
Seperti yang sudah di rencanakan, saat malam kembali menyapa, ketiga keluarga dari tiga pria terlihat sedang berkumpul di rumahnya masing masing. Setelah lamaran yang dilakukan oleh tiga pria pada tiga wanitanya, sekarang gantian para orang tua dari tiga pria yang harus menghadapi orang tua tiga wanita untuk melamar anak mereka secara resmi.
"Mah, bisa lebih cepat sedikit nggak!" seru seorang pria kepada Ibu yang melahirkannya, yang saat ini sedang merias diri di dalam kamar. "Reyhan sudah rewel nyariin Sandi loh."
"Sebentar lagi! Bawel amat sih jadi anak!" Mamah malah menghardiknya. "Orang ini Mamah juga lagi cepat cepat."
"Udah San, sabar dikit lagi, kayak nggak tahu Mamah kamu aja kalau lagi make up," Papah mencoba menasehati. Pria yang sudah lama menjadi pendamping hidup Mamamhnya Sandi itu memang sudah hafal betul segala sikap dan tingkah serta kebiasan istrinya.
Sandi pun hanya mendengus lalu menghampiri Papah dan adiknya yang sudah siap terlebih dahulu. Pria itu langsung mengecek ponselnya karena khawatir anaknya rewel.
"Papah kayaknya tegang banget, kenapa, Pah?" pertanyaaan yang keluar dari mulut Sandrina langsung mengalihkan pandangan Sandi ke arah Papahnya.
"Gimana nggak tegang, soalnya pertama kalinya melamar anak orang, eh, karena anak kita yang berbuat salah. Bukan melalui jalur kebenaran," jawab Papahnya Sandi yang membuat kedua anaknya cukup tercengang.
"Jalur kebenaran? maksud Papah? Lewat jihad gitu?" tanya Sandrina lagi.
"Bukan!" bantah Papah. "Maksudnya, kalau lewat jalur kebenaran, kan tanpa ada masalah serius sebelumnya. Nah ini, Abangmu mau punya istri lewat jalur yang bikin malu. Harus jadi pria brengsek dulu baru punya istri," Sandrina sontak tersenyum lebar, sedang Sandi hanya mencebikkan bibirnya karena ucapan Papah selalu sukses menyindir anak lelakinya.
__ADS_1
Sementara itu di malam yang sama tapi di tempat berbeda.
"Papah jangan tegang gitu dong? Santai," ucap seorang anak pada pria paruh baya yang jelas sekali sedari tadi menunjukkan rasa gelisahnya. Pria itu bahkan beberapa kali mondar mandir dari teras rumah lalu masuk, terus keluar lagi.
"Gimana nggak tegang, Papah itu sangat grogi," jawab Papah jujur, dan jawaban itu cukup menjadi perhatian bagi orang orang yang ada di ruang tamu, terutama seorang pria, putra dari anak itu.
"Ya wajar, Mah, Papah panik. Dulu Papahku juga gitu waktu aku mau melamar kamu, dia panik sekali," celetuk seorang pria yang merupakan menantu di rumah itu.
"Kalau Papah sih Paniknya bukan hanya lamarannya, tapi siapa yang akan ditemui Papah malam ini," sahut seorang wanita yang baru saja keluar dari kamar dengan dandanan yang sangat paripurna, istri dari pria yang saat ini sedang dilanda panik.
"Ya nggak, enggak ada, tapi kan Papah paniknya karena masih punya malu," jawab sang Mamah.
"Lah, Malu kenapa? Kan cuma ngelamar doang?" Randi membaalas ucapan Mamahnya dengan enteng, tapi si Mamah malah menatap anaknya itu dengan tatapn sinis.
"Masalahnya yang mau dilamar itu wanita yang pernikahannya sudah kamu hancurkan dengan segala fitnah keji. Dikiranya orang tua kamu tidak punya malu apa gimana? Mikir!"
Randi sontak terkesiap. Pria itu sampai tidak bisa membalas ucapan Mamahnya, lalu memandang ke arah Papahnya dengan perasaan yang tidak enak hati.
__ADS_1
Dan di rumah Dandi, sama seperti orang tua dari dua sahabatnya, orang tua dari pria itu juga terlihat cukup tegang. Tapi sebagai anak, Dandi tidak cukup peka. Pria yang usianya hampir menginjak angka dua puluh delapan tahun itu malah asyik bermain dengan keponakannya, yaitu anak dari kakaknya.
"Papah jangan terlalu tegang sih," ucap anak pertamanya yang saat itu memang bisa melihat kegelisahan orang tua itu.
"Gimana Papah nggak tegang, bisa bisanya, Papah akan melamar anak orang tapi orang yang sama. Mana lamaran kedua ini pake acara bikin malu segala lagi," balas sang papah.
"Bikin malu? Bikin malu gimana, Pah?" tanya seorang wanita muda, istri dari anak pertama, yaitu kakaknya Dandi.
"Ya itu, karena kelakukan adik kalian! Coba kalau dulu nggak punya ide konyol menghancurkan pernikahannya sendiri dengan cara menfitnah Rianti, mana mungkin Papah akan malu untuk melamar anak orang itu. Entah pikiran Dandi itu terbuat dari apa, sampai nggak mikirin rasa malu orang tuanya."
"Ya ampun, Pah, Dandi kan udah minta maaaf," Dandi terlihat tidak terima karena kesalahannya selalu saja diungkit.
"Maaf sih mudah, tapi menghapus malunya itu, kamu bisa hilangin nggak?" balas Papah yang kini malah terlihat kesal.
"Udah udah! jangan ribut, ayok kita berangkat. Bismillah aja, semoga semuanya lancar," ucap sang Mamah yang saat itu baru saja keluar kamar. Perdebatan pun terhenti dan semuanya segera bersiap diri untuk pergi.
...@@@@@...
__ADS_1