TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Permintaan Pembeli


__ADS_3

Di tempat usaha milik tiga pria, Randi nampak sedang ngobrol dengan dua karyawannya. Dua karyawan yang berangkat lebih pagi telah pulang sejak beberapa jam yang lalu, karena memang jam kerjanya telah selesai. Makanya, saat ini hanya tinggal dua karyawan yang tadi berangkat lebih siang dan akan pulang saat rumah makan tutup.


Menjadi bos yang hangat, membuat para karyawan tidak canggung untuk berinteraksi dengan atasannya. Bahkan para karyawan yang ada di sana juga kerap sekali mengeluarkan candaan yang membuat hubungan bos dan karyawan menjadi semakin erat. Meski begitu, para karyawan juga tetap tahu batasannya, mereka harus bisa menghormati orang yang memberi mereka rejeki.


"Mas bos nggak ada niat buka cabang lagi di kota ini?" tanya salah satu karyawan laki laki yang saat ini sedang menikmati sebungkus cilok.


"Benar Mas bos, kalau ada cabangnya, kan, mending, semua pembeli nggak lari kesini," karyawan perempuan menimpali.


"Biar kalian tidak terlalu capek ya?" ledek Randi.


"Hahaha ... bukan begitu maksudku, Bos," karyawan wanita merasa tidak enak hati karena telah salah ngomong. "Kasihan aja sama pembeli yang jaraknya jauh. Kalau ada cabang yang bisa dijangkau, kan, masih mending."


"Aku tahu," jawab Randi. "Udah ada rencana sih. Cuma ya itu, waktunya yang susah. Kalian tahu sendiri bukan disini Ramainya kayak apa?"


Kedua karyawannya nampak menagngguk mengerti. "Tapi kok yang dikota bisa sampai tiga cabang, Mas bos?" tanya Karyawan laki laki.

__ADS_1


"Ya karena di sana kita sudah menemukan orang kepercayaan sebagai tukang masak yang pas dengan resep kita. Kalau di sini kan belum."


"Emang Mas bos nggak takut resepnya di curi dan ditiru orang lain?" tanya karyawan wanita.


"Ya enggak. Kalau resep kita bisa menjadi jalan rejeki orang lain, ya silakan. Tapi asal kalian tahu, belum tentu orang yang mencuri dan meniru usaha kita itu rejekinya lancar. Pasti nanti ada aja yang berbeda. Bahkan usaha yang sama pun, meski resepnya tidak mencuri atau hanya belajar sendiri, rejekinya juga akan beda."


"Iya, sih, benar juga," ucap karwayan wanita. "Dulu pas seblak baru masuk kota ini, ada tiga orang yang jualan, tapi yang paling laku cuma satu orang karena rasanya emang beda."


"Nah, itu tahu, makanya, usaha itu bisa ditiru, tapi rejeki tidak. Jadi kalau kalian suatu saat ingin membuka usaha yang sama kayak saya ataupun usaha lainnya, kalian harus yakin dan tekun. jangan baru usaha sedikit, sepi, lalu kalian down, ngeluh. Jangan."


"Hahaha ... tapi emang itu kendalanya ya, Bos. Kalau baru merintis," sahut karyawan pria.


Dua karyawan yang usianya masih sangat muda itu nampak mengangguk, memahami nasehat yang diberikan oleh bosnya. Sebagai anak muda, mereka pasti juga punya cita cita yang berhubungan dengan keuangan agar hidupnya bisa berubah lebih baik. Mereka tidak mungkin akan terus terusan bekerja ikut orang lain jika ingin berkembang.


Pukul tujuh malam lebih, waktu yang ditunjukan pada jam yang menempel di salah satu sisi tembok rumah makan itu. Seperti biasa, tiap menjelang tutup, rumah makan itu memang sangat jarang didatangi oleh pembeli. Apa lagi hari ini, banyak menu yang telah habis. Makanya Randi dan karyawannya bisa sangat santai.

__ADS_1


Di saat obrolan Randi dan karyawannya masih berlanjut, mereka kedatangan dua pembeli. Mau tidak mau obrolan mereka pun terhenti dan langsung membubarkan diri ke posisinya masing masing. Setelah memesan menu yang masih ada, dua orang tersebut memilih duduk di lantai dua.


Randi langsung menyalakan kompor dan meyiapkan bahan untuk meracik pesanan dua tamunya. Tak butuh waktu lama, pesanan telah siap di tempat saji dan langsung dibawa ke meja si pemesan.


"Mas Bos, dua orang tadi katanya ingin berbicara dengan Mas bos," lapor karyawan laki laki yang baru saja mengantarkan pesanan untuk dua orang pembali.


"Bicara sama aku?" Randi tentu saja merasa heran karena dia tidak merasa kenal dengan mereka.


"Nggak tahu, tadi pesannya gitu," jawab karyawan itu.


"Baiklah," karena penasaran dan juga keadaan rumah makan yang sepi, Randi memutuskan untuk menemui dua orang itu. "Ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya Randi ramah begitu dia sampai di lantai dua dan menghadap tamunya.


"Tentu, saya memang sangat butuh bantuan anda," jawab salah satu dari dua orang itu.


"Bantuan apa ya, Mas?"

__ADS_1


"Tolong kamu jauhi Eliza, bisa?"


...@@@@@...


__ADS_2