
"Ayah, gendong, Reyhan pengin lihat mobil," rengek bocah kecil saat ayahnya hendak masuk ke dalam garasi setelah membuka pintunya lebar lebar. "Ibu turun, Reyhan mau sama Ayah."
"Hih, ni anak, ayah mulu yang direngekin," sungut sang ibu sembari melepaskan anak kecil bernama Reyhan dari gendongannya. Sandi yang meliat keduanya, hanya bisa tersenyum lebar sambil menyambut kedatangan anaknya yang lari ke arahnya.
"Ini mobil Ayah?" tanya Reyhan begitu sudah berada dalam gendongan Sandi.
"Iya, bagus nggak mobil Ayah?" tanya Randi sambil membuka pintu dan memasukan Reyhan kedalamnya. Tak lama setelah itu, Sandi pun ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.
"Bagus. Mobil Ayah gede banget," seru Reyhan dengan mata berkeliling memperhatikan semua yang ada di dalam mobil. Sandi sendiri hanya tersenyum lalu menyalakan mesinnya dan bersiap untuk mundur. "Hore! Naik mobil!" Reyhan terlihat sangat girang.
Sandi memang sengaja memakai mobil untuk mengantarkan Reyhan dan Arimbi pulang. Sedangkan motor digunakan Randi untuk mengantar Eliza. Dandi cukup jalan kaki jika hendak mengantar Rianti pulang, karena jarak toko Rianti memang lebih dekat. Cukup melewati taman kota, masjid dan beberapa toko, sudah sampai.
Setelah tiga pria berbicara dengan tiga wanita, Sandi memang memutuskan untuk mengantar Reyhan pulang. Apa lagi anak itu sejak pagi sudah ikut ayahnya. "Nggak ada Reyhan, rumah pasti sepi ya, Mbi?" tanya Sandi begitu mobil sudah melaju dan Arimbi duduk disebelahnya sambil memangku anaknya.
"Ya pastilah. Bisanya juga ada suara rewel ni bocah. Belakangan malah jarang terdengar karena keasyikan main di tempat kamu. Jangan terlalu dimanja sih Reyhannya."
"Siapa yang manjain?" kilah Sandi. "Biasa aja kok."
__ADS_1
"Biasa apanya!" sungut Arimbi. "Tiap minta apa selalu diturutin, pakai ngomong biasa aja. Emangnya aku nggak lihat apa gimana?"
"Hehehe ... ya wajarlah, Mbi. Namanya juga sama anak. Aku cari uang buat siapa coba kalau nggak buat anak," Sandi membantah dengan alasan yang masuk akal. "Sebentar lagi tinggal cari nafkah buat kamu."
"Buat anak sih buat anak, tapi ya harus selektif juga dong. Kalau segala permintaan dia selalu kamu turutin, gimana nanti kalau dia sudah besar?"
"Ya kan nanti kalau dia sudah besar, pasti bakalan ngerti sendiri, mana yang baik dan mana yang nggak?" Sandi tetap tidak mau kalah.
"kata siapa?"
"Kata aku lah."
"Kata siapa? Aku tetap ingat lah."
"Ingat doang, tapi nggak ada niat untuk tanggung jawab."
Sandi kembali terbungkam. Mau ngomong apapun, omongan Sandi akan dengan mudah diputar balikan oleh Arimbi. Kesalahannya dimasa lalu, memang senjata yang sangat mudah untuk menyerang Sandi.
__ADS_1
"Oh iya, tadi katanya kamu mau dilamar, Mbi?" tanya Sandi untuk mengalihkan pembicararaan dan kebetulan saat itu dia baru ingat pembicaraannya dengan orang tuanya tadi pagi saat orang tua Sandi mampir mengentar Reyhan dan pamit hendak pulang ke kota. "Apa benar, Mulyadi dan ibunya mengira orang tuaku itu orang tua kamu?"
"Ya begitulah," jawab Arimbi sembari mengusap usap rambut Reyhan yang matanya sudah mulai terpejam.
"Kenapa kamu nggak ngaku aja kalau kamu sebenarnya anak siapa, Mbi? Biar makin melongo mereka."
"Buat apa, lagian, mana mungkin mereka percaya dengan asal usulku," jawab Arimbi, matanya lebih fokus menatap ke arah jalan deopan. "Apa benar, orang tuaku itu mengenal orang tua kamu?"
"Loh, aku malah nggak tahu. Kamu tahu darimana?" Sandi terlihat terkejut dengan apa yang baru saja Arimbi sampaikan. Bahkan pria itu sampai menoleh untuk sesaat ke arah wanita di sebelahnya.
"Tadi Ibu kamu yang cerita. Katanya mereka saling kenal," ucap Arimbi.
Sandi nampak menganggukan kepalanya beberapa kali sambil berpikir. "Apa mungkin orang tua kamu langganan di toko perhiasan orang tuaku, Mbi?"
Sekarang gantian Arimbi yang berpikir. "Bisa jadi itu. Berarti Mamah masih suka ikut arisan perhiasan?" Arimbi bertanya pada dirinya sendiri.
"Kalau memang sepeerti itu ya wajar lah kalau orang tua kamu kenal dengan orang tuaku. Kamu tahu sendiri, kualitas barang barang punya keluargaku gimana, kan?"
__ADS_1
Arimbi hanya mengangguk. Namun saat mobil yang dikendarai Sandi memasuki area komplek rumah Arimbi. Kening wanita itu dan Sandi sontak berkerut bersamaan. "Kenapa di rumah banyak orang? Apa yang terjadi?"
...@@@@@...