TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Di Rumah Paman


__ADS_3

Masih di hari yang sama tapi di tempat yang berbeda, dua orang berbeda jenis yang sedang duduk di depan rumah, sangat tercengang begitu mendengar ancaman yang dilontarkan oleh pria tua yang duduk diantara mereka. Sebuah ancaman mengejutkan tapi menimbulkan efek yang berbeda bagi dua orang, pria dan wanita, yang usianya lebih muda dari pria yang mengancamnya.


Jika Randi tak lama setelah rasa terkejutnya hilang, berganti senyum yang menunjukan kebahagiaan. Eliza justru menunjukan wajah kesal dan tatapan tajam kepada Randi dengan penuh kebencian. Randi langsung saja mengangkat kedua pundaknya kalau apa yang dikatakan Paman Iksan bukanlah rencana yang Randi buat.


"Paman kalau ngomong yang agak masuk akal deh. Lagian ada Anto kan yang bisa jemput aku," Eliza masih berusaha menolak tentang penawaran yang diberikan olah Pamannya.


"Aku nggak bisa, Mbi," bukan Paman ataupun Randi yang menjawab, tapi Anto yang saat itu mendengar obrolan mereka dari dalam rumah. "Aku kan mau merantau berangkat besok sore."


"Loh, kok mendadak banget?" Eliza begitu terkejut mendangar ucapan sepupunya yang usianya baru menginjak angka dua puluh tahun. Harusnya dia memanggil Eliza dengan sebutan Mbak, biar lebih sopan. Tapi mulut Anto dari awal sudah terlalu nyaman memanggil wanita yang usianya lebih tua itu dengan nama panngilannya.


"Siapa yang pergi mendadak? Orang aku udah rencana dari seminggu yang lalu. Kamu aja yang selalu telat info," balas Anto lalu dia pamit kepada ayah dan semua yang ada di sana, karena ada urusan dengan teman yang akan berangkat kerja ke kota bersamanya.

__ADS_1


"Dengar, kan? Ini semua Paman lakukan demi keselamatan kamu. Lagian Randinya juga mau. Kalau kamu nolak, Paman nikahkan kamu sekalian dengan ni anak," ucap Paman yang langsung saja beranjak masuk tanpa ada alasan meninggalkan Randi dan Eliza di teras rumah.


"Ini pasti rencana kamu kan?" tuduh Eliza begitu Paman Iksan hilang dari pandangannya. Suara Eliza sedikit lebih lirih tapi Randi masih bisa mendengarnya. Randi sontak melongo dengan tuduhan yang dilayangkan oleh Eliza kepadanya.


"Bukan!" bantah Randi dengan suara yang cukup keras sampai membuat Eliza melotot. Randi memang sengaja mengeluarkan suara dengan lantang agar dia bisa terbebas dari tuduhan yang baru saja Eliza lontarkan. "Aku aja nggak tahu kalau Paman akan mengambil keputusan seperti itu."


"Ngomongnya bisa lebih pelan nggak? Kamu sengaja ngomng keras keras, agar Paman dengar?" sungut Eliza sampai matanya seperti mau copot, Randi yang melihatnya hanya bisa senyum senyum gemas. "Kalau bukan karena kamu, bagaimana kamu bisa kesini bareng Paman?"


Mata Eliza langsung mengedar ke halaman dan benar saja, hanya ada satu motor di halaman rumah itu. "Tapi kan kamu harusnya bilang nggak setuju. Ngapain kamu malah setuju sih?" Eliza masih tidak terima dengan keputusan Pamannya dan mencoba mengintimidasi pria yang saat ini terlihat lebih sumringah.


"Lah apa salahnya? Kan tujuan Paman benar, buat melindungi kamu. Emang kamu mau terjadi sesuatu lagi? Bukankah laki laki yang kamu tolak itu banyak ya?" Randi membalas dengan santainya tapi terdengar sangat mengesalkan di telinga Eliza.

__ADS_1


"Hilihh, bilang aja ini kesempatan kamu untuk ngedektin aku. Pakai alasan buat melindungi aku segala."


"Hahaha ..." cibiran Eliza malah membuat tawa Randi pecah. "Emang apa salahnya kalau aku ngedeketin kamu? Nggak ada salahnya kan? Lagian ucapan Paman benar, kenapa kita nggak menikah aja sih? Usia kita udah sama sama dewasa loh, Za."


Eliza langsung mendengus. "Menikah? Enak banget kamu kalau ngomong. Nggak tahu rasanya sih ya, dipermalukan saat hendak menikah. Huu! Dasar."


Randi sontak meringis. "Ya maaf. Aku tahu apa yang aku lakukan dulu sangat keterlaluan. Tapi nggak ada salahnya kan kalau aku memang ingin menjalin hubungan serius dengan kamu. Seenggaknya rasa trauma yang kamu alami, biar aku yang mengobati."


Eliza sontak mencebikan bibirnya. "Sok pahlawan. Diobati kayak apa juga luka itu tidak akan sembuh."


"Aku tahu, Eliza. Setidaknya dengan kita menikah, aku bisa menebus semua dosaku sama kamu, keluarga kamu dan keluargaku juga, Setidaknya kamu tahu kalau aku tuh dari dulu memang sangat tulus sama kamu meski kamu tolak ribuan kali."

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2