
"Loh, cucu Eyang belum mandi?" seru Ibunya Sandi yang saat itu baru saja datang di rumah Arimbi dan melihat anak kecil yang sedang asyik memilih mainan diantara tumpukan mainan baru di ruang tamu. Wanita itu menghampiri cucunya yang sudah tidak takut dengan kedatangan mereka. Sang Eyang heran karena cucunya masih agak kusam dengan memakai baju yang sama saat kemarin pulang piknik.
"Belum, Eyang, susah banget itu disuruh mandi dari tadi," Bu Farida yang menjawab sambil meletakkan pantatnya di kursi tamu dengan mata menatap ke arah Reyhan.
Sandrina yang duduk di belakang Reyhan langsung menarik bocah itu dan memberinya bebarapa kecupan di tubuh si bocah sampai sampai bocah itu merengek minta dilepasin. "Huh, bau acem banget. ughh!" Sandrina menciuminya dengan gemas.
"Ibu, tolong, Tante nakal," rengek Reyhan kepada ibunya yang sedang membawa nampan berisi teh manis hangat dan cemilan. Tapi Arimbi tidak menanggapi, malah dia tersenyum dan memilih duduk bersama Bu Farida.
"Sandrina lepasin ih! Itu nanti Reyhan malah nangis," Ibunya Sandi mengambil alih cucunya dari tangan Sandrina. "Tante nakal ya? Sama Eyang aja ya?"
"Iya, Tante nakal," sahut Reyhan dengan wajah cemberut lalu lari ke arah Arimbi dan minat gendong.
"Yee, siapa yang nakal?" Sandrina pura pura tidak terima. "Kalau Reyhan nggak mau sama Tante, nanti Tante tidak mau membelikan Reyhan mainan lagi. Katanya mau beli mobil remot yang gede."
"Nggak mau. Nanti beli sama Ayah," Reyhan malah bisa membalas ucapan Sandrina, membuat orang orang di sana hampir semua tersenyum gemas.
__ADS_1
"Ayah kan sibuk nyari uang? Lagian disini nggak ada ayah kan?" Sandrina makin semangat ngeledeknya.
"Ada. Nanti Reyhan ke tempat ayah sama Mang Ojol. Ya, bu ya?" ucap Reyhan tak mau kalah sampai meminta dukungan Arimbi. Sandrina malah semakin gemas dibuatnya.
"Ini Pak Seno kemana, Bu? Kok nggak kelihatan?" Pak Suryo yang sedari tadi diam akhirnya buka suara.
"Bapak lagi di pasar, pak. Harusnya sih saya. Tapi karena akan ada tamu ya jadi bapak yang memilih berangkat pagi duluan," jawab Bu Farida. Mereka lantas melanjutkan obrolan ke hal lainnya. Keluarga Sandi di sana tidak akan lama, karena mereka harus segera pulang ke kota. Namun di saat mereka akan pamit, tiba tiba rumah itu kedatangan tamu yang tak tertuga.
"Assalamu'alaikum."
"Tidak ada apa apa, Arimbi, cuma mau main saja, tapi rumah kamu kayak lagi ramai," ucap Ibu Dibyo sangat ramah.
"Oh iya, kebetulan lagi ada tamu. Eyangnya Reyhan," jawab Arimbi masih dengan rasa heran yang masih bersarang di benaknya. Semua yang ada di dalam rumah juga hanya terdiam dan memperhatikan apa yang terjadi.
"Oh ada Eyangnya Reyhan? Waah, kedatangan kita ganggu nggak nih?" Bu Dibyo melongok pandangannya ke dalam, lalu meliat Reyhan yang saat ini sudah berada di panggkuan Bu Farida. "Reyhan, ini ada Om Mulyadi, Reyhan ngak kangen sama Om Mul? Ini Om Mul bawa mainan untuk Reyhan."
__ADS_1
Mendengar nama Mulyadi disebut, orang tua Sandi seketika saling tatap. Jelas sekali kalau mereka masih ingat nama itu. Nama pria yang katanya mengejar Arimbi. Reyhan sendiri malah menggeleng. Karerna suasana hatinya sedang tidak baik gara gara ulah Sandrina, anak itu memilih tetap bersama Bu Farida.
"Hallo, Ray!" kini Mulyadi yang mencoba membujuk anak kecil itu. "Reyhan nggak kangen sama Om Mul?" jelas sekali kalau mereka sebenarnya cari muka kepada tamunya yang mereka kira adalah orang tua Arimbi.
"Kalau mau gabung, silakan masuk saja, Bu, Mas," tawar Arimbi basa basi.
"Oh, boleh gabung? Baiklah, Yuk Mul, kita masuk?" ucap Bu Dibyo nampak antusias, membuat Arimbi ternganga tak percaya. Perkiraannya salah, dia pikir dua orang itu tidak bakalan mau masuk karena di rumah ada tamu, tapi nyatanya keduanya malah mau saja bergabung tanpa rasa malu. Kedua tamu itu duduk di atas satu kursi yang cukup panjang.
"Bu, nyusul Ayah," rengek Reyhan begitu Arimbi kembali duduk di samping Bu Farida.
"Nyusul Ayah ya, nanti, orang Reyhan belum mandi," Bu Farida yang menjawabnya. "Makanya, tadi nenek ngajak mandi, harusnya Reyhan nurut." Semua tamu Bu Farida nempak tersenyum melihat bocah itu sedang ngambek.
"Reyhan nggak mau main sama Om Mul?" celetuk Bu Dibyo. "Om Mul juga mau loh jadi ayahnya Reyhan."
Semua sontak tercengang.
__ADS_1
...@@@@@...