
Plak!
Sebuah tamparan tiba tiba mendarat tepat di pipi wanita penjual bumbu. Semua orang yang melihat kejadian tak terduga itu langsung terperangah dengan mata membelalak, menyaksikan penamparan, termasuk Randi. Bahkan pria itu sampai berdiri dan menatap tajam ke arah orang yang baru melayangkan tamparan ke Eliza.
"Maksud kamu apa? Memperlakukan Rudi seperti itu, hah!" orang yang tadi menampar Eliza langsung mengeluarkan pertanyaan yang membuat Eliza mengerti kenapa dia mendapat tamparan.
"Kamu siapanya Rudi? Pacarnya?" bukannya takut, Eliza malah menunjukkan tatapan menantang kepada wanita yang baru saja meluapkan amarahnya. "Kalau kamu mau Rudi, ambil! Nggak selera aku sama cowok modelan kayak gitu."
"Heh! Jangan kurang ajar kamu ya! Kamu nggak tahu aku siapa?" wanita itu seakan menunjukkan kuasanya agar dia bisa ditakuti.
"Siapapun kamu, aku nggak peduli," Eliza tetap menunjukan sikap menantangnya. Beberapa pedagang termasuk penjual bubur kacang hijau ikut bersuara dengan lirih. Ada yang langsung memberi nasehat, ada juga yang bertanya tanya kenapa wanita itu menampar pedagang bumbu.
__ADS_1
"Dengerin ya semuanya," wanita itu langsung bersuara cukup keras sambil matanya mengedar ke sekitar. "Wanita ini telah merebut calon suami saya!" Mata Eliza tentu saja langsung membulat mendengar tuduhan yang dilonttarkan wanita itu. "Dengan berbagai cara wanita ini merayu tunangan saya tapi saat ini tunangan saya malah hendak dipolisikan oleh cewek tidak tahu diri ini."
Eliza tentu saja sangat malu mendapat tuduhan seperti itu. Apa lagi saat itu juga mata semua orang yang mendengarnya langsung menatap ke arah Eliza dengan tatapan penuh tanya. "Yakin dengan ucapan kamu? Apa kamu ada bukti?" Eliza langsung memberi bantahan tanpa rasa takut. Randi bahkan terperangah melihat sikap Eliza saat ini. Wanita itu sungguh berbeda dari Eliza yang dulu dia kenal.
"Kalau aku nggak ada bukti, ngapain aku kesini?" wanita itu semakin bersikap angkuh dan merasa benar dengan bukti dia miliki. Entah bukti seperti apa tapi hal itu cukup mencengangkan bagi Eliza dan juga Randi.
"Ya udah tunjukan! Tunjukan semua bukti yang kamu miliki! Jangan hanya omong doang! Kalau nggak bisa tunjukan, jangan salahkan aku kalau akhirnya memberi pria pengecut itu pelajaran yang sangat berharga!"
"Heh! Rudi! Jangan jadi pengecut kamu! Cepat datang kesini atau kamu, aku laporkan ke polisi, paham!" ancam Eliza dengan telfon yang sengaja pengeras suaranya diaktifkan. terdengar dari seberang, suara pria yang ketakutan dan langsung menyanggupi perintah Eliza.
"Loh, ini ceritanya gimana sih? Katanya Eliza merebut tunangan kamu, tapi kok malah Eliza mau melaporkan tunanganmu ke polisi?' celetuk salah satu pedagang yang letaknya tidak jauh dari keberadaan Eliza.
__ADS_1
"Iya, aneh bener, ceritanya gimana, sih, El?" pedagang yang lain ikut menimpali. Bahkan suara suara pedagang mulai bersahutan menuntut penjelasan yang lebih dari Eliza.
Eliza sontak saja merasa terpojok. Diapun berpikir keras untuk memberi penjelasan pada orang orang pasar. Biar bagaimanapun Eliza tidak mau namanya kembali buruk dan nantinya dibenci oleh orang orang yang sudah menjadi temannya selama berjualan di pasar itu. "Gini ya. Ibu ibu, kalau kalian mau tahu kenapa aku mengancam tunangan wanita ini!" ucap Eliza dengan jari mengacung kepada wanita yang berdiri angkuh dengan bersilang dada. "Kalian bisa tanyakan apa yang terjadi semalam kepada pria ini!"
Randi yang sedari tadi hanya terdiam dan menyimak langsung terperangah saat jari tangan Eliza menunjuk kepadanya. Bukan hanya Randi yang terkejut, semua orang yang sedang menunggu kejelasan dari Eliza juga terkejut saat Randi ditunjuk sebagai saksi oleh Eliza.
"Apa hubungannya dengan laki laki itu? Kamu mau mencari bukti palsu?" wanita angkuh itu langsung bereaksi dengan kembali membuat tuduhan.
"Mas ini menang pacarnya Mbak El, kok," Ibu penjual bubur kacang hijau yang menjawabnya dan semua yang mendengarnya kembali dibuat terkejut. "Bahkan Mas ini sedari tadi ngeledekin Mbak El dengan romantisnya, ya Mas ya?"
Seketika wajah Randi langsung memerah dan Eliza sendiri menjadi salah tingkah. Suasana yang sedari tadi cukup tegang mendadak berubah lucu karena ucapan Ibu penjual bubur. Berhubung semua orang menunggu penjelasan dari Randi, tanpa membuang buang waktu lagi Randi langsung menceritakan semua kejadian yang di alami Eliza dan dirinya semalam.
__ADS_1
...@@@@@...