TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Dukungan Sahabat


__ADS_3

"Ibu itu sekarang aja marah marah dan ngata ngatain Arimbi yang tidak tidak. Kalau Ibu tahu siapa sebenarnya Arimbi, Ibu pasti akan kaget dan berubah pikiran."


Mendengar ucapan anaknya, wanita yang dipanggil Ibu itu sontak mengerutkan keningnya. "Emang dia siapa?" tanya si ibu dengan suara ketus.


"Dia itu sebenarnya anak orang kaya, Bu."


Mendengar ucapan anaknya, seketika wanita yang duduk di atas Sofa berwarna hijau botol itu terbahak. "Hahaha ... anak orang kaya? Anak orang kaya dari hongkong," cibirnya.


"Yee, nggak percaya," si anak terlihat kesal dengan reaksi yang ditunjukan ibunya. "Tadi itu aku ketemu dengan orang tua kandungnya Arimbi, Bu."


"Apa!" pekik si Ibu dengan lantang.


si anak mengangguk. "Ibu tahu nggak, mobil yang dipakai orang tuanya Arimbi itu lebih mahal dari harga rumah kita ini, Bu."


"Hah! mana mungkin?" sekarang si ibu terlihat syok. Antara percaya dan tidak percaya, tatapannya hampir tidak berkedip menatap anaknya.


"Kalau ibu nggak percaya, Ibu tanya aja sama tetangga tetangga Arimbi. Tadi banyak yang lihat kok. Tas yang dipakai ibunya Arimbi kelihatan banget tas mahal. Bukan tas murah kayak punya ibu. Tas mereka yang harganya puluhan juta loh, Bu."


Si Ibu tidak merespon apa apa. Dia terdiam dengan pikiran yang cukup kalang kabut. Jelas saja dia begitu syok dengan apa yang baru dia dengar. Meskipun ucapan anaknya sebenarnya meleset, tapi hal itu cukup berpengaruh dalam pikiran wanita itu.

__ADS_1


"Maka itu, Bu, kalau ibu mau memiliki besan yang kaya raya, Ibu biarin aku dekatin Arimbi. Biar nama ibu juga makin terpandang," si anak malah memprovokasi.


"Tahu ah, ibu pusing," wanita itu malah langsung bangkit dari duduknya dan beranjak meninggalkan sang anak yang sedang cengengesan.


Sementara itu dihari yang sama, tapi di tempat berbeda.


"Ceritanya semalam gimana, Ri? aku kaget loh, waktu kamu ngabarin soal teror itu," ucap Tiwi dengan hebohnya begitu dia duduk di bangku plastik di hadapan Rianti.


"Ya ampun, perasaan semalam Rianti udah cerita lengkap banget, Mah, Masih kurang?" sahut Agus yang saat itu sedang memindahkan buah dari atas motor roda tiganya ke dalam toko milik teman istrinya.


"Ya biarin sih, Pah. Orang semalam kurang puas mendengar ceritanya," sungut Tiwi tidak terima.


"Heheheh ..." Tiwi malah cengengesan. "Ya salah kamu sendiri, telfon pas Mas Agus baru saja menyodokan batangnya," Tiwi tak mau kalah. "Aku nggak enak dong nolak telfon kamu, lagian aku juga khawatir, takutnya kamu ada apa apa, soalnya telfon malam malam."


"Hahaha ... sial. Malah pamer," cibir Rianti. Tiwi kembali cengengesan, sedangkan Agus hanya geleng geleng kepala melihat tingkah istri dan sahabatnya yang terlalu terbuka. Rianti lantas menceritakan semua kejadian semalam secara lengkap.


"Hahaha ... mampus! Harusnya kamu aja yang laporin ke polisi, Ri. Biar kapok itu cewek," Tiwi jadi merasa geram.


"Ya, kita lihat aja bagaimana Romi mengatasinya. Kalau nggak tegas ya terpaksa aku akan lapor jika wanita itu kembali berulah," jawab Rianti dengan tegas.

__ADS_1


"Bagus! Memang harus dikasih pelajaran cewek kayak gitu. Biar nggak belagu. kalau ada aku, udah aku cakar cakar itu wajahnya."


"Hahaha ... ya, jangan. Nanti malah kamu yang kena pasal, mau?" mendengar ucapan Rianti, Tiwi malah tersenyum lebar dan menggeleng.


"Tapi kok kamu semalam nggak minta bantuan kita sih, Ri?" sekarang Agus yang bertanya. Setelah pekerjannya selesai, pria itu duduk di bangku lain tapi menghadap istrinya dan juga Rianti.


"Yaelah, Mas, semalam kan udah ada cowok lain yang sangat setia menjaga Rianti, kamu cemburu?" meski hanya candaan, tapi pertanyaan itu justru sangat rentan memancing salah paham.


"Cemburu apaan sih, Mah. Papah itu justru malah senang kalau kayak gitu, karena disini, Rianti ada yang jagain. Selain kita, disini, Rianti punya siapa lagi coba?"


"Bener juga sih, Pah. Lagian kalau Papah terus yang nolongin Rianti, takutnya malah pada salah paham. Nanti dikira kalian berselingkuh."


"Nah, itu tahu! Maka itu, aku tuh senang. Meskipun Dandi pria brengsek tapi dia ada kesungguhan untuk berubah."


Rianti sendiri saat ini malah terdiam sembari menyaksikan suami istri yang ngobrol sendirian. Meski begitu, wanita itu juga mencerna ucapan suami dari sahabatnya itu. Rianti memang butuh orang lain untuk menjaganya, meski dirinya terlihat baik baik saja untuk hidup sendirian.


"Sudah Ri, jangan terlalu banyak mikir. Kamu balikan aja sama Dandi, terus nikah lagi sama dia," ucapan Tiwi yang tanpa beban langsung membuat Rianti melebarkan matanya.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2