
Masih di malam yang sama, suasana tegang juga saat ini tengah terjadi di salah satu rumah. Beberapa orang nampak tengah berdebat dengan adanya kabar kalau salah satu keluarga mereka yang pergi dari rumah, sudah ada di kota ini. Mereka cukup terkejut mendengar kabar itu, dan mereka segera menyempatkan waktu untuk berkumpul.
"Jadi Eliza selama ini tinggal di rumah Paman Iksan? Kok bisa?" tanya kakak Eliza yang tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. "Apa selama ini Eliza sering berhubungan dengan Paman Iksan, Pah?"
"Papahmu bakalan tidak tahu kalau soal itu," Mamahnya Eliza yang menjawab dengan segala kekesalannya. "Papah kalian itu sangat yakin kalau Eliza tidak mungkin berada di sana. Entah apa yang ada di dalam pikiran Papah kalian, setiap Mamah minta ke rumah Iksan, selalu menolak dengan segala alasan. Terbukti kan, kalau firasat Mamah benar?"
"Tapi yang bikin aku heran, kok bisa Eliza memilih pergi ke rumah Paman Iksan? Darimana dia tahu alamat rumah Paman? Soalnya aku sendiri juga lupa lupa ingat," ucap Kakaknya Eliza.
"Nah, sama," Kakak yang lain ikut menimpali. "Terakhir kesana, sekitar sepuluh tahun yang lalu kan? Lama banget."
"Mamah malah bersyukur Eliza berada di sana. Setidaknya dia Pamannyaa sendiri, nggak terlalu kekusahan hidupnya. Berbeda tuh sama Papah yang sangat yakin anaknya pasti bakalan kesusahan. Entahlah, Mamah nggak ngerti dengan jalan pikiran Papah kalian. Mungkin kalau Mamah berpisah dengan Papah kalian, baru Papah bisa mengerti."
"Astaga!" semua yang mendengar ucapan Mamah kembali dibuat terkejut, tak terkecuali Papahnya Eliza. Pria itu sedari tadi diam, tidak membantah ucapan istrinya sama sekali seperti biasanya. Dari kemarin, sejak kedatangan Randi ke rumah itu, Papahnya Eliza dibuat tidak berkutik dengan setiap ucapan yang keluar dari istrinya.
"Ya jangan ambil keputusan seperti itu dong, Mah? Kan masih ada cara lain? Semua masih bisa dibicarakan baik baik, Mah," ucap Kakaknya Eliza sembari mendekat dan duduk di sebelah Mamahnya untuk menenangkan wanita yang telah melahirkannya.
__ADS_1
"Tapi papah Kalian yang tidak bisa diajak bicara baik baik," sang Mamah masih dalam kekesalannya. "Selama ini Mamah ngalah loh ya. Coba kalian pikirkan, Papah kalian lebih mentingin saran orang lain daripada saran mamah. Kalau dari dulu Papah kalian mau menuruti saran Mamah untuk mencari Eliza di rumah Iksan, Mamah tidak perlu kehilangan adik kalian sampai tiga tahun lamanya."
"Ya udah sih, Mamah yang sabar, yang penting kita sudah tahu, keberadaan Eliza sekarang," ucap kakaknya Eliza lembut sambil menggenggam telapak tangan mamahnya. "Terus, soal lamaran Randi gimana? Apa Papah dan Mamah menerimanya?"
"Kalau itu Mamah belum tahu, tapi kalau Eliza bahagia dengan Randi ya apa boleh buat. Lagian usia Eliza sudah tidak muda lagi," jawab Mamah.
"Papah sendiri gimana?" tanya sang kakak kepada pria yang sedari tadi lebih banyak diam karena kalah suara dengan istrinya. Namun di saat pria itu hendak menjaawab pertanyaan dari anaknya, sebuah suara tiba tiba terdengar dan secara otomatis membuat Papahnya Eliza mengurungkan sejenak suaranya.
"Maaf, Bu, pak, di luar, ada neng Eliza."
"Apa!"
Sementara itu, di tempat yang berbeda. Tepatnya di sebuah gedung perkantoran, nampak seseorang sedang fokus menatap layar laptopnya. Padahal hari sudah gelap, tapi pria itu nampaknya masih sibuk dengan pekerjaannya. Kefokusan orang itu sedikit terganggu saat sebuah suara ketukan pintu yang ada di ruangannya menggema.
"Masuk!" titah orang itu dengan lantang. Saat matanya beralih pandang, dia menangkap dua sosok yang dia kenal, masuk ke dalam ruangannya. Dua sosok itu melangkah ke arahnya dan duduk di kursi yang ada di seberang meja kerjanya. "Ada apa?"
__ADS_1
Dua sosok itu menyeringai. "Kita mau laporan, bos. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya tadi melihat target yang bos cari ada di restorannya," ucapan salah satu dari tamunya, membuat orang itu terkejut. orang yang masih memakai baju kerja lengkap dengan dasinya.
"Apa! Kamu yakin?" orang itu langsung menatap tamunya dengan tatapan terkejut.
"Sangat yakin, Bos," salah satu tamunya kembali bersuara. "Mereka orang yang sama dengan foto yang anda kasih, Bos."
Orang yang dipangggil bos sontak menyeringai. "Berarti mereka sudah kembali?"
"Sepertinya begitu, Bos. Tapi mereka tidak hanya bertiga."
"Tidak hanya bertiga? Maksudnya?" tanya sang bos dengan wajah terkejut kembali.
"Ya, mereka bersama tiga wanita dan seorang anak kecil, Bos."
"Apa!"
__ADS_1
...@@@@@...