
"Bapak yakin? Kalau dia orangnya?" tanya Rianti pada polisi dengan tatapan tidak percaya. Sungguh Rianti sangat syok dengan apa yang baru saja dia dengar. Dandi yang duduk di sampingnya juga cukup terkejut. Tapi dia masih bisa bersikap tenang agar Dandi juga bisa menenangkan Rianti.
"Sesuai pengakuan dari tiga orang yang kami tangkap, Bu. Mereka mengakui dan mengatakan kalau pria bernama Romi yang menjadi otak kejadian yang menimpa anda," jawab Pak polisi dengan tenang tapi suaranya terdengar tegas dan berwibawa. "Ibu tunggu saja, mungkin sebentar lagi orangnya akan datang."
Tangan Rianti terkepal dengan kencang. Jelas sekali terlihat dari sorot matanya kalau wanita itu sangat marah, kaget dan kecewa. Rianti tidak menyangka, orang yang selama ini terlihat baik dan bersikap santun, ternyata memiliki sisi lain yang mengerikan juga. Dandi sendiri tidak bisa berbuat apa apa untuk saat ini. Dia hanya bisa mampu menggerakan tangannya untuk mengusap punggung Rianti sesekali, agar wanita itu bisa mengontrol emosinya.
"Itu, mereka datang!" tunjuk Pak polisi. Rianti dan Dandi sontak menoleh ke arah mobil polisi yang baru saja masuk ke dalam halaman kantor polisi. Tak lama orang orang yang ada di dalam mobil pun keluar. Benar saja, salah satu dari orang itu adalah Romi, pria yang selama ini mengejar cinta Rianti tapi berkali kali ditolaknya. Romi nampak terkejut saat melihat Rianti sudah ada di kantor polisi dengan tatapan penuh kebencian.
"Maafkan aku, Ri," ucap Romi pelan sambil menunduk, saat tubuh mereka saling menghadap. Rianti hanya terdiam dengan segala amarah yang dia pendam. Romi digiring ke ruang tahanan bersama yang lainnya.
"Kita keluar dulu, Ri," ajak Dandi. "Nanti kalau kamu sudah bisa mengendalikan emosi kamu, kita temui Romi. Ya?" Rianti tidak merespon, tapi saat tangan Dandi menariknya untuk keluar, tubuh Rianti pun bergerak dengan langkah pelan. Keduanya duduk di depan kantor polisi di sebelah kanan, dimana memang ada kursi kayu panjang di sana.
"Sejak kapan kamu kenal dengan Romi, Ri?" tanya Dandi beberapa menit kemudian saat Rianti terlihat sudah lebih tenang.
__ADS_1
"Beberapa bulan yang lalu di rumahnya Mas agus," jawab Rianti dengan tatapan mengarah ke arah jalan raya.
"Alasan apa yang membuat kamu menolak dia?" dengan hati hati Dandi memilih pertanyaan agar tidak menyinggung perasaan wanita yang duduk satu kursi dengannya.
"Kamu yang lebih tahu jawabannya," jawaban Rianti malah membuat Dandi terkejut. Namun Dandi tidak bisa mengambil sikap pura pura karena dia memang memiliki andil besar dalam trauma yang terjadi pada Rianti.
"Ya udah. Nanti setelah aku menemui orang tua kamu, entah itu dapat restu atau tidak, aku akan tetap menikahi kamu," apa yang dikatakan Dandi seketika membuat Rianti langsung menoleh. "Aku serius. Apa kita menikah dulu baru menemui orang tua kamu?"
"Ya gimana lagi? Orang inti dari pertemuan kita kali ini kalau kita itu sebenarnya berjodoh."
"Hih! Kamu kok ngomongnya jadi bawel kayak Tiwi sih?" sungut Rianti sembari melirik tajam. "Orang lagi ada masalah, ngomongnya niikah mulu. Aku tuh penasaran, kalau Romi memiliki rencana seperti itu, lalu bagaimana dengan Lila? Apa Romi tidak jadi melaporkannya?"
"Lila itu cewek yang neror kamu?" tanya Dandi, dan Rianti langsung mengangguk. "Nah, perlu di cari tahu itu! Jangan jangan mereka memang ada apa apa."
__ADS_1
Di saat bersamaan, sebuah motor masuk ke halaman kantor polisi. terlihat dua orang yang nampaknya adalah suami istri, turun dari motor itu dan melangkah cepat memasuki kantor polisi. Entah apa yang mereka katakan kepada polisi, suami istri itu kembali keluar dari kantor polisi, tapi menoleh ke arah Rianti dan Dandi. Dandi Dan Rianti pun hanya menatap kedua orang itu tanpa ekspresi.
Namun tak lama kemudian dua orang itu mendekat ke arah Rianti dan langsung bersimpuh di hadapan wanita itu. Mata Rianti seketika membelalak, begitu juga dengan Dandi yang sama terkejutnya. "Mbak Rianti, tolong, maafkan anak saya. Tolong jangan penjarakan Romi, Mbak, saya mohon."
Rianti terpaku. Dua orang yang sedang bersimpuh di hadapannya ternyata orang tuanya Romi. Rianti terbungkam, dan juga bingung. Entah apa yang harus dia katakan kepada mereka. Lidah Rianti terasa kelu dan seperti kesulitan mengeluarkan kata kata.
"Ibu dan bapak tahu kan, kalau perbuatan anak kalian sudah sangat diluar batas?" Dandi yang membalas ucapan Ibunya Romi.
"Saya, tahu, tapi itu bukan sebenarnya bukan perbuatan Romi, Mas," ucap Ibunya Romi. "Romi diancam, oleh keluarganya Lila."
"Apa!"
...@@@@@...
__ADS_1