
"Reyhan, Ayah duduk di depan ya?" rengek seorang bocah yang sedang berada di pangkuan Ayahnya, di saat boca itu sudah bersiap diri untuk melakukan perjalanan jauh. Wajah bocah itu cemberut sambil sesekali melirik pria lain yang ada di sana, sedang cengengesan meledek anak itu.
"Nggak boleh, itu tempat duduknya Om Randi," balas Randi dengan memasang wajah pura pura galak kepada anak kecil itu. Sesekali wajah Randi juga menunjukan senyum jahilnya membuat si anak merasa kesal tapi tidak bisa melakukan sesuatu untuk membalasnya karena tubuhnya lebih kecil. "Reyhan duduk di belakang sama kardus."
"Ayah, hiks ... hiks ..." bocah itu malah menangis hingga membuat Randi terbahak gemas sendiri.
"Iya, Sayang, iya, nanti Reyhan duduk di depan," Sandi akhirnyya bersuara. Padahal dari tadi Sandi juga sudah mengiyakan anaknya, tapi karena Randi terus meledeknya membuat Reyhan meragukan ucapan sang ayah.
"Nggak boleh, Ayah Reyhan bohong, Reyhan tetep duduk di belakang, wle!" Randi masih saja terus meledeknya sampai tangis Reyhan benar benar pecah dan Randi kembali terpingkal.
"Randi!" hardik Dandi. "Seneng banget bikin anak orang nangis. Dari pagi gitu mulu. ngeledekin."
"Hahaha ... lucu aja," balas Randi tak mau kalah. Sedangkan Sandi masih menghibur anaknya. "Gemesin bangett Reyhan kalau lagi cemberut gitu."
__ADS_1
"Ya jangan terlalu sering. Anaknya nanti benci sama kamu gimana?' ucap Dandi.
"Ya nggak bakal. Ya kan Rey? Om Randi kan baik. Iya nggak?"
Reyhan malah menatapnya dingin dalam pangkuan ayahnya. Dua orang itu memang baik pada anaknya Sandi. Cuma ya begitulah, kadang mereka juga suka jahil juga karena gemas dengan anak kecil itu. Apa lagi, anak yang usianya sebentar lagi menginjak angka tiga tahun itu memang sedang lucu lucunya dengan ocehannya yang acak. Makin menggemaskan di mata para pria itu.
"Rianti, tuh!" celetuk Randi ke arah dimana wanita itu sedang melangkah sambil menenteng koper kecil. Ketiga pria itu memang sedang duduk di taman kota, tak jauh dari mobil yang akan membawa mereka kembali kota besar. Ketiganya sudah siap, hanya tinggal menunggu para wanita yang belum menunjukan batang hidungnya.
Padahal para pria sudah memberi interupsi kalau jam delapan harus sudah kumpul di tempat itu. Tapi entah apa yang dilakukan para wanita sampai jam delapan lebih belum pada datang. Baru Rianti yang kelihatan datang bersama sahabatnya. Itu saja jam delapan lewat sepuluh menit.
"Makasih ya, Wi, dan maaf, jadi ngerepotin," ucap Rianti yang entah sudah berapa kali wanita itu mengucapkan kata yang sama sejak bertemu sahabatnya, membuat Tiwi sendiri merasa gemas. Dandi dan yang lain hanya menatap mereka dengan sesekali senyum tipis terlihat di bibir ketiganya.
"Ibu!" teriakan Reyhan mengalihkan pandangan semua orang di sekitarnya ke arah lain, dimana anak itu memandang. Ternyata benar, Arimbi datang bersama Bu Farida dan Pak Seno. Reyhan pun melepaskan diri dari pangkuan ayahnya dan lari menyambut ketiga orang itu yang sebenarnya sangat dekat.
__ADS_1
"Yee, cucu Nenek mau ketemu Eyang, Reyhan senang nggak?" Bu farida yang menyambut kedatangan anak itu lalu melangkah menuju ke tempat Sandi berada bersama Arimbi dan yang lainnya serta barang bawaan lainnya.
"Seneng, Nek, Reyhan mau pergi naik mobil Ayah," jawab bocah itu nampak antusias hanya karena naik mobil.
Sandi lantas menyambut kedatangan mereka. "Jaga baik baik cucuku loh, San?" ucap Pak Seno saat mereka sudah saling dekat.
"Pasti, Pak," balas Sandi.
"Rumah kita pasti bakalan sepi nih. Baru kali ini, Reyhan akan pergi jauh," ucap Bu Farida yang wajahnya terlihat sedih. Biar bagaimanapun hampir tiga tahun mereka bersama meski bukan keluarga kandung.
"Kan Reyhan cuma pergi sebentar, Bu," Arimbi mencoba menenangkan. Bu farida memang dari semalam mengeluh dan merasa sedih, meski dia juga senang karena Arimbi mau menemui orang tuanya.
Di saat bersamaan, Eliza juga datang bersama Paman, Bibi dan Taryo menggunakan dua motor. Randi pun juga langsung menyambut mereka. Paman dan Bibi Eliza memberi segala nasehat kepada dua orang tersebut dan juga mendoakan agar semua urusan dan masalah akibat masa lalu, bisa diselesaikan dengan baik baik saja.
__ADS_1
Akhirnya, waktu keberangkatan pun tiba. Hampir ketiga wanita menangis saat akan berpisah dengan orang orang yang telah membantu mereka dengan tulus di saat mereka tertimpa musibah. Dan saat itu suasana haru benar benar terjadi untuk beberapa saat lamanya.
...@@@@@...