
"Ayah!"
Sandi yang sedang asyik bercengkrama dengan keluarganya seketika menegang mendengar suara itu. Sandi sangat kenal dengan pemilik suara yang baru saja berteriak dan sudah dipastikan sesuatu akan terjadi kali ini. Keluarga Sandi sendiri masih acuh saat mendengar suara bocah yang memanggil ayahnya. Karena mereka memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Sandi di sini.
Sandi langsung menoleh dan apa yang dia pikirkan benar benar sesuai dengan kenyataan. Kening ketiga orang yang saat ini sedang duduk bersama Sandi langsung berkerut saat mata mereka menangkap sosok bocah laki laki melangkah dengan lucunya mendekati Sandi. Wajah pucat juga ditunjukkan dua sahabat Sandi yang melihat kejadian di depan mata mereka.
"Waduh! bakalan seru nih," celetuk Randi.
"Kayaknya bakalan ada drama seru," sahut Dandi.
"Gawat kalau kayak gini. Mana warung lagi rame lagi, aduh."
"Udah, kita lihat saja. Semoga tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan."
Sandi sendiri saat ini perasaaanya sangat tidak tenang. Entah akan semurka apa jika orang tuanya tahu kalau bocah yang saat ini mereka lihat adalah anak kandung Sandi karena perbuatan nakalnya.
"Ayah, gendong," bocah itu malah merengek dan Sandi tidak mungkin berani mengabaikannya. Apa lagi tadi Sandi sempat melihat kalau anak ini datang dengan tukang ojeg, sudah pasti anak ini menangis minta kesini dan Ibunya tidak mau mengantarkannya.
"Siapa dia, Bang? Kok manggil kamu ayah?" tanya Sandrina sambil menikmati hidangan yang cukup pedas dengan diiringi rasa terkejut saat melihat kakaknya mengendong anak kecil.
__ADS_1
Sandi terdiam beberapa saat. Dia tidak langsung menjawab karena Sandi harus mengumpulkan keberanian terlebih dahulu. Untuk berbohongpun sepertinya tidak mungkin karena bisa saja suatu saat nanti orang tuanya juga akan tahu tentang anak kecil itu.
"Lihat deh, Pah. Wajahnya kok bisa mirip Sandi saat bayi," celetuk Ibunya Sandi dan tentu saja celetukannya semakin membuat tegang pria yang saat ini sedang memangku anaknya. "Dia anaknya siapa sih, San? Kok bisa mirip banget sama kamu pas masih bayi?"
Sandi tersenyum tanggung. "Wajar kalau dia mirip, dia memang anakku, Mah."
Tiga orang yang berada di hadapan Sandi langsung tercengang mendengarnya. "Anak kamu?" Seru kedua oranv tua Sandi.
"Kalau bercanda jangan keterlaluan lah, San," sungut sang Ibu.
"Bener, Mah, ini anak Sandi. Mamah masih ingat dengan cewek yang bernama Arimbi nggak?"
"Astaga, aku ingat!" seru Sandrina. "Arimbi mantannya Bang Sandi yang dijadikan taruhanan kan? Ya ampun, Bang."
"Apa!" suara Papah langsung menggelegar sampai semua orang menoleh ke arah pria itu. "Kamu lagi nggak bercanda kan, San?" sang papah mencoba menepis pemikirannya sendiri setelah mengingat nama Arimbi dan apa yang diperbuatnya tiga tahun yang lalu.
"Kita bicara di kamar aja, Pah. Nggak enak, banyak pembeli," pinta Sandi. Awalnya papahnya menolak, tapi begitu dibujuk oleh istrinya, pria itu terpaksa setuju. Mereka semua langsung berpindah tempat ke lantai atas dimana kamar Sandi dan dua sahabatnya berada.
"Bagaimana ceritanya kamu bisa memiliki anak segede ini, San? Bagaimana hah?" si Mamah langsung mengungkapkan pertanyaannya begitu mereka semua sudah berada di dalam kamar. Mau tidak mau Sandi menceritkan kembali kisahnya dicampur kisah pertemuannya dengan Arimbi di kampung ini.
__ADS_1
"Astaga! benar benar kurang ajar kamu, San! Jika nggak ada anak ini, sudah aku hajar kamu!" bentak papah dengan tangan yang sudah terkepal, begitu mendengar cerita dari anaknya. "Bisa bisanya kamu menelantarkan darah daging kamu sendiri. Ajaran dari siapa itu, hah!"
"Maaf, Pah, Sandi tahu Sandi salah. Makanya Sandi kali ini benar benar akan bertanggung jawab."
"Tanggung jawab itu harusnya sedari dulu!" bentak Papah. "Kenapa kamu nggak memakai pakaian Sandrina aja sih kalau mau jadi pengecut seperti itu!"
"Terus Arimbinya mana? Kenapa ini anak datang ke sini sendirian?" ucap Mamah sambil tanganya terulur untuk menggendong cucunya, tapi Reyhan malah menolak dengan memeluk leher Sandi. "Sini sama Eyang, Nak."
"Namanya siapa, Bang? Kok sama Abang bisa nempel banget gitu?" tanya Sandrina.
"Namanya Reyhan. Dia emang gini kalau sama aku. Ini juga ke sini pasti di rumah rewel. Biasa, kalau di rumah rewel ya ibunya nyuruh ojeg buat ngantarin Reyhan ke sini."
"Astaga! Ada ada aja. Tapi kok ikut Mamah nggak mau sih?"
"Dia emang gitu, karena belum kenal, Mah."
"Nanti kita ke rumah Arimbi, kita temui dia sama sama." titah Papah dan tidak ada yang berani membantahnya.
...@@@@@@...
__ADS_1