TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Sindiran Dari Paman


__ADS_3

"Eliza sudah memaafkan kamu, Ran?" tanya Paman Iksan kepada pria muda yang sedari tadi diam dan hanya menjadi pendengar saat Paman itu meluapkan rasa kesal dan kecewanya kepada sang keponakan karena mencabut laporannya kepada orang yang hendak beerbuat jahat pada Eliza.


Randi dan Eliza cukup terkejut mendengar pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut pria yang saat ini menatap cukup tajam kepada pria muda yang ada di sana. Randi dan Eliza saling tatap dan tak lama kemudian Eliza menunduk dengan perasaan yang tidak bisa diunggkapkan. Begitu juga dengan Randi, yang terlihat bingung hendak menjawab pertanyaan pria itu.


Melihat sikap Randi dan Eliza, Paman Iksan langsung mendengus. "Untuk pria yang hendak menodai, mudah banget memaafkan, tapi untuk pria yang mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf dengan sungguh sungguh sampai berkali kali memberi pertolongan, tidak mau memaafkan. Apa kesalahan Randi lebih fatal dari perbuatan Tejo?"


Eliza kembali terkejut mendengar ucapan Paman Iksan. Randi juga sama, dan lelaki itu langsung berpikir cepat untuk keluar dari suasana yang tidak mengenakan ini. "Maaf, Paman, sudah siang, aku takut rumah makanku makin rame, aku pulang dulunya," pinta Randi karena merasa tidak enak sendiri melihat Paman iksan yang marah pada Eliza.


"Pulanglah, lagian kehadiran kamu juga sangat tidak diinginkan oleh Eliza. Bukankah tadi dia datang ke rumah makan kamu dengan terpaksa?" lagi lagi ucapan Paman cukup monohok bagi keduanya, terutama Eliza. Bahkan mata Eliza terlihat memerah menahan rasa yang tidak bisa dia ungkapkan saat ini. Setelah mengatakan ucapannya yang cukup pedas, Paman Iksan langsung saja masuk ke dalam.

__ADS_1


"Aku pulang dulu, Za? Maaf, kedatanganku ke sini malah membuat kamu dimarahin," ucap Randi yang sedikit merasa tidak enak hati karena dia juga yang memaksa Eliza untuk mengantar pulang. Tapi tidak dipungkiri, Randi juga penasaran, apa yang dikatakan hati Eliza saat ini, begitu mendengar ucapan pedas dari Pamannya. Apa Eliza memang belum memaafkannya, dan Randi sangat penasaran akan hal itu.


Randi sudah hilang dari pandangan, tapi Eliza masih duduk di tempat yang sama dengan segala beban pikiran yang sedang dia tanggung. Ucapan Paman Iksan memang sangat menohok, tapi semuanya memang ada benarnya. Randi terlihat begitu tulus meminta maaf, tapi rasa kesal masih saja bersarang dalam hati Eliza. Sedangkan Tejo, pria yang hendak menodainya, sama sekali tidak ada niat untuk meminta maaf saat Eliza menemuinya tadi pagi.


Cukup lama terdiam di kursi yang ada di depan teras rumahnya, Eliza segera beranjak dan masuk dengan langkah cukup gontai menuju kamarnya. Namun langkah kakinya terhenti saat telinganya mendengar ucapan Paman yang masih meluapkan kekesalannya. Bahkan Eliza juga mendengar Bibinya turut disalahkan juga. Eliza pun segera masuk ke kamar karena tidak tahan dan tidak enak hati mendengar keributan Paman dan Bibi yang terjadi gara gara keputusannya.


"Jangan dengar kan, perkataan Pamanmu, Za," ucap Sang bibi beberapa saat kemudian setelah keributan dengan sang Paman selesai, dan Bibi menemui Eliza di kamarnya. Meskipun kamar Eliza ada pintunya, namun saat itu pintu kamar sedang tidak terkunci jadi si Bibi bisa langsung masuk.


Si Bibi menghela nafas panjang. "Salah ataupun tidak salah, itu tergantung cara pandang orang itu sendiri, Za. Namun bagaimana lagi, yang tahu isi hati kamu ya cuma Tuhan dan kamu sendiri."

__ADS_1


"Tapi Paman terlihat sangat marah, Bi."


"Ya wajar sih. Itu semua karena Paman cukup mengkhawatirkan kamu. Apa lagi sikap kamu sama Randi masih sama meski laki laki itu sudah berbuat banyak untuk menebus dosanya. Itu yang membuat Paman heran sama kamu." Eliza terdiam. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa sikapnya masih kesal jika melihat Randi.


"Apa lagi Paman tahu, Randi besok minggu akan ke kota menemui orang tua kamu, sedangkan sikap kamu sama Randi masih sedingin itu. Bagaimana perasaan dia coba kalau orang tua kamu juga sikapnya sama kayak kamu? Itu yang Paman kamu khawatirkan, Randi berjuang sendirian hanya untuk mendapat sesuatu yang sebenarnya dia bisa dapatkan dari wanita lain."


"Lalu aku harus bagaimana, Bi?" tanya Eliza pelan sembari menatap wanita yang duduk di tepi ranjang.


Si Bibi tersenyum lalu tangannya bergerak meraih tangan Eliza yang berada di atas bantal dan mengusapnya. "Kalau Bibi boleh ngasih saran, kamu ikut Randi ke kota menemui orang tua kamu."

__ADS_1


Mata Eliza langsung membelalak.


...@@@@@...


__ADS_2