
Randi meninggalkan pasar dengan hati yang cukup berbunga bunga. Mendapat dukungan dari para pedagang tentu saja menjadi penambah semangat Randi untuk terus mendekati Eliza. Sebenarnya tadi pria itu masih betah berada di pasar, tapi melihat sikap Eliza yang sepertinya kurang nyaman dengan segala celetukan para pedagang, membuat Randi harus mengambil sikap, dan dia memutuskan untuk pulang saja.
"Kok mobil ada diluar?" tanya Randi begitu sampai di kontrakannya, melihat mobil yang yang dimiliki tiga pria itu sudah terparkir manis di samping kontrakan. Randi pun segera masuk begitu turun dari motor dan kembali mengulang pertanyaan yang sama begitu melihat dua sahabatnya sedang menikmati hidangan dia atas meja. "Itu kok mobil ada diluar? Kalian mau pergi?"
"Tidak," Sandi yang menjawabnya. "Aku yang hendak memakainya. Mumpung libur, aku ingin ngajak Reyhan jalan jalan."
"Reyhan doang? Ibunya nggak?" tanya Randi lagi yang saat ini sudah duduk di salah satu kursi tapi masih satu meja dengam dua sahabatnya.
"Kalau ibunya mau ikut ya syukur, kalau nggak ya mau gimana lagi," jawab Sandi lalu menenggak air minum setelah menghabiskan makanannya.
"Kalau kalian semua pada pergi, aku di rumah sendirian dong?"
"Siapa yang mau pergi? Aku cuma mau ke toko yang menjual kamera cctv untuk tokonya Rianti," Dandi yang menjawabnya.
"Emang toko Rianti kenapa? Apa ada pencurian?" mendengar pertanyaan Randi, tentu saja Dandi menggeleng dan dia lantas menceritakan apa yang dialami Rianti pagi ini. "Loh! Kok malah mengerikan gitu?"
__ADS_1
"Aku juga heran, makanya aku mengusulkan pada Rianti agar di tokonya dipasang cctv. Paling nggak untuk keamanan dia juga nantinya."
Randi hanya menanggapi ucapan Dandi dengan anggukan kepala beberapa kali, lalu dia mulai menyantap hidangan yang tadi dia beli sebelum pulang ke rumah. Bersamaan dengan itu, Sandi pamit untuk mandi dan bersiap siap guna menjemput anaknya.
Hingga beberapa menit kemudian setelah Sandi selesai bersiap diri, pria itu segera saja masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju ke rumah anak laki lakinya. Karena jarak yang dilewati cukup dekat, membuat Sandi lebih cepat sampai di tempat tujuannya. Tapi sayang, matanya harus memandang sesuatu yang sangat tidak sedap dipandang mata.
"Ayah!" teriak Reyhan dengan kencang begitu melihat Sandi keluar dari mobilnya. Bocah itu bahkan langsung berlari menyongsong kedatangan ayahnya. Sedangkan dua orang yang tadi bersama Reyhan menunjukan ekpresi wajah yang berbeda. Yang terlihat jelas sangat tidak suka dengan kedatangan Sandi adalah pria yang mungkin menaruh hati pada Ibunya Reyhan.
"Anak ayah lagi ngapain sih? Kok ayah telfon nggak diangkat?" tanya Sandi begitu langkah kakinya sudah sampai di depan rumah sang anak. Sebenarnya pertanyaan itu ditujukan ke Arimbi. Lihat saja, wanita itu langsung gelagapan dan mengecek ponselnya yang memang tidak dikasih nada.
"Yah rencananya gitu? Reyhan mau jalan jalan sama ayah nggak?" balas Sandi dan langsung memberikan penawaran pada anak dalam gendongannya. Tentu saja sesuai harapan Sandi kalau anak itu akan sangat antusias menyetujui ajakan ayahnya.
"Anak itu kalau ditawarin ayahnya nggak bakalan nolak," Bu Farida tiba tiba nyeletuk dari dalam. "Orang sedari pagi ngerengek minta ke tempat ayahnya terus."
Mendengar celetukan Bu Farida, tentu saja membuat Sandi merasa senang. "Ya udah hari ini Reyhan mau main kemana?" anak kecil itu langsung menunjukan wajah bingungnya karena dia tidak tahu tempat mana saja yang harus dikunjungi.
__ADS_1
Satu satunya orang yang sangat tidak nyaman melihat situasi itu adalah Mulyadi. Kedatangan Sandi benar benar menjadi ancaman terbesar bagi pria itu. Mulyadi sedari tadi terdiam tapi hatinya sangat bergejolak penuh rasa cemburu. Apa lagi Reyhan langsung melupakan keberadaannya begitu ayah kandungnya datang.
"Mending ke tempat yang banyak hewan dan ada taman bermainnya. Tuh, Arimbi tahu tempatnmya," celetuk Bu Farida lagi.
"Loh, kok aku? Nggak lah, aku nggak mau ikut," tolak Arimbi.
"Ibu ikut, Reyhan mau sama ibu," tanpa diajari siapapun, Reyhan malah merengek mengajak ibunya.
"Sama Ayah aja, kan cukup, Rey," Arimbi masih terus teguh pada penolakannya.
"Ya sama ayah, sama ibu juga," Reyhan juga tidak mau kalah.
"Udah, Reyhan sama ayah aja. Ibu lagi nggak mau diganggu," ucap Sandi dan hal itu sukses membuat Arimbi tersindir. Sudah pasti wanita itu tidak terima karena dikiranya sedang kencan dengan Mulyadi dan senang jika anaknya pergi,
"Iya iya, Ibu ikut," jawaban Arimbi langsung disambut sorakan oleh Reyhan.
__ADS_1
...@@@@@@...