
Jika kedatangan Sandi disambut penuh dengan rasa hangat, berbeda dengan kedatangan Dandi di rumahnya. Betapa terkejutnya keluarga Dandi saat mereka tahu siapa wanita yang bersama pria itu. Apa lagi mereka juga langsung diingatkan kelakuan Dandi yang membuat orang tuanya malu berlapis lapis.
"Maksud kamu apa membawa dia kemari, Hah! Kamu mau melempar kotoran ke muka orang tua kamu lagi?" bentak Papahnya Dandi yang langsung tersulut emosi, begitu tahu Rianti dan mengingat kejadian tiga tahun yang lalu. Rianti sendiri juga cukup terkejut dengan ucapan orang tuanya Dandi barusan. Namun wanita itu lebih banyak diam dan juga merasa tidak enak hati.
"Ya bukannya gitu, Pah. Masa iya, aku harus bikin malu lagi? Udah tua begini, nggak ada berubahnya," Dandi membela diri.
"Ya terus tujuan kamu itu apa? Dipikirnya Papah nggak malu apa gimana, ketemu sama Rianti disini?" Papah masih menunjukan kekesalannnya.
"Tujuanku kan udah jelas, Pah. Aku mau memperbaiki diri. Besok aku mau ke tempat Rianti, untuk minta maaf," balas Dandi, terlihat penuh dengan kayakinan.
"Emang mereka masih mau menerima kamu?" tanya Mamah agak mencibir.
"Ya semoga saja sih mereka mau menerima. Namannya juga usaha," balas Dandi dengan kepercayaan diri yang sama sekali tidak goyah meski orang tuanya meragukan.
"Terserah kamu aja deh, Papah pusing ngehadapin kamu. Bikin stres," sungut Papah dan dia menatap Rianti yang sedari tadi hanya terdiam sembari memperhatikan interaksi keluarga Dandi. "Kamu kok mau maunya aja sih menerima laki laki brengsek seperti ini? Emang di luaran sana nggak ada laki laki yang lebih baik?"
__ADS_1
"Ya ampun Papah, bukannya ngedukung anak sendiri malah ngejodohin Rianti dengan laki laki lain," protes Dandi. "Aku kan juga sebenarnya laki laki baik, Pah."
"Hilih, laki laki baik apaan. Kalau laki laki baik itu nggak bakalan nyakitin cewek dan nggak bikin malu cewek," Mamah malah ikutan mencibir dan menyindir, membuat wajah Dandi semakin kesal. "Laki laki yang baik itu yang kayak papah kamu, dan Abang kamu."
"Ya elah, pakai dibanding bandingin segala. Mamah nggak tahu sih ya, betapa ..."
"Udah diam!" hardik papah, membuat Dandi melongo, dan ucapannya terpotong. "Papah tuh lagi tanya serius sama Rianti, malah kamu yang nyerocos."
Dandi langsung manyun, sedangkan Mamah dan Abangnya yang memang juga ada disana, langsung tersenyum penuh ejekan dan kemenangan. Rianti sendiri hanya menunjukan senyum tipis melihat sikap Dandi saat ini.
Gimana, Nak? Kenapa kamu mau ikut datang dengan cowok modelan kayak gini? Bukankah diluaran sana banyak laki laki yang lebih baik dari dia?" Papah kembali mengulang pertanyaannya.
"Tadinya saya juga kayak gitu, Om, Tante. Saya males ketemu Dandi. Sampai sekarang aja, kalau lihat wajahnya, aku masih emosi. Tapi Dandinya terus mepet, Tante, sampai aku capek sendiri untuk menghindar. Aku sekarang ikut Dandi juga karena saran dari teman aku juga, Om, Tante," terang Rianti.
"Berarti Dandi nggak tahu diri dan nggak tahu malu ya?" bagi Rianti itu adalah pertanyaaan, tapi bagi Dandi, ucapan Mamahnya adalah penghinaan. Rianti sendiri malah tersenyum kemudian mengangguk.
__ADS_1
"Terus tujuan kamu mau menemui orang tua Rianti itu cuma mau minta maaaf apa gimana?" sekarang Papah bertanya pada Dandi.
"Ya aku mau melamar Rianti lagi lah, Pah," jawab Dandi dengan entengnya, tapi cukup mengejutkan bagi kedua orang tuanya dan juga sang kakak.
"Kamu gila!" seru Mamah.
"Ya nggak gila, Mah. Orang aku serius. Aku kan tadi bilang kalau aku itu mau memperbaiki diri. Salah satunya ya aku memang harus menikahi Rianti," jawab Dandi masih dengan kepercayaan diri yang tinggi.
"Aduh, Wang, kok Mamah pusing ya ngadepin adik kamu ini," keluh Mamah kepada kakaknya Dandi.
"Ya, Mamah tahu sendiri, anak Mamah yang satu itu memang ajaib," Awang menimpali ucapan Mamahnya dengan santai.
"Kamu sebenarnya anaknya siapa sih, Dan? Papah waktu muda juga nggak gitu banget sifatnya?" tanya Mamah lagi.
"Ya mana Dandi tahu. Yang bikin kan Mamah sama Papah," Dandi benar benar kesal dengan sikap keluarganya sendiri.
__ADS_1
"Papah ingat, dulu pas bikin Dandi, Papah nggak sengaja mabuk kan, Mah. Jadi sifat Dandi oleng kayak gini," Papah menimpali dan hal itu membuat Dandi semakin bertambah kesal. Sedangkan yang lain malah tidak bisa menahan tawanya termasuk Rianti.
...@@@@@...