
"Mas."
"Hum? Apa, Sayang?"
"Kalau malam pertamanya diganti pagi ini, bisa nggak?"
Mata Randi sontak terbuka lebar. "Kamu serius, Sayang?" tanya Randi dengan sangat antusias dan hampir tak percaya dengan apa yang dia dengar. Melihat sang istri mengangguk, Randi sontak ingin bersorak. Dia segera menggeser duduknya menjadi lebih dekat dengan wanita yang sedang menunduk. "Mau sekarang, apa nunggu waktu sarapan?"
"Terserah kamu aja, Mas," jawab Eliza masih dengan wajah menunduk. Pria itu tahu, sang istri pasti malu.
Randi lantas tersenyum dan melihat jam melalui ponselnya. Di sana baru menunjukan pukul lima pagi lebih dua puluh menit. "Mending makan kamu dulu aja ya, Yang. makan nasinya nanti aja." mendengar ucapan Randi yang cukup nakal, membuat kepala Eliza secara spontan mendongak dan mencebikan bibirnya.
Senyum Randi terus terkembang. Diluar dugaan, pria itu mengangkat tubuh istrinya dan membaringkannya di atas ranjang. Karena malu, Eliza tidak berani menatap pria yang terus memandangi wajahnya.
"Kamu malu?" Eliza tidak menjawab dan tidak bereaksi. Senyum nakal Randi kembali terkembang. "Setelah ini, kamu akan aku buat untuk tidak malu lagi meminta jatah ranjang dariku, sayang."
__ADS_1
Lagi lagi Eliza terperanjat sampai menatap wajah suaminya yang begitu sangat dekat. Jari tangan Randi membelai wajah istrinya. Dari mulut Randi juga keluar kata pujian yang mengagumi akan kecantikan wanita yang telah menjadi istrinya. Mata keduanya pun saling memandang dan secara perlahan kepala Randi bergerak hingga bibirnya menempel pada bibir istrinya.
Dari perang bibir itulah, akhirnya kegiatan mereka pagi itu berlanjut ke arah yang semakin menggelora. Dua anak manusia yang sudah cukup usia, untuk mengetahui tentang hubungan suami istri, terus meningkatkan gejolak mereka. Dengan isnting mereka sebagai manusia, keduanya mampu saling membalas dalam pelukan gelora yang semakin membara.
"Aku masuk sekarang ya, Sayang," ucap Randi saat kedua kain yang melekat pada tubuh keduanya sudah berserakan di lantai kamar. Kini Randi sudah bersimpuh di posisi antara kaki Eliza yang membentang. Bahkan batang milik Randi yang sudah menegang, sedang dia gesek gesakan pada celah lubang yang akan dia masuki.
Eliza hanya mengangguk pelan. Tangan wanita itu mencengkram kuat bantal di sisi kanan kirinya. Tak lama kemudian, tubuh wanita itu sedikit menegang saat merasakan lubang miliknya mulai diterobos oleh Sandi.
"Akh~" suara rintihan kesakitan keluar dari mulut Eliza. Randi yang melihat sang istri kesakitan, timbul rasa tidak tega. Dari sini pula Randi menjadi yakin kalau Eliza memang belum pernah disentuh lelaki manapun. Randi terus mendorong pinggangnya meski dia tahu Eliza terus mengeluarkan rintihan kesakitan.
Gerakan Randi berhenti saat dia merasakan ada yang menghalangi batangnya. Sepertinya Randi tahu itu apa. Dengan segala kemantapan hati Randi langsung menghentakan pinggangnya dengan kencang.
Setelah sang istri tenang, Randi kembali memasukan batangnya. Meski Eliza masih merintih kesakitan, tapi Randi bersikap tidak peduli. Karena hanya dengan cara seperti itu, Eliza nanti akan mendapatkan kenikmatan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Benar juga, setelah Randi menyodok lubang Eliza selama beberapa menit, suara rintihan kesakitan yang keluar dari mulut Eliza, berangsur hilang dan berubah menjadi rasa nikmat yang tidak terkira. Randi pun cukup senang mendengarnya. Dia berkali kali melayangkan bibirnya pada bibir serta bagian tubuh yang lain milik istrinya.
__ADS_1
Sekian puluh menit pun berlalu, Randi dan Eliza sudah terkapar setelah permainan nikmat mereka usai untuk pertama kali. Randi menyemburkan benihnya sampai tetes penghabisan di dalam lubang istrinya, dan setelahnya dia langsung menjatuhkan tubuh di sebelah sang istri. Begitu nafasnya berangsur normal, Randi mengangkat kepalanya dan menatap wajah sang istri yang sedang menatap langit langit kamar hotel.
"Terima kasih ya, Sayang. Ternyata aku orang yang pertama menyentuhmu," ucap Randi lembut sambil mengusap wajah istrinya. Eliza sontak membalas senyuman Randi.
"Maafin aku, Mas, karena semalam aku menolak hak kamu," ucap Eliza lirih.
"Ngapain minta maaf, Sayang. Kamu nggak salah," ucap Randi. "Aku tahu kok, mungkin semalam kamu lelah, jadi kamu menolakku."
"Tapi kenapa kamu malah tidur di sofa? Aku kan jadi nggak enak, Mas."
Randi sontak tersernyum. "Maaf, sudah membuat kamu salah paham. Aku tidur di sofa ya buat mengurangi rasa inginku, Sayang. Takutnya aku nggak bisa menahan diri dan memaksa jika berada di ranjang terus, jadi aku pindah ke sofa." Eliza pun ikut tersenyum, lalu tangannya bergerak ke arah bawah perutnya sendiri.
"Sakit, Yang?" tanya Randi.
"Agak pegel, Mas," jawab Eliza sambil memijat miliknya.
__ADS_1
"Sini, aku aja yang mijat, Sayang," ucap Randi yang langsung mengambil alih pijatan tanpa menunggu persetujuan dari istrinya.
...@@@@@...