
"Kamu kapan akan menemui orang tua Arimbi?" tanya Papah.
"Ya rencananya minggu besok, Pah."
"Ya baguslah, kamu memang harus gerak cepat. Biar Arimbi tidak ditikung orang," ucap Mamah.
"Di tikung orang? Maksudnya, Mah?"
"Tadi waktu Mamah ke rumah Arimbi, ada cowok yang hendak melamar ibunya anakmu itu."
"Hah! Masa sih?"
"Hahaha ... iya, bang, Benar. Lucu gitu orangnya," Sandrina ikut buka suara.
"Lucu gimana?" tanya Sandi semakin merasa penasaran. Sandrina lantas menceritakan semua kejadian di rumah Arimbi. Mamah juga ikut bercerita, kalau Papah lebih banyak diam dan cenderung berinteraksi dengan Reyhan sambil ngemil jajannya anak itu. "Astaga! Kok bisa gitu?"
"Yah gitulah, Ibunya Mulyadi berubah pikiran ternyata karena harta juga. Dimana mana orang orang pada gila harta, nggak di kota, nggak di kampung," sungut Sandrina merasa kesal sendiri.
__ADS_1
Hingga beberapa menit berlalu setelah melakukan obrolan ringan, keluarga Sandi akhirnya memutuskan untuk kembali ke kota. Sebenarnya mereka merasa berat karena masih betah dengan adanya Reyhan. Tapi tuntutan pekerjaan, menyebabkan mereka harus segera kembali ke kota.
"Reyhan sekarang mandi sama ayah ya?" ajak Sandi saat mobil yang dikendarai orang tuanya, hilang dari pandangan. Sebelumnya Sandi juga sudah minta salah satu karyawannya untuk menyiapkan air hangat. Sandi pun memandikan anaknya dengan sangat hati hati.
Di lain tempat, Eliza yang baru saja pulang ke pasar, melihat dua orang asing sedang duduk di teras rumahnya. Orang yang sedang duduk bersama BIbinya juga memandang kedatangan Eliza dengan pandangan yang sukar diartikan.
"Itu, Eliza, keponakan saya, Bu, Pak," ucap si Bibi kepada tamunya lalu dia melambaikan tangan agar Eliza segera mendekat. "Ada yang ingin bertemu dengan kamu," ucap si Bibi begitu Eliza berdiri di sebelahnya dengan tenggok masih ditangan kiri dan tas slempang masih menggantung di leher.
"Mau bertemu dengan saya?" Eliza bersikap se sopan mungkin. "Maaf, ibu sama Bapak, siapa ya?" Arimbi lantas menaruh tenggoknya di atas lantai di belakang kursi dan dia sendiri duduk satu kursi dengan bibinya.
"Oh, Mas tejo," jawab Eliza. "Kenapa dengan Mas Tejo, Pak?"
"Kami hanya meminta, tolong, kamu cabut laporan kamu ke polisi. Kami tahu anak kami salah, tapi tolong, jangan penjarakan dia," ucap si bapak dengan wajah memelas.
"Benar, Mbak," sekarang istri dari Bapak itu yang bersuara. "Kami tahu, anak kami mungkin sudah keterlaluan sama kamu, tapi tolong, jangan penjarakan dia. Biar kami nanti yang menghukumnya. Tejo hanya ingin meluapkan rasa kecewanya sama kamu, Nak."
"Maaf sebelumnya, Bu, saya tahu, Tejo sangat kecewa sama saya, tapi tidak seharusnya dia berbuat sesuatu yang bisa membahayakan saya. Kalau saya beneran sampai diperkosa, bagaimana dengan nasib saya ke depannya, Bu?"
__ADS_1
"Saya tahu perasaan kamu, tapi tolong juga kamu pahami kami sebagai orang tua Tejo. Kami sudah cukup malu saat para tetangga sudah mulai membicarakan perbuatan anak saya. Bahkan orang tua dari temen temannya Tejo juga menyalahkan saya dan suami. Saya jadi bingung sendiri, jadi cuma ini yang bisa saya lakukan. Saya mohon sama kamu, Nak."
"Iya, nak, saya mohon kebesaran hati kamu, tolong cabut laporan kamu. Biar kami nanti yang menghukum anak kami," si bapak kembali ikut memohon.
Eliza bimbang. Dia menoleh, menatap bibi yang saat itu juga sedang menatapnya. Namun dari tatapan mata bibi, dia juga seperti sedang membujuk Eliza untuk memaafkan perbuatan pria yang kemarin juga menghinanya saat Eliza hendak pulang dari pasar. "Baiklah, besok saya akan cabut laporannya. Untuk malam ini, biarlah anak Ibu merasakan kembali bermalam di penjara, agar anak ibu bisa merenungi kesalahannya."
Sepsang suami istri itu langsung terlihat berbinar. Wajah terharu sangat jelas sekali terlihat dari mata mereka. Keduanya langsung saja melempar pertanyaan untuk memastikan tentang ucapan Eliza. begitu mereka mendapat kepastian, keduanya langsung mengucapkan terimakasih dan tak lama setelahnya kedua orang itu pamit pergi.
"Kalau ada Paman, pasti dia sangat menolak keputusan kamu, Za," ucap si Bibi begitu dua orang tamunya telah menghilang dari pandangan mereka beberapa saat yang lalu.
"Ya, beruntungnya nggak ada Paman. Kalau ada Paman juga, pasti dia juga yang langsung memberi jawaban pada orang tuanya Tejo, Bi," balas Eliza, lantas dia dan Si Bibi saling melempar senyum.
"Setidaknya dengan memaafkan, hati kita jauh lebih tenang bukan?" tanya Bibi, dan dengan antusias, Eliza mengganggukan kepalanya beberapa kali. "Tapi kok, kamu sepertinya enggan memaafkan Randi, apa Randi tidak pantas dimaafkan juga, Za?"
Deg!
...@@@@@@...
__ADS_1