
Kabar bahagia yang dibawa tiga pria itu tentu saja sangat disambut hangat oleh keluarga msing masing. Mereka bahkan langsung membahas pernikahan yang harus secepatnya dilaksanakan. Mengingat usia para tiga pria yang hampir menginjakan usia di angka dua puluh delapan tahun, jadi semua anggota keluarga sepakat, acara pernikahan harus dilangsungkan secepatnya.
Rasa bahagia juga saat ini sedang dirasakan oleh wanita masing masing. Mereka malam ini bisa kembali berkumpul dengan orang orang yang mereka riindukan. Meski mereka tidak ada niat untuk tinggal kembali di rumah itu, tapi setidaknya hubungan silaturahmi yang sempat terputus kini sudah tersambung kembali. Mereka menikmati malam mereka dengan kembali berbagi cerita hingga saat menjelang tidur tiba.
Tok! Tok! Tok!
"Udah tidur, nak?" ucap seseorang dengan suara agak pelan setelah mengetuk pintu salah satu kamar.
"Belum, Yah, masuk aja, nggak dikunci," sahut seseoang dari dalam.
Pintu pun terbuka dan nampak seorang pria paru baya tersenyum sembari masuk dan melangkah mendekati anaknya. Pria itu tersenyum dan menatap anak kecil yang sudah terlelap di ranjang yang pria itu duduki. "Anak kamu udah gede, Mbi," ucap pria itu yang tak lain adalah ayahnya Arimbi.
Arimbi lantas tersenyum sembari menngusap rambut anaknya. "Seperti yang Ayah lihat, Reyhan tumbuh dengan baik, Yah."
Pria itu menghembus nafasnya yang terasa berat. "Sayang sekali, ayah tidak turut hadir dan mengawasi cucu Ayah yang satu ini."
Arimbi sontak mengalihkan pandangannya kepada pria yang sangat dia hormati. "Nggak apa apa, Ayah. Yang penting kan sekarang Ayah sudah bisa melihat cucu ayah sampai dewasa kelak."
__ADS_1
Pria itu lalu mengubah arah pandangannya ke beberapa foto yang tertempel di dinding. "Maaf kan ayah, nak. Ayah benar benar telah membuat hidup kamu menderita."
Sementara itu di malam yang sama, tapi di rumah yang berbeda.
"Apa papah boleh masuk?" tanya seorang pria paru baya setelah mengetuk pintu kamar dan mendengar sahutan dari dalam kamar tersebut yang menandakan kalau penghuninya belum terlelap.
"Masuk aja, Pah," sahut penghuni kamar sembari langsung duduk dari berbaringnya. Begitu pintu terbuka, pria itu tersenyum dan melangkah mendekati anaknya yang baru saja kembali menempati kamar itu. Pra itu duduk di tepi ranjang dmana anak perempuan itu berada. "Ada apa, Pah?"
Pria paruh baya itu tersenyum. "Tidak ada apa apa, Nak. Papah pengin ngobrol aja sama kamu," jawab pria itu. Namun bukannya memulai obrolan, pria itu malah terdiam sambil melihat foto anaknya yang terpajang di dinding.
Papah terkesiap dan secara spontan membalas tatapan anaknya. Namun itu tak berlangsung lama, karena setelahnya, pria itu menunduk. "Apa Paman kamu dalam keadaan sehat?"
Eliza sontak tersenyum dan mendekat ke ayahnya. Wanita itu duduk di samping pria itu. "Tentu saja sangat sehat. Paman Iksan pria yang kuat, Pah."
Sang papah tersenyum tanggung. "Padahal dia dulunya penyakitan, waktu kecil dia sangat pemalas."
"Benarkah?" tanya Eliza dengan mata berbinar. Hatinya cukup senang saat Papah mengatakan hal itu. Eliza tahu kalau Papahnya juga pasti merindukan adiknya itu.
__ADS_1
"Mungkin karena Papah dulu sering marahin dia karena suka menghamburkan uang, jadi dia marah dan akhirnya kita bertengkar. Padahal maksud Papah, Papah hanya ingin menasehati dia."
Eliza pun tersenyum lalu dia melempar pertanyaan kepada sang Papah dan secara tidak sadar pria itu pun menceritakan masa lalu dirinya dengan sang paman.
Masih di malam yang sama tapi di tempat berbeda juga, seorang pria juga meminta ijin masuk ke dalam kamar anaknya yang baru menempati salah satu kamar dari rumah itu. Sang anak cukup kaget saat pria tua yang dia panggil Papah meminta ijin memasuki kamarnya dan sang anak pun mempersilakan.
Belum tidur, Ri?" tanya sang Papah begitu duduk di tepi ranjang dimana anaknya berada. Suasana canggung langsung terasa, karena ayah dan anak itu tidak pernah duduk berdua seperti ini sepanjang hidup mereka.
"Belum, Pah," jawab sang anak yang tidak lain adalah Rianti. "Papah ada perlu sama Rianti?" tanya si anak dengan suara pelan.
Pria itu lantas tersenyum sambil memandangi foto anaknya yang memakai baju toga. "Nggak terasa waktu sangat cepat berlalu, dan kamu sudah menjadi wanita yang dewasa ya, Ri."
Rianti lantas tersenyum. "Iya, Pah," cuma itu yang biasa Rianti katakan untuk saat ini karena dia bingung mau ngomong apa.
Sang Papah lalu menunduk dan menghela nafasnys dalam dalam. "Maafkan Papah, Ri, selama ini Papah benar benar tidak pernah bersikap adil sama kamu."
...@@@@@...
__ADS_1