TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Cukup Menegangkan


__ADS_3

"Saya tahu, Om, Om tidak akan mudah, percaya begitu saja dengan apa yang saya katakan," ucap Randi pada sepasang suami istri yang berada di hadapannya. Mereka adalah orang tau dari Eliza, wanita yang hendak Randi lamar. Sedari Randi datang, suasana tegang benar benar menyelimuti ruang tamu tersebut. "Om silakan saja menanyakan kebenaran berita itu kepada Ayunda dan Iren."


"Apa!" pekik Ayahnya Eliza. "Ayunda dan Iren mengetahuinya?" jelas sekali kalau orang tua Eliza sangat mengenal dua nama terrsebut. dua nama yang menjadi sahabat Eliza dari masa sekolah hingga kejadian pahit menimpa Eliza karena ulah Randi.


"Benar, Om, Ayunda dan Iren juga datang ke pernikahan calon memantu, Om dulu. Bahkan mereka berdua sempat membuat rusuh karena sangat marah dengan perbuatan calon menantu Om yang telah berselingkuh di belakang Eliza," terang Randi dengan segala rasa tenangnya.


Untuk sesaat ayahnya Eliza terdiam. Selain terkejut, dalam hatinya juta sedikit malu karena telah menuduh Randi dengan kembali memfitnah calon menantu yang sempat dia banggakan. Jika kehamilan istri dari calon menantunya sudah dua bulan, bisa jadi Eliza akan dipoligami nantinya.


Sedangkan Ibunya Eliza, sedari tadi memang lebih banyak diam. Meskipun banyak pertanyaaan yang tumbuh dalam benaknya, tapi sebagian pertanyaan itu dia tahan dan sebagaian lagi sudah terwakilkan oleh suaminya. Dada wanita itu sangat berkecamuk hebat jika memkirkan nasib yang dialami oleh anaknya.


"Apa kamu pikir, dengan mengatakan hal itu, saya akan sangat mudah percaya lagi sama kamu?" suara ayahnya Eliza kembali menggema. "Perbuatan kamu itu sungguh sangat fatal, tapi kamu masih berani melamar anak saya? Konyol sekali!" lagi lagi Ayahnya Eliza terlihat meremehkan.


Meskipun begitu, Randi tetap berusaha bersikap tenang. Biar bagaiamanapun, yang merusak kepercayaan orang tua Eliza adalah dirinya sendiri. "Saya tahu, Om, perbuatan saya sangat fatal. Tapi saya benar benar ingin menikahi Eliza karena saya ingin melindungi anak Om dan Tante."

__ADS_1


"Melindungi dari hal apa!" seru Ayahnya Eliza. "Sedangkan penjahatnya itu kamu sendiri orangnya."


"Dari orang orang yang hendak menodainya, Om. Eliza dua kali hampir saja dinodai oleh dua pria yang berdeda."


"Apa!"


Selain orang tua Eliza yang terkejut dengan cerita dari Randi, di tempat lain, orang tua Rianti juga terkejut dengan apa yang dikatakan Dandi beberapa waktu yang lalu.


"Rianti ada di rumah kamu? Bagaimana bisa?" ayahnya Rianti terlihat antara percaya dan tidak percaya dengan ucapan Dandi. "Bagaimana mungkin anak saya ada di rumah kamu? Aku yakiin kamu itu tidak tahu Rianti berada di mana saat ini?"


"Toko buah?" sekarang giliran Ibunya Rianti yang mengeluarkan suaranya. Tentu saja suara itu keluar karena dia sangat terkejut dengan apa yang dia dengar dari mulut Dandi. "Kamu tahu dimana Rianti berada?" Raut wajah terkejut juga tidak bisa disembunyikan dari ayahnya Rianti saat ini.


"Saya tahu, Tante," jawab Dandi dengan tenang. "Kebetulan, tempat cabang usaha saya, dekat toko buah milik Rianti, anak Tante. Selama pergi dari rumah, Rianti ditolong oleh sahabat dan suami dari sahabatnya sampai Rianti memiliki toko buah. tapi beberapa bulan yang lalu, Rianti kerap sekali mendapat teror yang mengancam dia."

__ADS_1


"Apa! Teror!"


Jika Randi dan Dandi masih mengalami ketegangan, berbeda dengan yang dialami Sandi saat ini. Suasana di rumah yang didatangi Sandi dan anaknya nampak begitu hening dengan segala rasa haru yang terlihat jelas di raut wajah dua orang tua Arimbi.


"Maaf, Om, dulu mungkin saya memang bukan laki laki yang bisa bertanggung jawab, tapi setelah anak saya segede ini, saya sadar, kalau saya sangat salah telah memperlakukan anak Om dan Tante dengan sangat tidak baik. Maka itu, saya ingin memperbaiki kesalahan saya, dengan menkahi Arimbi dan merawat anak kami bersama sama, Om," ucap Sandi lagi, karena sejak beberapa saat yang lalu, orang tua Arimbi tidak merespon ucapannya, begitu Sandi memberi tahu kedatangannya ke rumah ini.


"Lalu dimana Arimbi sekarang?" pertanyaan itu keluar dari mulut ibunya Arimbi dengan suara pelan karena menahan tangis. "Apa dia masih di kampung?"


"Saat ini dia ada di rumah saya, Tante," jawaban yang keluar dari mulut Sandi kembali membuat oran tua Arimbi terkejut.


"Di rumah kamu? Kenapa nggak ikut kemari?"


"Arimbi takut, Om dan Tante masih marah sama dia."

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2