
"Sahh!" kata itu keluar dari mulu semua orang yang saat ini sedang berada di dalam sebuah gedung. Sebuah kata yang menandakan kalau seorang pria yang baru mengucapkan ijab qabul, telah resmi mendapat gelar menjadi suami secara agama maupun negara. Senyum mereka pun terkembang mengiringi rasa bahagia sepasang anak manusia tersebut
Di sana, di atas panggung pelaminan, Randi dan Eliza kini sudah duduk berdampingkan, sebagai simbol kalau mereka telah sah menjadi suami istri. Tidak ada lagi ketegangan yang terlihat pada wajah keduanya. Yang ada hanya wajah tersenyum bahagia yang mereka tebarkan ke semua anggota keluarga dan para tamu undangan yang menjadi saksi pernikahan mereka saat ini.
Dengan sekali tarikan nafas, Randi sudah membuktikan kalau dirinya adalah pria sejati. Tanpa ada pengulangan, Randi langsung mengucapkan lafaz ijab qabul dengan lancar dan lantang. Bahkan suaranya seakan menginyaratkan betapa gagahnya Randi saat acara akad berlangsung.
Kini sepasang pengantin baru tinggal duduk manis sembari menerima tamu yang hilir mudik memberi ucapan selamat. Sama seperti kedua sahabatnya, Randi juga setelah akad, menjalani prosesi pernikahan sesuai adat yang digunakan Randi dan Eliza. Karena tamu undangan dari dua pihak keluarga cukup banyak, jadi acara itu berlangsung hingga menjelang sore, bahkan saat petang tiba.
Jika Dandi dan Sandi masih sempat ngobrol bersama saat acara pernkahan mereka selesai, hal itu tidak terjadi pada sahabat mereka. Karena acara pernikahan berakhir saat hari hampir petang, Randi memilih untuk langsung istirahat. Apa lagi dia dan Eliza langsung menginap di hotel yang sama dimana pernikahan mereka berlangsung, jadi tidak ada waktu untuk sekedar bercengkrama dengan kedua sahabatnya setelah acara selesai.
"Akhirnya, bisa istirahat juga," seru Randi setelah merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Pria itu lantas menoleh ke arah wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Kamu kok mandi nggak ngajak ngajak suamimu sih?" protesnya.
Eliza sontak saja mencebikkan bibirnya. "Enak aja," sungut wanita itu dengan ketus.
Randi langsung cengengesan dan dia kembali duduk dengan mata terus menatap wanita yang telah menjadi istrinya. "Ya kan kita udah sah jadi suami istri, Za, nggak dosa kan kalau suami istri itu mandi bareng?"
__ADS_1
Wanita yang hendak mengeringkan rambutnya dengan sebuah alat itu langsung menatap Randi dari balik cermin. "Hilih alasan. Yang ada mandi sama kamu, nanti masuk angin karena mandinya terlalu lama."
Senyum Randi kembali terkembang lebar. Pria itu turun dari ranjang dan tanpa mengeluarkan suaranya, mengambil alih alat pengering rambut dari tangan istrinya. Eliza sebenarnya sempat melarang, tapi karena Randi tetap memaksa untuk melakukannya, dengan terpaksa Eliza pasrah. Kini Eliza hanya bisa diam sembari memperhatikan Randi yang sedang mengeringkan rambutnya dari balik cermin.
"Nggak nyangka ya, Za, akhirnya aku berhasil memiliki kamu secara sah," ucap Randi. "Nggak sia sia aku berjuang selama ini."
"Tapi perjuangan kamu pakai cara licik," ucap Eliza masih dengan nada ketus.
Randi kembali menunjukan senyum lebarnya. "Tapi kan setidaknya, aku menyelamatkan kamu dari seorang pria brengsek, Za. bayangin aja kalau kamu dulu jadi menikah dengan mantan kamu itu. Sudah pasti kamu nggak bahagia ke depannya."
"Tadi aku lihat mantan kamu datang, tapi kok dia sendirian ya?" ucap Randi lagi.
"Dia udah cerai dengan istrinya," ucapan yang keluar dari mulut Eliza tentu saja langsung membuat Randi terkejut.
"Hah! Kok bisa?" seru Randi.
__ADS_1
"Ya bisalah. Dengar dengar sih, dia ketahuan sedang tidur dengan cewek lain," jawab Eliza.
"Astaga!" pekik Randi semakin terkejut. "Tuh kan, untung kamu nggak jadi nikah sama laki laki kayak dia."
"Iya iya. Ih, bawel banget, ngungkit ngungkit ity mulu," sungut Eliza. Seperti biasa, Randi kembali cengengesan.
"Apa dulu, kamu sama dia gaya pacarannya parah, Za?" Randi langsung melempar pertanyaan ke arah yang lebih serius. Anggap saja dia sedang menyelidiki apakah Eliza masih bersegel atau tidak. Biar bagaimanapun Randi penasaran akan hal itu.
"Parah bagaimana maksudnya?" tanya Eliza dengan kening yang berkerut dengan tatapan yang cukup tajam ke arah Randi melalui pantulan cermin.
"Ya, parah, seperti gaya pacaran mantan kamu dengan selingkuhannya. Bukankah selingkuhan mantan kamu itu dulu sampai hamil," balas Randi lagi sembari tangannya terus bergerak mengeringkan rambut istrinya. Randi tahu, saat ini sang istri sedang menatapnya tajam lewat cermin, tapi pria itu acuh saja.
Bukannya langsung menjawab, Eliza malah terdiam dengan tatapan yang cukup tajam, membuat Randi menjadi semakin penasaran.
...@@@@@@...
__ADS_1