TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Rasa Curiga


__ADS_3

Tamu wanita itu agak tercengang begitu mendengar ucapan dari pria yang dia temui. Entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini, tapi tiba tiba wanita itu mengulas senyum, lalu meraih es jeruk yang ada di hadapannyaa lalu menyeruput isinya menggunakan sedotan yang ada di dalamnya. "Apa itu harus?" tanyanya setelah sedikit es jeruk melewati kerongkongannya.


"Ya harus," jawab si pria yang tidak lain adalah Randi, pemilik rumah makan dimana saat ini dia sedang beerada di sana, dengan wanita yang katanya ingin bekerja sama dan membuka usaha yang sama dengan pria itu. "Biar bagaimanapun kedua rekan saya, juga pemilik rumah rumah makan ini. Mereka harus tahu, Mbak."


Wanita itu kembali tersenyum. "Saya pikir perwakilan satu orang saja, akan cukup, Mas. Bukankah nanti kamu juga bisa memberi laporan, tanpa aku harus bertemu dengan rekan kamu, Mas."


Randi menganggukan kepalanya beberapa kali. Apa yang dikatakan wanita itu memang ada benarnya. "Saya tahu, saya bisa membuat laporan kepada mereka mengenai pertemuan dan pembicaraan kita. Tapi bagi saya, demi menjaga kepercayaan rekan kerja saya, tidak salah juga, kan, kalau lebih baik kita bertemu secara langsung. Mungkin, dengan pertemuan tersebut, rincian kerja sama yang akan kita bagus lebih meyakinkan lagi."


"Berarti harus sesulit itu ya kalau ingin bekerja sama dengan rumah makan ini? Aku pikir bakalan sama kayak kerja sama penjualan makanan lainnya seperti pada umumnya," wanita itu menunjukkan wajah kecewanya, sampai membuat Randi tertegun.


"Ya nggak sulit sih sebenarnya. Apa lagi rumah makan ini kan menunya beraneka ragam, jadi butuh perhatian ekstra. Kecuali cuma satu menu, mungkin itu akan lebih mudah, kayak es boba atau eh teh yang viral itu. Itu kan kerja sama yang mengandalkan satu menu saja, jadi prosesnya lebih mudah," Randi mencoba menjelaskan secara masuk akal.


Wanita itu kembali menyeruput es jeruknya sebentar. "Baiklah, jika itu yang anda mau. Tapi untuk pertemuan berikutnya. Apa bisa kita membicarakannya di tempat lain?"

__ADS_1


"Di tempat lain?" tanya Randi dengan kening berkerut.


"Iya, di tempat lain, yang lebih tenang. Maksud saya, kalau di tempat ini kan terlalu rame, banyak pelanggan, jadi kurang nyaman membicarakan hal penting seperti ini. Saya ingin membicarakanya dengan rekan kerja anda di tempat yang lebih nyaman, bagaimana?"


Randi mengangguk tanda mengerti. "Baiklah, anda beritahukan saja pada saya, tempat yang anda tuju dimana. Nanti biar saya yang memberi tahukan kepada rekan saya yang lainnya."


"Baiklah," wanita itu mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. "Berapa nomer telfon anda?"


"Anda bisa menghubungi nomer yang tertera di banner depan, Mbak."


Randi lantas tersenyum. "Karena fungsi nomer yang tertera di banner depan memang bukan untuk menerima pesanan saja, Mbak. Itu juga berlaku untuk hal lainnya, seperti kerja sama seperti yang kita bicarakan kali ini."


Nampak sekali wanita itu menunjukan rasa kecewanya lagi. Tapi sepertinya wanita itu tidak punya cara lain lagi untuk mendapatkan nomer pribadi Randi. Wanita itu akhirnya setuju akan memberitakukan pertemuan selanjutnya dalam waktu dekat. Setelah tujuannya sudah dilaksanakan, wanita itu lantas pamit dengan alasan ada bisnis lain yang harus dia urus. Randi dengan senang hati mempersilahkan tamunya pergi.

__ADS_1


Ternyata, bukan Randi saja yang mengalami hal seperti itu. Tamu yang mengajak Sandi dan Dandi juga bersikap seperti itu, sama dengan wanita yang menjadi tamu Randi. Tamu tamu mereka juga meminta bertemu di tempat lain yang lebih tenang untuk membicarakan soal kerja sama.


"Apa ini tidak aneh?" tanya Dandi, begitu ketiga pria itu memutuskan bertemu setelah pertemuan dengan tamunya berakhir. "Aku merasa ini bagian dari rencana mereka deh."


"Aku juga merasakan keanehan sepeerti itu," Sandi menimpali. "Mereka ingin bertemu dengan kita di tempat yang berbeda. Apa mungkin mereka ada rencana lain?"


"Rencana lain bagaimana?" tanya Randi yang sebenarnya dia juga merasakan keanehan, sama seperti kedua sahabatnya.


"Gini aja deh, kalau mereka nanti kembali meminta bertemu dengan kita di waktu yang bersamaan kembali, berarti terbukti, mereka memang sedang merencanakan sesuatu. Aku yakin mereka pasti tahu kalau kita tidak mungkin bakalan datang bertiga untuk menemui ketiga wanita itu secara bersamaan."


"Nah, aku juga mikirnya seperti itu," seru Dandi. "Mereka pasti yakin kalau mereka mengajak kita di waktu yang sama tapi di tempat yang berbeda beda. Berarti benar, mereka memang merencanakan sesuatu."


Randi mengangguk sebagai tanda kalau dia memahami apa yang dipikirkan kedua sahabatnya. "Ya sudah, kita tunggu kabar aja dari mereka."

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2