TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Kelakuan Anak Kecil


__ADS_3

"Lalu aku harus bagaimana, Bi?" tanya Eliza sambil menatap wanita yang saat ini duduk di atas ranjang, tempat Eliza biasa tertidur. "Aku sendiri juga bingung harus berbuat apa?"


Wanita yang dipanggil Bibi itu lantas tersenyum. Tangannya bergerak, terulur dan berhenti pada punggung tangan Eliza yang bertumpuk di atas bantal yang dipangku Eliza. "Kalau boleh bibi saranin, kamu ikutlah Randi ke kota. Temani dia menemui orang tua kamu."


Mata Eliza sontak membulat, tapi sekian detik kemudian dia menunduk dan nampak bingung. "Masa ikut ke kota, Bi?"


"Ya selagi ada kesempatan. Bukankah ini kesempatan kamu juga, untuk membuktikan kalau dia serius apa nggak datang ke rumah orang tau kamu?" Si bibi masih menatap sang keponakan yang kini sudah menatapnya kembali. "Lagian, apa kamu tidak penasaran dengan kabar orang tua kamu?"


"Ya penasaran, Bi," jawab Eliza pelan.


"Ya maka itu, ikutlah. Jangan biarkan kamu nanti menyesal jika kamu sampai tidak pernah tahu apa saja yang terjadi sama orang tua kamu."


"Bibi ..." rajuk Eliza.


"Loh, apa yang Bibi katakan benar bukan? Kita nggak tahu loh usia kita di dunia ini sampai berapa tahun. Selama masih ada kesempatan, kenapa tidak digunakan sebaik baiknya. Apa lagi ini orang tua kamu. Apa mentang mentang, tiga tahun orang tua tidak menanyakan kabar kamu, jadi kamu juga tidak peduli dengan kabar orang tua?"


"Ya bukan begitu, Bi."

__ADS_1


"Lah, terus? Apa yang memberatkan kamu?" Eliza pun tidak bisa menjawab. "Gunakanlah kesempatan ini. Kamu dan Randi sama sama menemui orang tua kamu agar kalian saling menguatkan. Kamu tahu sendiri, Paman tidak bakalan mau menemani kamu menemui ayah kamu. Kamu tahu sendiri alasannya apa. Makanya, ini kesempatan kamu, Eliza." Wanita muda itu pun terdiam dengan pikiran mencerna ucapan sang bibi.


Masih di hari yang sama, tapi di tempat berbeda.


"Ibu, ke tempat Ayah," rengek seorang anak kepada Ibunya yang saat itu sedang melayani pembeli kerupuk mentah.


"Ya nanti, Rey, ada pembeli itu loh. Jangan rewel," balas sang Ibu dengan segala rasa sabarnya menghadapi bocah yang sedari tadi merengek minta ke tempat ayahnya.


"Reyhan mau sama ayah, Bu," rengek bocah yang terus mengikuti langkah sang ibu mengambil kerupuk di gudang dan membawanya ke depan rumah di mana seseorang sedang menunggu.


"Rehyan, kenapa?" tanya Pak Seno yang saat itu baru saja pulang dari pasar.


"Biasa, Pak. Pengin sama Ayah," balas Arimbi lalu dia menaruh kerupuk itu di atas kerupuk yang lain. "Udah, ini, Bu, empat bungkus doang?" tanya Arimbi pada wanita yang duduk di teras.


"Sini ikut kakek sini! Ini kakek bawa jajan!" seru kakek Seno sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


"Iya lah, Mbak, empat bungkus kalau laku semua juga sudah alhamdulillah," ucap ibu sembari bangkit dari duduknya dan memiindahkan kerupuk itu di sela sela motornya. "Anaknya lucu ya, Mbak? Kayak anak saya. Kalau udah sama ayahnya, Ibunya kayak tidak dianggap."

__ADS_1


Arimbi lantas tersernyum, sedangkan Reyhan saat ini sudah masuk ke dalam rumah karena di iming imingin jajan oleh Pak Seno tadi saat pulang dari pasar. "Ya begitulah lah, Mbak. Kadang aku juga jemburu. Sama Ayahnya kayak gitu banget. Nanti kalau sudah sama Ayahnya, boro boro nyariin Ibunya."


"Hahaha ... sama, Mbak," sahut wanita itu sambil mengeluarkan sejumlah uang. "Tapi kok aku baru dengar Reyhan nyebut nyebut nama Ayah, Mbak?"


Pertanyaan pembeli itu langsung membuat Arimbi salah tingkah. Wanita yang sudah cukup lama menjadi langganan Bu Farida itu tentu tahu gosip tentang wanita hamil yang ada di rumah Bu Farida.


"Maaf, loh, Mbak bukanya aku mau nyinggung apa gimana?" wanita itu malah jadi tak enak hati karena Arimbi malah terdiam.


"Nggak apa apa, Mbak." Arimbi pun mengembangkan senyum tipis. "Kebetulan ayahnya memang ada di kota ini."


"Oh, ya syukurlah," pembeli itu tidak bertanya lebih lanjut karena merasa tidak enak. Setelah melakukan pembayaran, wanita itu pergi dan tak lama setelahnya Arimbi masuk ke dalam.


"Huu, anaknya siapa sih? Rewel banget dari tadi. Ayah mulu yang dicariin," ucap Arimbi sambil mencubit lirih pipi anaknya yang terlihat menggemaskan. Reyhan sendiri sedang asyik makan puding smpai belepotan. "nanti kalau ayah kamu pulang ke kota, gimana,m Rey? Kamu bakalan rewel nggak?"


"Ya kamu ikut aja ke kota, Mbi. Daripada nanti Reyhan rewel nggak ada obatnya," celetuk Pak Seno dari arah dapur membuat Arimbi membeku dan tepaku.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2