
Siang itu suasana rumah makan khas sunda yang ada di sebuah kota kecil terlihat cukup ramai. Dari sekian banyak pengunjung, lebih banyak anak remaja ataupun anak muda yang mendominasi. Mereka berdatangan saat jam santai seperti jam pulang sekolah sampai hari menjelang petang.
Meski di sana ada seorang anak kecil, tapi ayah dari anak itu tidak terganggu sama sekali dalam memberi pelayanan kepada para pembeli. Anak kecil itu justru malah nampak senang berada di tempat itu karena apapun yang dia inginkan selalu dipenuhi oleh sang ayah selama permintaan si anak masih dalam tahap wajar.
Sandi juga cukup senang dengan adanya bocah kecil di sana, pria itu lebih bersemangat dalam memberi pelayanan. Seakan kedatangan Reyhan menambah semangat baru bagi pria tersebut. Bahkan semangat yang timbul dalam diri Sandi, menular pada dua sahabat Sandi yang berdiri di sisi kanan dan kirinya.
Empat karyawan yang kerja di rumah makan itu juga tidak terlihat kerepotan dengan adanya anak kecil di sana. Mereka bahkan dengan suka rela bergantian untuk berjaga atau mengajak anak kecil itu bermain di taman kota. Reyhan semakin senang jika sudah berada di tempat yang ada permainan favoritnya itu.
Saat hari menjelang sore, Sandi dikejutkan dengan datangnya dua wanita beda usia di tempat usahanya. Meski wajah dua wanita itu tidak menunjukkan wajah ramahnya, Sandi sebagai pihak yang sedang disalahkan hanya cukup pasrah dengan bersikap sabar menghadapi kedua wanita tersebut.
"Bu Farida, Arimbi, masuk, Bu," seru Sandi dari arah dapur. Kelihatan tidak sopan memang, tapi Sandi terpaksa melakukannya karena dia saat ini tidak bisa meninggalkan kompor yang menyala begitu saja. Karena disaat yang sama, Sandi sedang meracik pesanan milik pelanggan, jadi dia tidak sempat menghampiri dua wanita itu.
Mata Bu Farida dan Arimbi berkeliling sekitar rumah makan dan kedua wanita itu cukup terkejut karena mereka tidak menemukan bocah yang ada tempat itu. Sandi begitu selesai mengolah pesanan sang pelanggan, langsung melangkah menghampiri dua wanita yang masih berdiri di depan rumah makan.
__ADS_1
"Ibu nyari Reyhan? Reyhannya sedang tidur di kamar, Bu," ucap Sandi. Tanpa menunggu dua wanita itu bertanya, Sandi cukup mengerti dengan gelagat dua wanita itu yang sempat Sandi perhatikan.
"Apa Reyhan tidak rewel?" tanya Bu Farida. Meski sedikit ketus, sikap wanita itu tidak segalak tadi pagi saat menampar Sandi.
"Dia anteng kok sedari tadi. Malah habis makan, anaknya langsung tidur," terang Sandi masih bersikap biasa saja. "Ibu sama Arimbi lebih baik duduk dulu, sambil nunggu Reyhan bangun."
Mau tidak mau dua wanita itu menuruti permintaan Sandi. Mereka tidak mungkin memaksa untuk membangunkan Reyhan. Biar bagaimanapun mereka marah marah pada Sandi, tapi mereka juga cukup senang karena Reyhan diperlakukan dengan baik oleh ayahnya.
"Ibu dan Arimbi mau makan apa? Nanti biar aku buatkan?" tawar Sandi begitu dua wanita itu duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
"Tapi kan Reyhan lagi tidur, Bu. Sambil nunggu Reyhan bangun, lebih baik Ibu dan Arimbi aku bikinin sesuatu ya?"
"Terserah kamu aja," jawaban Bu Farida cukup membuat Sandi senang. Pria itu lantas kembali menuju dapur untuk meracik menu yang akan dia hidangkan unttuk dua wanita itu.
__ADS_1
"Sepertinya Reyhan sangat betah main di sini, Mbi," ucap Bu Farida beberapa saat kemudian setelah Sandi meninggalkan mereka. "Kalau sampai dia tertidur disini, bebarti bocah itu memang senang berada dekat dengan ayahnya."
"Yah, aku juga kaget, Bu. Makanya aku tadi sempat nggak enak saat Mas Mulyadi datang buat jemput Reyhan, eh, anak itu malah nolak," balas Arimbi sambil berpindah tempat duduk agar menghadap ke arah jalanan.
"Apa Mulyadi terlihat marah?" tanya Bu farida.
"Sepertinya sih marah, Bu. Tapi ya bukankah itu lebih bagus, Bu. Aku nggak mau Reyhan nantinya tergantung sama pria itu," ucapan Arimbi mendapat anggukan dari wanita yang duduk di sebelahnya.
"Lalu rencana kamu apa dengan Mulyadi? Apa kamu akan menerima niat dia untuk menikahi kamu?"
Arimbi sontak mengangkat dua pundaknya. "Aku tidak tahu, Bu. Sepertinya aku tidak bisa menjalin hubungan dengan dia. Ibunya Mas Mul juga kayaknya nggak senang sama aku."
Baru saja Arimbi mengakhiri ucapannya, wanita yang baru saja Arimbi ceritakan malah datang di tempat yang sama dengan Arimbi.
__ADS_1
...@@@@@...