TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Usaha Randi


__ADS_3

"Ada apa? apa yang terjadi?" tanya Sandi bebeberala saat setelah dia memasuki tempat usahanya dan melihat sikap aneh para penghuninya Randi serta dua karyawannya lebih banyak diam sembari melakukan bersih bersih karena temlat itu sudah waktunya tutup. Sandi juga melihat Dandi yang duduk terdiam di salah satu kursi dengan tatapan menatap lurus ke arah jalanan di depan rumah makannya.


"Habis terjadi tragedi," jawab rlRandi lirih sembari mencuci beberapa alat dapur yang tinggal sedikit lagi. "Eh lajutin kamu nih, sebentar lagi Eliza katanya mau pulang, aku mau mencoba nganter dia pulang," sambung Randi, dan dia langsung membersihkan tangannya lalu meminta kunci motor yang dipakai Sandi tadi. Setelah itu, dengan bersiap ala kadarnya, Randi keluar dari pintu samping dan segera menaiki motornya menuju lapak jualan milik wanita incarannya.


Kening Eliza seketika berkerut melihat kedatangan pria yang dia benci mendekati tempat jualannya. Awalnya Eliza pikir, Randi hanya akan membeli makanan di tempatnya, namun diluar dugaan, Eliza kembali dibuat terkejut saat mendengar kalau Randi datanag ketempat itu karena akan mengantarnya pulang.


"Nggak! Nggak mau!" tolak Eliza dengan tegas. Begitu sang sepupu mengatakan tujuan Randi berada di sana. "Mending aku nungguin Anto aja, buat jemput."


Randi menghela nafasnya dalam dalam dan mencoba bersabar deengan penolakan yang Eliza lakukan terhadapnya. Randi memang tadi sempat mencari informasi kepada Taryo saat Eliza pergi ke masjid. Dari sepupu Eliza itu Randi mengetahui kalau wanita tersebut memang biasa dijemput oleh adiknya Taryo.


Taryo sendiri merasa heran saat Randi meminta,bingin mengantarkan elEliza pulang. Pria itu juga sebenarnya penasaran dengan perbuatan Randi yang menurutnya aneh, tapi Taryo belum memiliki banyak waktu untuk menanyakan hal yang lebih detail lagi. Karena kebetulan sang adik sedeng berhalangan untuk menjemput Eliza jadi Taryo setuju saja saat Randi memberi penawaran.


"Kalau nunggu Anto, yang ada nanti kamu pulangnya kemalaman, Za. Kan kamu tahu sendiri Anto kalau udah sama pacar dan temen temannya gimana?" terang Taryo. "Lagian kamu besok pagi jualan kan? Sudah deh, mumpung ada yang mau nganterin!"


"Nggak! mending aku naik ojeg," balas Eiza ketus. Tatapannya kepada Randi benar benar tatapan yang penuh rasa kesal dan amarah.

__ADS_1


"Justru kalau naik ojeg aku yang nggak akan setuju," tolak Taryo. "Kamu mau, bapak marahin aku dan yang lainnya?"


"Ya kan ini sama aja aku pulang dengan orang lain," Eliza masih teguh dalam pendiriannya.


"Aku bukan orang lain, Za," bantah Randi yang tidak terima dengan ucapan Eliza.


"Emang kamu kenyataanya orang lain," balas Eliza lantang dan seketika membuat Randi memilih diam darimana meladeni kemarahan wanita itu.


"Kalau kamu mau bapak marah sama aku dan Anto ya udah terserah kamu. Mungkin kamu memang lebih senang lihat aku kita dimarahin. Udah, Mas Randi, nggak usah dianterian, Eliza lebih suka saudara saudaranya yang kena marah."


"Ayo pulang, biar aku antar," bujuk Randi lembut. "Kasihan saudaramu nanti kalau kena marah."


Eliza semakin merasa kesal, tapi dia tidak memiliki pilihan lain lagi selain menuruti saran sepupunya. Biar bagaimanapun dia yang sedang menumpang hidup pada keluarga Taryo harus bisa tahu diri dan menjaga perasaan anak anak sang paman yang ke empatnya adalah laki laki. Randi tersenyum tipis ketika pada akhirnya Eliza naik ke atas jok belakang motor yang Randi kendarai. Eliza duduk menyamping dan setelah siap, motor pun mejalu dengan kecepatan sedang.


"Ini lewat mana?" tanya Randi yang memang tidak tahu arah jalan ke rumah Eliza dan saat itu ada pertigaan di depannya.

__ADS_1


"Belok kanan," jawab Eliza dingin. Randi pun langsung mengarahkan motornya ke arah yang ditunjuk Eliza.


Sepanjang perjalanan, sama sekali tidak ada obrolan diantara keduanya. Meski Randi berkali kali berusaha memancing percakapan, Eliza sama sekali tidak memberi tanggapan kecuali jika Randi menanyakan tentang arah.


"Loh, Eliza! pulang dengan siapa?" seorang pria paru baya yang duduk di depan rumah nampak terkejut begitu melihat Eliza diantar oleh pria yang tidak di kenalnya. Pria itu adalah pamannya Eliza. Motor pun berhenti tepat di depan rumah dimana Paman Eliza berada. "Kamu pulang naik ojeg?"


"Bukan, Paman," jawaban Eliza cukup cepat karena takut sang paman keburu marah.


"Lalu kamu pulang sama siapa itu?" tanya sang paman dengan tatapan menyelidik ke arah pria yang sedang bediri dihadapannya.


"Saya temannya Eliza, Om," ucap Randi begitu dia melihat Eliza kebingungan membari jawaban kepada sang paman.


"Teman? Teman dari mana? Teman dari kota?"


Randi seketika menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung mau menjawab apa.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2