
"Bagaimana dengan kasus yang menimpa Eliza, Paman? Apa Paman sudah mengambil tindakan?" tanya Randi disela sela perbincangannya dengan pria yang wajahnya tetap terlihat galak meski sedang berada dalam obrolan ringan. Tidak dipungkiri, ada rasa takut dan juga segan dalam hati Randi saat ngobrol berdua dengan pria galak ini.
"Itulah alasan Paman datang kesini, Paman mau minta bantuan sama kamu," Randi langsung tertegun. Entah ini sebuah keberuntungan atau kesialan yang Randi dapatkan. Ada rasa was was, tapi ada sedikit rasa senang juga. Intinya hati Randi seketika langsung dilanda kebingungan, begitu mendengar tujuan kedatangan Paman Iksan.
"Bantuan? Bantuan seperti apa, Paman? Apa Paman percaya aku bisa melakukannya?" meski dengan perasaan yang tidak tenang, Randi tetap berusaha setenang mungkin dalam melempar pertanyaan. Biar bagaimanapun, Randi takut menyinggung perasaan pria yang memiliki empat anak laki laki itu. Kalau sampai Paman itu tersinggung, bisa bisa Randi kehilangan jalan akses untuk mendekati Eliza.
"Mulai malam nanti, Paman minta kamu yang ngantar pulang Eliza. Kamu sanggup?" seketika rasa was was yang menyeruak dalam benak Randi langsung sirna dan berganti rasa hangat yang ingin membuat bibir pria itu tersenyum. "Kamu yang menyebabkan Eliza tinggal disini, maka kamu juga yang harus menjaga keponakan Paman agar baik baik saja."
Randi yang tadinya hendak tersenyum malah dibuat melongo begitu Paman Iksan melanjutkan ucapannya. Perintah yang dia tunjukkan mengandung sindiran dan juga ancaman. Tidak ada pilihan lain lagi bagi Randi selain menyanggupinya. "Aku sih mau aja ngantar Eliza pulang tiap malam, tapi apa Elizanya mau?"
"Ya harus mau!" jawab Paman Iksan dengan begitu tegas. "Mumpung sekarang Eliza belum pulang dan kamu juga sedang libur, kita ke pasar temui Eliza untuk membicarakan hal ini."
"Sekarang?" tanya Randi dengan tatapan tidak percaya.
__ADS_1
"Iya,lah, sekarang. Nggak berani?"
"Ya berani, Paman, tapi kan aku nggak ada motor?"
"Nggak usah banyak alasan. Paman bawa motor, ojeg juga banyak. Cepat."
Mau tidak mau Randi langsung bersiap diri mengikuti pria itu. Sebelum ke pasar, Randi meminta paman Iksan untuk menemui temannya dulu. Di sana, di tokonya Rianti, Dandi dibuat terkejut saat Randi datang dengan seorang pria tua. Randi segera pamit dan menyerahkan kunci kontrakan kepada pria yang saat ini sedang memasang cctv. Dandi tidak bertanya Randi mau kemana, karena temannya itu terlihat sedang terburu buru.
Di tempat lain, masih di hari yang sama, Sandi saat ini sedang menikmati waktu bersama anaknya, menikmati kebun binatang kecil di sebuah tempat wisata. Meski binatangnya tidak lengkap, tapi bagi anak anak seperti Reyhan, binatang yang ada di tempat itu cukup menghibur. Reyhan sangat antusias memperhatikan setiap binatang yang dia lihat.
"Macannya sedang bobo," seru Reyhan sambil menunjuk binatang yang sedang terlelap di bawah pohon. "Macannya ngantuk ya, Yah?"
"Iya, macannya ngantuk. Nanti kalau lapar pasti macannya bangun," Sandi sungguh tidak terlihat capek menjawab setiap pertanyaan sambil menggendong anaknya.
__ADS_1
"Reyhan nggak capek? Kalau capek istirahat dulu," Arimbi mengeluarkan suaranya. Sebenarnya dia juga cukup lelah karena mengikuti anaknya dan Sandi sedari tadi, keliling tempat wisata itu.
"Ya udah, kita istirahat aja dulu," Sandi ternyata cukup peka. Lalu dia memilih sebuah padang rumput yang cukup lapang dan sejuk. Tempat itu juga menyediakan berbagai macam wahana permainan sederhana bagi anak anak. Dengan begitu Sandi dan Arimbi bisa beristirahat dengan tenang sambil mengawasi Reyhan yang bermain di termpat sekitar.
Beruntung di tempat itu ada persewaan tikar, Sandi memanfaatkan jasa persewaan tikar itu untuk digunakan menjadi alas duduk karena mereka tidak membawanya. Untuk makanan, Sandi dan Arimbi juga tadi sempat membelinya saat mereka sedang dalam perjalanan. Mereka cukup tahu makanan dan minuman yang dijual di tempat wisata, harganya lebih mahal. Itulah mengapa mereka membeli makanan di luar tempat wisata.
"Kamu tiap hari di rumah apa, Mbi? Nggak ada kegiatan lainnya?" akhirnya Sandi bisa mengeluarkan suaranya setelah beberapa saat tadi dua orang itu saling terdiam dan hanya fokus memperhatikan anak mereka.
"Aku ikut jualan, melayani orang orang yang beli kerupuk di rumah," jawab Arimbi agak melunak.
"Loh, emang krupuknya ditaruh dimana? Kok aku nggak lihat pas main di rumah."
"Ya ada di gudang. Gudangnya ada di belakamg rumah, lewatnya pintu samping."
__ADS_1
"Ohh ..." jawab Sandi sambilmanggut manggut. "Lalu pria tadi siapa? Kayaknya dekat banget dengan kalian?"
...@@@@@...