TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Dua Minggu Kemudian


__ADS_3

Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang pengantin baru, selain lancar menjalankan ritual malam pertama. Begitu juga dengan yang dirasakan oleh seorang pria yang saat ini sedang tersenyum sendiri setelah ritual malam pertamanya berakhir tanpa hambatan, meskipun pada saat akan melakukannya banyak hal yang hampir saja menggagalkan ritual penuh nikmat itu.


Meski bagi Sandi ini adalah malam yang kesekian kalinya tidur bersama dengan Arimbi, tapi bagi pria tersebut, malam ini tetap dinamakan malam pertama Karena hubungan badan yang dia lakukan bersama sang istri, merupakan hubungan badan yang melewati proses halal terlebih dahulu. Jadi kenikmatan hubungan badan di malam ini lebih berarti dan tidak ada rasa takut sama sekali.


Tangan Sandi melingkarkan pinggangnya dengan erat pada perut wanita yang sedang berbaring memunggunginya. Bibir pria itu juga sesekali mendarat dan mengecup lembut pundak wanita yang telah sah menjadi istrinya. Bahkan dengan leluasa, jari jari tangan Sandi juga dengan nakal memainkan benda kembar yang sudah tidak terlalu kenyal tapi masih enak untuk dinikmati.


"Makasih ya, Sayang, sudah mau memaafkanku dan menerima seutuhnya diriku ini," bisik Sandi di dekat telinga sang istri.


Kening Arimbi seketika langsung berkerut. "Apaan sih, lebay banget omongannya."


"Loh, orang sedang mengungkapkan isi hati, kok dibilang lebai sih? Ini kata kata keluar dari lubuk hati yang paling dalam loh, Yang."


"Tau ah, aku ngantuk," Arimbi malah terlihat tidak peduli.


"Nggak mau lanjut Ronde kedua?" Sandi mencoba memberi penawaran.

__ADS_1


"Nggak, aku capek, ngantuk. Lagian kayak nggak ada waktu lagi. Aku tuh dari jam tiga pagi udah nggak tidur," sungut Arimbi tanpa memandang lawan bicaranya.


"Hahaha ... iya iya, Sayang. Ya udah yuk kita bobo," Sandi akhirnya mengalah. Dia juga sebenarnya juga lelah, tapi apa salahnya mencoba. Sepertinya malam pertama mereka cukup terlewati dengan satu ronde saja. Untuk malam selanjutnya tentunya terserah Sandi mau berapa ronde.


Hingga waktu terus berjalan, dan tanpa terasa kini Arimbi dan Sandi sudah menjadi suami istri selama dua minggu. Tepat dihari ini juga, salah satu sahabat Sandi, akan menjalani acara akadnya seperti yang sudah di rencanakan.


Sama seperti pasangan sebelumnya, pasangan Dandi dan Rianti juga sedang mengalami rasa panik yang luar biasa. Pasangan yang pernah gagal menikah dimasa lalu itu, saat ini sedang berdebar menunggu waktu pengucapan akad yang akan berlangsung selama beberapa puluh menit lagi.


"Ya ampun, Dan, lihat kamu panik gitu, kok aku jadi ikutan panik sih? mana acaraku masih lama lagi," keluh Randi saat dirinya sedang duduk bertiga dengan sahabatnya. Di sana juga ada anak kecil yang sedang asyik menikmati coklat karakter kecil kecil di dalam toples.


"Masih lama, apaan? Orang dua minggu lagi kok lama," sungut Dandi alih alih menutupi rasa gelisahnya.


"Hahaha ... jangan panik bro," sahut Sandi yang sedang memangku anaknya. "Cuma baca ijab nggak sampai lima menit kok, panik."


"Hillih, kayak kamu dulu nggak panik aja," sungut Dandi. "Kamu aja kemarin, wajahnya pucat." Sandi malah terbahak sendiri mendengar ucapan Dandi. Di saat mereka mash asyik ngobrol, Papahnya Dandi memberi tahu kalau mereka semua harus berangkat menuju ke lokasi pernikahan saat itu juga.

__ADS_1


Di tempat terpisah, rasa panik juga terlihat jelas pada wanita yang di make up sedemikian rupa hingga aura cantiknya terpancar. Wanita yang hari ini akan melangsungkan pernikahan, begitu sangat panik karena takut, kejadian tiga tahun yang lalu akan terjadi lagi. Setidaknya, wanita bernama Rianti, masih ada sedikit trauma dengan gagalnya pernikahan yang terdahulu.


"Jangan panik. keluarga Dandi sedang dalam perjalanan menuju ke sini, Ri," sebuah suara tiba tiba terdengar di dalam sebuah kamar, dimana sang calon pengantin berada. Riantipun menoleh dan melihat sahabatnya yang di kampung memasuki kamar terssebut.


"Emang udah ada yang ngasih kabar?" tanya Rianti, begitu Tiwi sudah berada di dekatnya.


"Tadi, Dandi sendiri yang nelfon ke ponsel Om Wisnu, katanya ponsel kamu tidak bisa dihubungi," ucapan Tiwi sontak membuat Rianti tersenyum lebar.


"Ponselku sengaja dimatiin," jawab Rianti sambil cengengesan.


"Astaga! Ada ada aja kamu, Ri?" Rianti kembali tersenyum tanpa ada niat untuk membalas ucapan sahabatnya.


Hingga beberapa menit kemudian, Rasa cemas dan panik yang sedari tadi membelenggu benak Rianti, kini sudah sirna taktala mata Rianti melihat sendiri, sosok pria yang akan menjadi suaminya sudah duduk di kursi, tempat pria itu akan mengikrarkan ucapan sakral dari agama yang mereka anut, untuk menuju hubungan yang lebih resmi dimata agama dan negara.


Dan setelah semuanya siap, waktu yang ditunggu pun kini tiba. Dengan sekali tarik nafas, Dandi melafazkan ijab kabul dengan lancar dan juga suara yang lantang hingga kata sah menggema di ruangan tersebut.

__ADS_1


"Sah!"


...@@@@@@...


__ADS_2