulang dengan membawa kabar gembira. Dengan pertimbangan yang cukup matang juga, tiga pria itu pulang tanpa membawa tiga wanitanya. Para wanita sengaja ditinggal di rumah orang tuanya untuk menginap di sana. Biar bagaimanapun mereka perlu waktu lebih lama untuk bersama dengan keluarga masing masing karena mereka sudah berpisah cukup lama.


Suasana hati tiga pria itu berbeda dengan suasana hati seorang pria yang saat ini masih berada di kantornya. Begitu mendengr berita tentang tiga pria mantan sahabatnya, pria yang memiliki dendam itu terlihat sangat marah. Dia sangat tidak terima karena tiga orang itu menjalani hidup yang bahagia dengan para wanita.


"Apa kalian mengenal wajah wajah tiga wanita yang bersama target saya?" tanya pria itu kepada dua orang pria yang saat ini masih duduk di seberang meja kerjanya.


"Tidak," jawab salah satu dari mereka. "Tapi kami sempat mengambil gambar mereka." Pria itu langsung merogoh ponsell yang ada dalam jaketnya. begitu yang di cari telah bertemu. Dia langsung menyerahkan ponsel tersebut kepada orang yang memerintahkan mereka berdua.


"Ini kan?" pria itu terlihat sangat terkejut begitu melihat foto hasil bidikan orang suruhannya. "Jadi mereka kembali bersama wanita wanita itu! Sialan! Aku nggak terima, aku harus bisa memberi pelajaran pada mereka bertiga. Mereka harus bernasib sama sepertiku."

__ADS_1


...@@@@@@@...


__ADS_2