TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Hanyut Dalam Kebahagiaan


__ADS_3

"Gimana, Sayang? Apa masih sakit?" tanya Randi kepada istrinya dengan jari yang memijat bagian bawah perut sang istri. Sudah sekitar lima belas menit Randi melakukan pemijatan tersebut. Mungkin karena terasa nyaman, pasangan pengantin baru itu, tadi sempat menghentikan obrolannya sejenak karena kehabisan bahan pembicaraan dan fokus pada tubuh yang melepas lelah.


"Udah agak enakkan, Mas," jawab Eliza dengan suara yang cukup pelan. Wanita itu sebenarnya merasakan lebih dari sekedar rasa enak. Namun dia masih agak malu jika harus mengucap kata yang menurutnya cukup nakal. Biar bagaimanapun dia baru resmi jadi istri, dia tidak mau berkata yang akan membuatnya merasa malu. "Apa kamu sudah terbiasa memijat tubuh wanita, Mas?"


mendapat pertanyaan seperti itu, sontak saja kening Randi berkerut. Ditatapnya wajah wanita yang sedang menatapnya juga, lalu senyum Randi terkembang. "Kenapa? Pasti kamu merasakan pijatan tanganku sangat enak ya?"


Bukannya menjawab, Randi malah meledek Eliza hingga wanita itu gelagapan dan memilih memalingkin wajahnya karena malu. Eliza bahkan sampai hendak memiringkan tubuhnya, memunggungi suaminya, tapi dengan sigap Sang suami menahannya dengan tetap menaruh tangannya di bawah perut sang istri.


Senyum Randi kembali terkembang. "Nggak usah malu, Sayang. Aku rela kok jadi tukang pijatmu setiap hari, dan yang pasti kamu yang pertama merasakan pijatan tanganku. Tenang saja, aku tidak pernah menyentuh wanita lain."


"Yang berpikiran kamu menyentuh wanita lain siapa, Mas?" Eliza malah terlihat kesal untuk menutupi rasa malunya. "Orang aku lagi tanya juga."


"Ya kan pertanyaanmu mengandung arti seperti itu, Sayang. Makanya aku jawab begitu," Randi pun tidak mau kalah. "Dadanya mau dipijat nggak?"


Eliza menggeleng, tapi yang namanya laki laki, meski sudah mendapat penolakan tetap menanatang dan melakukan hal yang diluar dugaan. Randi menempelkan bibirnya pada salah satu pucuk bukit kembar sang istri dan menyesapnya. Ingin rasanya Eliza menolaknya, tapi wanita itu tidak kuasa melakukannya.

__ADS_1


"Mas, kamu nggak lapar?" tanya Eliza berusaha mencari alasan untuk menghentikan kenakalan suaminya.


"Lah, ini, lagi sarapan," jawaban Randi malah terdengar semakin nakal.


"Astaga, Mas! Serius," Eliza malah terlihat kesal karena jawaban Randi yang nakal tadi.


"Kamu tadi lihat kan aku pegang ponsel? Aku udah pesan sarapan. Mungkin bentar lagi nyampe."


"Loh, kok nggak bilang? Kan lebih enak makan di luar," protes Eliza.


"Nggak lah, makan di luarnya nanti siang saja. Orang lagi nanggung gini," jawab Randi cuek. Di saat bersamaan, terdengar suara dari luar kamar. Randi yakin itu pasti makanan yang dia pesan tadi. Hanya menutupi tubuhnya dengan selimut, Randi bergegas turun dari ranjang. Randi melarang petugas pengirim makanan untuk masuk ke kamar karena kondisi Randi dan sang istri yang belum berbusana.


"Yang benar aja, masa makan nggak pakai baju," sungut Eliza kembali merasa kesal. Randi pun hanya mengulas senyum yang cukup lebar, sembari mendekati istrinya.


"Pakai ini aja," Randi melingkarkan selimut yang dia pakai dan dililitkan pada tubuh Eliza, sedangkan pria itu tanpa menggunakan apa apa untuk mentutupi tubuhnya, mengajak Sang istri duduk di sofa, dimana makanan telah tersaji di meja dekat sofa tersebut.

__ADS_1


Melihat Randi yang menikmati hidangan tanpa mengenakan pakaianya, membuat Eliza sempat geleng geleng kepala sejenak. "Apa minggu besok, kita jadi, sama sama piknik bareng Randi dan sandi, Mas?"


"Jadi dong, orang semua udah disiapin," jawab Randi di sela sela menikmati hidangannya. "Kenapa, Sayang?"


"Nggak kenapa kenapa. Aku cuma kangen suasana kampung aja, pengin cepat cepat ke kampung dan jualan lagi," jawab Eliza.


"Kita kan piknik cuma satu minggu, Sayang. Aku juga nggak enak sama pelangganku di sana. Hampir dua bulan di sana libur," balas Randi.


Eliza hanya tersenyum tanpa ada niat membalas ucapan sang suami. Untuk sementara suasana menjadi hening karena sepasang pengantin baru itu fokus menikmati hidangan yang ada di depan mereka.


Tidak butuh waktu lama, acara sarapan bersama pun selesai. Namun sepasang pengantin itu masih saja berada di dalam kamar. Sebenarnya Eliza ingin keluar kamar dan menikmati suasana hotel, tapi Randi selalu menccegahnya dengan dalih nanti siang saja sambil makan siang.


"Yang, minta lagi dong."


"Minta apa?" Eliza malah terlihat bingung dengan permintaan suaminya. Randi tersenyum sambil memegangi batangnya yang sudah menegang. melihat kelakuan sang suami, Eliza sampai terperangah dan langsung tahu dengan apa yang diminta suaminya. "Tapi yang pelan ya? Takutnya sakit lagi."

__ADS_1


"Siap, Sayang," balas Randi dengan antusiasnya. Pria itu langsung mengajak istrinya untuk naik ke ranjang dan memulai permainan di ronde kedua.


...@@@@@@...


__ADS_2