
"Pipi kamu kenapa, Ran? Kok memar gitu?" dua teman Sandi terkejut melihat kepulangan sahabatnya dengan wajah yang agak memerah. Padahal cuma kena hantaman satu kali tapi bekasnya bisa terlihat dengan jelas. Bahkan rasa nyeriny juga masih sangat terasa di pipi sebelah kanan Randi.
"Habis dihajar Eliza ya?" terka Dandi. Randi masih enggan menjawab. pria itu masih sibuk memasukan motor yang baru saja dia pakai dan mengunci kembali pintu samping dimana tadi Randi masuk setelah pulang dari rumah eliza. setelah motor terparkir di tempatnya, randi baru bergabung dengan dua temannya yang saat itu sedang ngobrol.
"Kena bogem pamannya Eliza tadi. Apes banget aku," Randi baru mengeluarkan suaranya begitu dia duduk diantara dua sahabatnya. Sandi dan Dandi seketika membulatkan matanya dan mereka sangat terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Pamannya! Kok bisa?" seru Sandi.
"Ya bisa lah, orang dia tahu siapa aku. Gila! pamannya Eliza galak banget."
"Ckckck ..." Sandi berdecak. "Gimana ceritanya sampai dia memberi kamu bogem mentah? Apa dia nggak suka Eliza diantar pulang oleh cowok?"
"Bukan itu," bantah Randi dan seketika dia langsung menceritakan kejadian di rumah pamannya Eliza. "Lebih baik aku ngaku kan? daripada Eliza yang ngomong, makin dikira pecundang aku nantinya."
Awalnya Sandi dan Dandi cukup terkejut mendengar penuturan Randi, tapi tak lama setelahnya mereka malah terbahak. Selain menertawakan kesialan yang menimpa Randi, dua pria itu juga menertawakan kepengecutan mereka sendiri beberapa tahun yang lalu karena melakukan hal yang hampir sama dengan Randi.
__ADS_1
"Masi mending aku kan tadi, nggak kena tonjok sama temannya Rianti," ucap Dandi.
"Ya karena lihat keadaan aja," sanggah Randi. "coba kalau bukan di warung makan pas mereka marahin kamu. Pasti kamu nasibnya nggak beda jauh dari aku."
"Meski kamu nggak kena tinju, tapi kan nama kamu jadi bobrok gara gara mereka membongkar perbuatan kamu pas msih ada pembeli," Sandi menimpali. "Berarti tinggal aku nih yang belum kena marah oleh orang orang di sekitar Arimbi."
"Cih tunggu aja saatnya. Pasti kamu nggak bakalan lolos." balas Randi, namun Sandi malah tersenyum lebar.
Tanpa Sandi sadari kalau malam ini, anak hasil dari perbuatannya sedang mengerek mencari dirinya. Cukup lama anak itu merengek hingga tiga orang dewasa yang ada di rumahnya terlihat kewalahan mengatasinya.
"Ini anak kamu tumben banget kayak gini sih, Mbi? Kenapa dia jadi rewelin ayahnya terus?" ucap Farida sambil menimang nimang anak yang sekarang berada di dalam gendongannya.
"Coba di inget inget, tadi pas Ibu sma Bapak lagi kondangan, kamu pergi kemana saja? Jangan jangan nanti Retyhan ketempelan lagi," Bapak Seno, suami Bu Farida ikut bersuara. "Nah itu terus beli jajan bisa banyak banget, siapa yang beliin?" Pak Seno menunjuk kantong plastik yang ada di depan televisi.
"Ah iya, tumben itu Reyhan jajan sebanyak itu. Siapa yang beliin? Bukankah kamu sering larang Reyhan jajanan kayak gitu?" Bu Farida kembali menimpali, membuat Arimbi terlihat gusar.
__ADS_1
"Jajan dari Ayah, Nek" Bukan Arimbi yang menjawab, tapi Reyhan yang berbicara sambil merengek dan jawaban tersebut mengejutkan ketiga orang yang ada disana saling pandang.
"Ayah?" tanya bapak dan ibu hampir bersamaan. "Maksudnya itu apa, Mbi? Kok Reyhan ngomong kaya gini?" tanya Bu farida merasa takut sembari menatap anak dalam gendongannya. "Reyhan tadi ketemu ayah?" bocah itu mengangguk dan anggukan itu kembali membuat suami istri itu terkejut.
"Mbi, ngomong sama bapak, apa yang terjadi sebenarnya? Apa Reyhan tadi ketemu ayahnya?"
Melihat tatapan tajam dua orang yang menolongnya membuat Arimbi semakin merasa gusar. Untuk beberapa saat, Arimbi terdiam dalam kebingungan, tapi tak lama setelahnya dia mengangguk membuat rasa terkejut suami istri itu semakin bertambah.
"Astaga, Mbi, kamu serius? Ketemu di mana ssama ayahnya Reyhan?" Bu Farida tidak kuasa menahan untuk bertanya.
"Tadi saat mengantar pesanan suruhan ibu," jawab Arimi sedikit menunduk.
"Loh, kok bisa ketemu disana? Bagaimana ceritanya, Mbi?" Pak Seno pun tak kalah dibuat penbasaran.
Arimbi tidak ada pilihan lain selain menceritakan semuanya. "Ibu ingat nggak kalau wajah Reyhan mirip siapa?"
__ADS_1
kening Bu Farida sontak berkerut sembari mengingat ngingat ucapan Arimbi. "Mirip Mas Sandi, pria yang menemukan Reyhan di pasar," jawab ibu beberapa saat setelah ingatannya kembali. "Apa jangan jangan Sandi beneran ayahnya Reyhan?" melihat Arimbi mengangguk membuat wanita itu semakin terkejut.
...@@@@@@...