
"Sebaiknya kamu hati hati, orang seperti itu pasti punya banyak cara licik untuk mencapai tujuannya," nasehat seorang pria, pemilik beberapa bangunan berupa toko kepada salah satu penyewa toko yang baru saja mendapat ancaman.
"Beres, Pak, Aku pasti akan hati hati," jawab si penyewa toko yang tak lain adalah Riaanti, dengan wajah terlihat cukup sumringah.
"Tapi, Ri, kalau aku boleh saranin, mending kamu ikut Dandi ke kota deh. Demi keamanan kamu," ucapan laki laki lain yang ada di depan toko buah itu, membuat senyum Rianti memudar dan tatapannya cukup tajam menatap pria yang baru saja melempar pertanyaan kepadanya.
"Maksud kamu, Mas?" tanya Rianti kepada pria itu, yang merupakan suami dari sahabatnya dan lebih akrab dipanggil Agus.
"Bukankah kamu tahu, Dandi hendak ke kota untuk menemui orang tua kamu? Apa kamu sama sekali tidak ingin menemui orang tua kamu, Ri?" tanya Agus dengan tatapan cukup berani menatap wanita yang sepertinya tadi terlihat kesal, tapi tatapan wanita itu kini sedikit lebih sendu.
Rianti memilih tidak menjawab dan dia kembali kepada kegiatannya yang tadi sempat terhenti karena insiden pengancaman oleh pejabat kecamatan. Rianti kembali membuat jus kemasan meski hatinya sedikit bergetar saat ada yang menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan orang tuanya.
__ADS_1
Siapapun orangnya pasti jika berpisah dengan orang tua, sangat ingin menemui orang tua mereka. Apa lagi perpisahan yang terjadi sudah cukup lama. Begitu juga dengan Rianti, tidak mungkin wanita itu tidak merindukan orang tuanya. Apa lagi dia sama sekali tidak pernah mendapat kabar dari orang tuanya. Rianti hanya bisa menyampaikan rindu pada orang tuanya hanya melalui doa dan tangisan tiap dia teringat kepada mereka.
Dan kabar terakhir dari orang tua yang Rianti dengar hanya dari mulut Mirna, tetangga Rianti di kota, membuat wanita itu cukup terguncang dan rasa rindu serta rasa bersalahnya semakin menyiksa batin. Namun Rianti tidak tahu harus berbuat apa. Hatinya masih takut jika dia harus pulang dalam waktu dekat ini.
"Pulanglah, Nak. Jangan sampai egomu dan rasa takutmu membuat kamu menyesal dikemudian hari, jika kamu benar benar sudah tidak melihat orang tuamu di dunia ini," ucapan si pemilik toko sukses membuat gemuruh di dada Rianti. Wanita itu bahkan tidak sanggup melanjutkan pekerjaanya dan memilih diam sembari menunduk.
Pemilik toko duduk di bangku yang ada di depan meja permbuatan jus, di seberang tempat Rianti berada. "Aku tidak tahu masalah kamu dengan orang tua kamu seperti apa, aku sebagai orang tua yang memilik tiga anak, juga pernah berada di posisi kamu sebagai anak. Jauh dari orang tua tanpa kabar, itu sangat tidak menenangkan bukan?" Rianti terdiam meski hatinya membenarkan ucapan pemilik toko itu.
Rianti mendongak, menatap pria tua di hadapannya dengan mata berkaca kaca. Airmatanya menetes cukup deras, lalu dia menunduk lagi. "Pulang lah, Nak. Jangan biarkan egomu membuat kamu menyesal di kemudian hari. Selagi mereka masih hidup," nasehat pemilik toko lagi.
Di tempat lain, Randi baru saja tiba di rumah Eliza. Kedatangan pria itu dan juga Eliza di sambut Paman yang kebetulan saat itu sedang tidak berjualan dan baru pulang dari warung membeli makanan untuk ayam ayamnya. Randi yang saat itu akan langsung pulang malah diminta duduk dulu. Mau tidak mau, pria itu menuruti permintaan Paman iksan.
__ADS_1
"Gimana? Udah lega mencabut laporannya?" tanya Paman Iksan kepada Eliza dengan wajah yang sedikit ketus karena dia sangat menentang keputusan wanita itu.
"Ya lega nggak lega, Paman," balas Eliza dengan perasaaan yang sebenarnya tidak enak kepada Paman Iksan.
"Percuma banget kalau dilaporkan ke polisi tapi ujunng ujungnya dicabut laporannya," ungkap Paman Iksan yang tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. "Mending kalau dia tobat. Kalau dia semakin dendam, apa kamu bakalan tenang?"
Eliza langsung tertunduk. Dia juga sebenarnya memikirkan hal yang sama dengan apa yang dikatakan sang Paman. Namun, melihat orang tua Tejo yang bersedih dan memohon membuat sisi lembut Eliza tergerak hatinya untuk mengambil keputusan itu.
"Eliza sudah memaafkan kamu, Ran?" Randi yang sedari terdiam, cukup terkejut dengan pertanyaan sang Paman. Randi menatap Eliza yang nampaknya juga terkejut dengan pertanyaan itu. Randi yang terlihat bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut, membuat Paman Iksan mendengus.
"Buat yang hendak menodai, sangat mudah memaafkan, tapi untuk orang yang udah menolong, memaafkan aja nggak mau."
__ADS_1
...@@@@@...