
"Wahh! Gantengnya keponakan Tante," seru Sabrina saat melihat sang keponakan sudah siap dengan baju barunya. Baju lengan panjang berwana putih dan celana serta sepatu yang memiliki warna senada, membuat bocah kecil bernama Reyhan itu semakin terlihat menggemaskan. Tidak ada yang tersenyum saat beberapa mata memandang ke arah anak itu.
"Bajunya kembar sama Ayah, Tante," ucap bocah itu saat sudah berada di pangkuan Tantenya.
"Iya, bajunya kembar sama Ayah. Siapa yang beliin?" tanya Sandrina lagi sambil sesekali mencium kepoanakan itu.
"Ayah," jawaban tegas yang keluar dari mulut Reyhan membuat semua yang mendengarnya kembali tersenyum.
Hari ini semua memang sudah berkumpul di rumah Sandi. Tentu saja mereka berkumpul karena ini adalah hari dimana Sandi akan resmi melepas masa lajangnya. Bahkan dua sahabat Sandi juga sudah berada di rumah itu meski mereka berdua juga tidak lama lagi akan melepas masa lajang mereka di waktu yang berbeda.
"Om Sandi gagah sekali," celetuk seorang anak kecil yang tidak lain adalah sang keponakan dari salah satu saudaranya Sandi. Begitu Sandi keluar kamar, semua mata langsung tertuju kepadanya. Sandi memang terlihat berbeda hari ini. Mungkin karena akan melaksanakan pernikahan, jadi aura ketampanannya terpancar dua kali lipat.
"Tumben kamu lama di kamar, San? Ngapain aja sih? Sampai Mamah duluan yang keluar dari kamar?" berondong Mamahnya Sandi begitu sang anak bergabung bersama keluarganya.
"Ya gerogilah Tante, aku juga dulu gitu," celetuk salah satu sepupu Sandi.
__ADS_1
"Nah, benar, aku grogi," jawab Sandi.
"Dihh, pakai grogi segala. Udah ngehasilin anak juga," ucap Mamahnya lagi, dan ucapannya sukses membuat Sandi mencebikan bibirnya karena merasa tersindir.
"Sudah siap semuanya, kan? Kalau sudah, kita berangkat sekarang," titah Papahnya Sandi, dan semua langsung bersiap diri untuk berangkat menuju rumah pengantin wanita.
Rasa panik juga saat ini sedang dialami Arimbi. Di kamarnya, wanita itu juga sudah siap dengan baju pengantin dan riasannya. Meskii acara pernikahannya dilangsungkan secara sederhana, tapi tetap, acara itu terlihat cukup mewah. Mungkin karena ini pernikahan anak terakhir dalam keluarga itu, dan juga rekan rekan dari keluarga Arimbi cukup banyak, jadi acara pernikahan tersebut terlihat ramai dan meriah.
"Grogi, Mbi?" tanya seorang wanita yang memakai kebaya muslim berwarna biru. Dia adalah kakak kandung Arimbi yang sedari tadi menemani sang adik. Melihat sang adik yang tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya, membuat wanita itu tidak tahan untuk mengeluarkan pertanyaan itu.
"Astaga! Ya jangan berpikiran seperti itu dong," sekarang yang mengeluarkan suaranya adalah kakak iparnya, yang juga merias wajah Arimbi. Secara kebetulan, kakak ipar Arimbi juga memiliki usaha rias pengantin dan semua yang berhubungan dengan acara pernikahan. "Kan tadi keluarga Sandi sudah ngasih kabar kalau mereka sudah di jalan menuju kesini."
Arimbi pun menunjukkan senyum tanggungnya. Sedangkan dua wanita yang ada di kamar Arimbi, sekarang duduk di sisi kanan dan kiri sang calon pengantin. "Mbak cuma berharap, Sandi laki laki yang tepat dan dia memang benar benar sudah berubah. Kalau ada apa apa, jangan sungkan cerita ke Mbak, ya?"
Arimbi mengangguk sembari kembali tersenyum kepada kakak kandungnya. Rasa haru sungguh sangat terasa menyelimuti ruang kamar tersebut. Sampai suara ketukan pintu menggema dan terdengar dari luar kamar dan ada suara seseorang yang menyampaikan kabar, kalau mempelai laki laki dan keluarganya kini sudah pada datang. Arimbi dan yang lain pun merasa lega, mendengar kabar tersebut.
__ADS_1
Pukul sebelas siang, acara akad akan di mulai, sekarang Sandi sudah duduk di kursi yang akan digunakan untuk dirinya mengucap ijab qabul. Di sebelah kirinya ada ayahnya Arimbi, sementara dua petugas dari penghulu ada di seberang meja. Di sini kanan meja, ada dua orang saksi dari pihak Sandi dan Arimbi, dan di sisi kiri ada ayahnya Sandi.
"Aku mau sama ayah," rengek Reyhan yang saat ini sudah duduk bersama Pakdeenya, yaitu kakaknya Arimbi.
"Eh jangan dulu, nanti sebentar lagi," cegahnya. "Nanti kalau sudah selesai, Reyhan baru boleh sama ayah ya?" bocah itu langsung mengerucutkan bibirnya karena sedari tadi dia dilarang untuk bersama ayahnya.
"Sudah siap nak, Sandi?" tanya seroang penghulu kepada pria muda dihadapannya.
"Sudah, Pak," Sandi menjawab tanpa keraguan. Meski sebenarnya dia begitu merasa grogi, tapi Sandi berusaha keras agar bisa bersikap lebih tenang.
"Baiklah, kita mulai sekarang ya?" ucap Pak penghulu. Sebelum kata ijab terucap, pria itu memberi beberapa petuah serta petunjuk tentang semua yang berhubungan dengan pernikahan. Setelah semuanya selesai, kini saatnya mereka memasuki acara inti yaitu mengucapak ijab qabul.
"Bagaimana, Saksi? Sah!"
"Sah!"
__ADS_1
...@@@@@...