
"Setelah kamu menikah, kamu ingin memiliki berapa anak, Za?" tanya pria yang saat ini sedang tidur dipangkuan istrinya. Randi saat ini bisa menyaksikan wajah terkejut istrinya dengan sangat jelas, begitu pertanyaan tentang anak keluar dari mulutnya. Bahkan Eliza terlihat salah tingkah dan memilih mengedarkan pandangannya ke arah lain, setelah tadi sempat memandang Randi sekejap.
"Ngapain tanya tanya soal anak? Kayak nggak ada pertanyaan lain aja," sungut Eliza. Bukannya memberi jawaban, wanita itu malah kembali menunjukan rasa kesalnya. Sebenarnya Eliza tidak kesal sungguhan, cuma dia bingung saja kalau menjawab pertanyaan dari suaminya. Eliza juga tidak mungkin mau mengakui ingin punya anak berapa setelah tadi dibuat kesal oleh Randi. Maka itu, Eliza memilih tetap bersikap ketus kepada suaminya itu.
"Ya namanya menikah, wajar dong kalau ngomongin soal anak. Aku aja pernah bermimpi. Malah sering membayangkan, kalau aku punya anak dari kamu pasti anak anakku akan sangat cantik atau sangat tampan. Setidaknya gen ayah dari anak anakku nanti gen yang baik. Ditambah istriku juga cantik, pasti tambah menakjubkan anak anak kita nanti."
Kening Eliza kembali berkerut, tapi tak lama kemudian wanita itu mencebikkan bibirnya. "Terlalu percaya diri," cibir eliza.
"Loh, ya nggak dong," bantah Randi. "Aku kan memang ganteng, tampan dan gagah. Pasti benihku juga hasilnya tidak beda jauh dari keadaan ayahnya nanti. Didukung dengan kecantikan kamu, kan jadi paket lengkap, iya kan?"
"Apaan sih? Ngomongnya malah jadi ngelantur tidak jelas gitu. Mending tidur gih," sungut Eliza lalu dia bangkit dari duduknya dan memilih beranjak dan berbaring ke ranjang. Senyum Randi seketika terkembang cukup lebar. Tanpa pikir panjang, pria itu langsung saja menyusul istrinya yang sudah berada di atas ranjang pengantin.
"Astaga!" pekik Eliza nampak terkejut. Lagi lagi Randi secara tiba tiba memeluknya dari belakang dan pelukannya lumayan kuat. "Tidurnya yang biasa aja napa sih? Rese banget ih," sungut Eliza.
"Biasa yang bagaimana, Sayang? Ini juga sudah terbiasa," jawab Randi makin meledek. "Apa kamu ingin melihatku, saat aku yang terbiasa tidur sendirian?"
__ADS_1
"Iya," jawab Eliza dengan cepat. "Nggak rese kayak gini."
"Oke!" jawab Randi tegas, lalu dia melepaskan pelukannya. Eliza diam diam tersenyum saat dirinya merasakan Randi melepas pelukannya dan tubuh pria itu menjauh dari tubuhnya. Eliza pun bersiap diri memejamkan matanya. Namun ketenangannnya kembali terusik saat tangan Randi melingkar lagi pada perutnya. "Astaga!"
"Kenapa lagi, Sayang?" tanya Randi dengan heran. "Perasaan dari tadi salah mulu."
"Ya kamu ngagetin aja, katanya mau tidur dengan cara yang biasa kamu lakukan? Kenapa masih meluk meluk kayak gini sih?" sungut Eliza.
"Loh, maksud kamu terbiasa itu yang tidak tidur sambil meluk kamu gitu? Bukan yang lain?" tanya Randi dengan raut wajah yang tercengang. Eliza pun langsung mengiyakan. "Kok kamu nggak ngomong? Aku pikir tidur yang seperti biasa aku lakukan saat masih sendiri, ya aku tidur tanpa pakai baju dan sebagainya."
"Iya," jawab Randi enteng. "Aku kan kalau tidur sendirian sudah terbiasa nggak pakai baju dan celana."
"Ya ampun!" pekik Eliza lagi. wanita itu jelas sekali merasa kesal, gemas dan ingin tertawa. "Bukan itu maksud aku."
"Udah, ah, udah terlanjur juga," jawab Randi dengan cueknya dan dia kembali mengencangkan pelukannya. "Kalau disuruh nggak meluk kamu ya jangan harap aku kabulkan. Sekarang ini akan menjadi kebiasanku yang lainnya saat tidur bersama kamu."
__ADS_1
"Tapi kan nggak perlu tanpa busana juga," sungut Eliza.
"Ini sudah jadi kebiasanku, Sayang" cetus Randi. "Lagian tadi kamu yang minta, ya sebagai suami yang baik kalau urusan buka baju, harus menurut dong."
"Hilihh, modus."
"Modus apa, Sayang? Ya ampun. Orang jujur juga," bantah Randi sambil cengengesan. Eliza memilih diam, tidak membalas ucapan suaminya lagi. Namun begitu, Eliza cukup resah saat mengetahui kalau suaminya sekarang tidak mengenakan pakaiannya. bahkan karena tubuh Randi yang terlalu menempel, membuat Eliza merasakan, seseuatu yang menegang di belakang tubuhnya.
"Sayang," suara Randi kembali keluar dan memecah kehingan yang tadi sempat terjadi. bahkan suara itu juga terdengar lebih lembut dari suara yang sedari tadi Randi keluarkan.
"Apa?" balas Eliza sedikit dengan suara yang agak gugup karena sedari tadi saat Randi terdiam, pria itu menggesek gesekkan isi celananya pada pantat Eliza.
"Kamu nggak ingin melayani suami kamu?" akhirnya pertanyaan yang membuat Eliza berdebar debar, keluar dari mulut Randi. Sedari tadi siang, saat kata sah terucap, Eliza sudah memikirkan tentang hal yang ada dalam pikiran Randi sekarang.
"Sayang, aku boleh, kan? Malam ini meminta hakku sebagai suami?"
__ADS_1
...@@@@@@...