TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Suruhan Seseorang


__ADS_3

Brak!


Terdengar suara pintu yang membentur papan dengan keras hingga menimbulkan suara yang begitu keras. Suara itu seketika membuat tiga orang yang baru saja masuk ke dalam ruangan yang letaknya berada di belakang toko buah. Tiga orang itu langsung saja menghentikan langkahnya dan mereka saling pandang satu sama lainnya.


"Sepertinya ada orang yang masuk?" ucap salah satu dari tiga orang itu dengan suara pelan. "Coba kamu cek, beneran orang atau hanya kena angin."


"Lagian kenapa tadi pintunya nggak di kunci aja sih," gerutu yang lain lalu dia berbalik badan untuk kembali mengecek keadaan toko.


"Kan kuncinya udah rusak!" sahut temannya. Begitu pria yang menggerrutu membuka tirai yang menghubungkan antara ruang tengah dan toko buah, mata pria itu langsung membelalak melihat seseorang berdiri tepat di dekat pintu yang terbuka.


"Maling!" teriak orang yang berdiri di dekat pintu yang tidak lain adalah Dandi. Dia langsung keluar toko sambil berteriak dengan kencang. "Maling, tolong, maling!"


Meski di depan deretan toko buah milik Rianti sepi, tapi di deretan lainya, ada beberapa pedagang makanan yang biasa buka pada malam hari dan tukang ojeg yang mangkal di sekitar taman kota dan di depan toko sampai pagi. Mereka langsung saja berhamburan menuju ke sumber suara.


"Mana malingnya, Mas?" tanya salah satu warga.


"Di dalam, Pak," jawab Dandi. Tanpa pikir panjang, beberapa orang langsung masuk ke dalam dengan segala kegeramannya.

__ADS_1


"Rianti!" teriak Dandi yang sangat mengkhawtirkan wanita itu.


"Aku disini!" seru Rianti yang ternyata bersembunyi di bawah kolong kotak buah di tokonya. Dandi langsung masuk ke celah yang memang sengaja disediakan untuk keluar masuk Rianti jika sedang melayani pembeli.


"Astaga! Kamu baik baik saja, kan?" Dandi agak berjongkok sambil memperhatikan wanita yang sedang sedikit merangkak, keluar dari temnpat persembunyian.


"Aku baik baik saja," jawab Rianti setelah keluar dari kolong. "Orangnya masuk ke dalam dan kayaknya ada tiga orang." Para warga yang mendegar keterangan Rianti langsung saja bergerak masuk untuk melakukan penangkapan.


Detik itu juga, saat Dandi berteriak maling, tiga orang itu langsung panik begitu mendengar teriakan dan mereka bingung hendak kabur kemana karena akses pintu masuk hanya ada satu. Mereka pun memutuskan ke area dapur untuk mencari jalan keluar dan juga tempat persembunyian.


"Ampun, Pak. Ampun. Kami bukan pencuri," rintih salah satu dari mereka setelah beberapa hantaman dan tendangan mereka dapatkan dari warga yang kesal.


"Kalau bukan untuk mencuri, lalu mau apa masuk toko orang malam malam, hah!" bentak salah satu warga sambil melayangkan tendangan karena terlalu kesal.


"Sumpah, Pak. Kami memang tidak ada niat mencuri. Kami hanya akan melakukan sesuatu yang diminta orang lain."


"Apa!" beberapa warga memekik. Begitu juga dengan Dandi dan Rianti. "Kalian disuruh orang?" bentak salah satu warga.

__ADS_1


"Iya, kami hanya disuruh orang untuk mencelakai pemilik toko buah," pengakuan tersebut semakin membuat para warga terkejut.


"Mencelakai pemilik toko buah? Maksud kamu siapa?" pertanyaan itu masih terlontar dari mulut warga. Sedangkan Dandi dan Rianti masih terbungkam dengan segala rasa terkejutnya.


"kami disuruh menodai pemilik buah dan merekamnya," dengan suara bergetar dan penuh rasa takut, salah satu dari mereka menceritakan yang sebenarnya. Sontak saja amarah warga semakin menjadi. Mereka tidak lepas dari berbagai hantaman dan tendangan.


"Ampun, Pak. Ampun," ketiganya merintih mohon pengampunan.


"Udah, tenang, Bapak bapak! Kita jangan main hakim sendiri," salah satu warga berusaha meredam amarah warga yang tersulut emosi. Satu persatu warga mulai mengurungkan niatnya untuk melanjutkan memberi ketiga orang pelajaran. "Sebaiknya kita serahkan saja ke polisi. Biar di usut tuntas, siapa dalang dibalik mereka."


"Setuju!" teriak warga dengan kompak. Salah satu dari mereka langsung menghubungi polisi terdekat dan ketiganya digelandang begitu polisi datang. Warga pun membubarkan diri.


Sebelum pergi, Rianti dan Dandi tidak lupa mengucapkan terima kasih karena mereka telah dibantu para warga. Mereka lantas kembali ke toko. Dandi mengambil bangku untuk memeriksa lampu yang mati. Ternyata hanya dilonggarkan saja. Setelah selesai, Dandi masuk menyusul Rianti yang saat itu sedang duduk terpaku di dekat meja tempat pembuatan jus buah.


Dandi lantas mendekat dan mengusap kepala wanita itu dengan lembut. "Malam ini, biarkan aku menginap disini ya, Ri?"


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2