
Sore itu suasana rumah makan yang mengusung menu menu makanan pedas dari tanah sunda terlihat begitu ramai. Menu yang memang enak dengan harga yang standar dikalangan masyarakat menengah ke bawah, membuat rumah makan yang di kelola tiga pria dewasa itu menjadi tempat favorit baru warga kotatersebut.
Selain menu makanan pedas, di rumah makan tersebut juga ada menu untuk anak anak atau orang yang dewasa yang tidak terlalu menyukai makanan pedas. Semua itu terpampang jelas dari lembaran menu yang tergelatak di setiap meja yang ada di sana.
Mata salah satu pria yang bertugas meracik hidangan memicing saat matanya menangkap wajah seorang pria yang datang dengan seorang wanita. Yang dia tahu, pria yang dia lihat itu adalah suami dari wanita yang dia kenal, tapi yang dlihatnya sekarang, pria itu malah terlihat mesra dengan wanita lain. Tentu saja pria bernama Dandi merasa geram dibuatnya.
"Sialan, sepertinya Rianti diselingkuhin," sungut Dandi dengan mata menatap tajam ke salah satu meja yang tidak jauh dari tempatnya berada.
"Diselingkuhin?" tanya Sandi yang mendengar umpatan sahabatnya.
"Tuh lihat!" tunjuk Dandi dengan tatapan matanya. Meja nomer empat. Itu suami Rianti loh. Kenapa dia kesini dengan cewek lain?"
Sandi dan Randi sontak mengedarkan pandangan mata mereka ke arah yang ditunjuk Dandi. "Saudaranya mungkin," ucap Sandi mencoba berpikir positif.
"Saudara darimana?" Dandi meninnggikan suaranya dengan nada sedikit lebih tinggi. "Lihat! mana ada saudara sampai cium tangan segala dan saling pegangan tangannggak mau lepas. Rianti harus tahu ini." Dandi melepas apronnya dan bergegas keluar dari dapur lewat pintu samping. Randi dan Sandi hanya mampu menggelengkan kepala mereka tanpa ada niat mencegah Dandi, lalu melanjutkan pekerjaannya.
Bukannya tidak profesonal, tapi memang hal itu sering terjadi diantara tiga pria itu jika sedang menjalani usahanya. Apa lagi makanan yang dijual mereka, terbilang mudah cara memasak dan menyajikannya. Jadi jika ada salah satu dari mereka yang mendadak pergi, dua temannya tidak protes sama sekali.
__ADS_1
"Ri, kamu harus ikut aku!" ucap Dandi tiba tiba begitu dia sampai di toko buah milik wanita masa lalunya. Rianti yang baru saja membuatkan jus pesanan pembeli tentu saja sangat terkejut karena Dandi tiba tiba datang dan menarik tangannya.
"Lepasin!" sentak Rianti sembari menyentak tangan Dandi. "kamu apa apaan sih? Kamu ngapin datang kesini lagi" Rianti malah terlihat emosi.
"Kamu harus ikut aku, Ri. Kamu harus tahu sesuatu," meski suaranya pelan, tapi Dandi tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.
"Harus? Apa hak kamu? Kamu siapa? Ngatur ngatur aku?" Walapun Rianti penasaran dengan sikap Dandi, tapi emosi wanita itu langsung bangkit begitu melihat wajah pria itu.
"Bentar doang, Ri, kamu ikutkut aku. Aku akan menunjukkan sesuatu," dandi sedikit memohon.
"Nggak! nggak sudi aku ikut kamu," tegas Rianti.
Kening Rianti sontak berkerut. "Lalu?"
Melihat respon Rianti yang terlihat santai, Dandi langsung menunjukkan rasa herannya. "Kamu nggak marah? Dia selingkuh loh, Ri."
"Emang kenapa kalau suamiku selingkuh? Apa urusannya sama kamu?"
__ADS_1
Fandi semakin dibuat takjub melihat reaksi wanita di hadapannnya. "Kamu nggak marah? Kamu rela suami kamu selingkuh? Dimana harga diri kamu sebagai wanita, Ri?" Dandi menjadi kesal dengan sikap wanita masa lalunya yang terlihat biasa saja.
Rianti malah tersenyum sinis. "Harga diri? Apa kamu pikir aku masih punya harga diri setelah harga diriku kamu injak injak?"
Deg!
Mata Dandi sontak membelalak. Tatapan pria itu seketika berubah menjadi tatapan yang tidak bisa diartikan dengan kata kata. "Ri," Dandi tak bisa brkata apa apa lagi.
"Sudahlah.Nggak perlu kamu repot repot ngerecoki hidup aku. Anggap aja kita tidak saling kenal, bisa kan? Bukankah ini yang kamu katakan, saat harga diriku, kamu injak injak!"
Dandi menghirup nafas dalam dalam, Dadanya sangat bergemuruh mendengar ucapan Rianti. Bukan karena emosi, melainkan karena rasa bersalah yang kembali hadir akibat perbuatannya dahulu kepada wanita itu. "Apa kamu sangat membenci aku, ri?"
"Sangat!" balas Rianti lantang. "Seandainya membunuh itu nggak dosa, aku sudah habisi nyawa kamu. Bahkan saat itu, saat kamu tertawa riang setelah mempermalukan aku dan keluargaku, saat itu juga aku ingin menghabisimu."
"Tapi, Ri. aku sungguh minta maaf. Aku tahu, mungkin kesalahanku sudah sangat keterlaluan sama kamu. tapi aku hanya ingin ..."
Nggak perlu drama!" bentak Rianti hingga ucapan Dandi terpotong. "Drama kamu itu sudah sukses membuat aku dibenci bahkan diusir dari rumah, paham!"
__ADS_1
Deg!
...@@@@@@...