TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Sampai Di Tempat Tujuan


__ADS_3

"Aku nginep di hotel aja lah, Dan?" pinta Rianti yang saat itu sudah berada di dalam taksi. Jujur, saat ini perasaannya sedang tidak baik baik saja. Selain karena gugup akan bertemu orang tua Dandi, wanita itu juga merasa was was dan gelisah akan bertemu orang tuanya sendiri.


"Jangan gitu deh, Ri. Orang bentar lagi juga sampai rumah. Kamu nggak usah takur dengan orang tuaku. Paling aku yang bakal dimarahin," ucap Dandi dengan segala rasa sabarnya. Dandi sangat tahu apa yang dirasakan wanita itu. Tapi Dandi juga sadar, masalah itu harus dihadapi, jika dihindari, Dandi tahu akibatnya akan seperti apa.


"Tapi kan aku nggak enak, Dan. Masa aku nginep di rumah orang yang bukan siapa siapa aku?" Rianti masih mencari alasan agar keinginannya diwujudkan oleh pria di sebelahnya.


"Tapi kan sebentar lagi kamu bakalan jadi siapa siapa aku. Lagian kamu tahu sendiri orang perumahan itu gimana. Mereka mana ada yang tahu aku bawa anak orang masuk ke rumah. Kamu takut, kita tidur bareng gitu? Kayak nggak ada kamar tamu aja," sudah pasti Dandi pun akan melakukan cara apapun untuk mencegah keinginan Rianti.


Setelah menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit lamanya, taksi yang membawa pasangan itu sampai di depan rumah dengan pintu gerbang yang tinggi. Dandi segera memencet tombol rumahnya setelah turun dari taksi beserta barang barang yang lain.


"Loh, Mas Dandi!" seru penjaga rumah begitu gerbang di buka. Orang itu juga terkejut saat melihat anak majikannya datang bersama seorang wanita. "Siapa dia, Mas? Kok cantik?"


"Calon majikan," ucap Dandi asal dan hal itu sontak membuat Rianti memukul lirih lengan Dandi. Hal itu sukses membuat dua pria yang ada disana hanya tersenyum lebar.


"Ya syukur deh, akhirnya Mas Dandi nikah juga," ucap si penjaga gerbang.


"Ya udah, Mang, aku masuk dulu ya? Mamah sama Papah belum tidur kan?"


"Belum Mas, di dalam juga ada Mas Awang."

__ADS_1


"Oh, ya udah, aku masuk dulu." Dandi segera melangkah dan dikuti oleh Rianti dengan perasaan yang was was. Hingga sampai di pintu utama, Dandi langsung masuk saja. Awalnya Rianti minta menunggu di depan saja, tapi Dandi memaksa untuk tetap ikut masuk ke dalam.


"Pah, kok kayyak ada suara orang ngucap salam?" ucap seorang wanita yang ada di ruang tengah, sedang duduk anteng bersama dua pria. Mereka sepertinya sedang membicarakan sesuatu dan pembicaraan terhenti saat ada suara salam terdengar kencang dari arah ruang tamu. "Kok kayak suara Dandi." si wanita langsung beranjak sembari menjawab salam.


"Ya ampun, Dandi!" seru Mamahnya dan wanita itu langsung mendekat dan bersalaman dengan anaknya. Dua pria yang tadi bersama wanita itu juga ikut beranjak menemui Dandi, dan mereka cukup terkejut ketika melihat sosok wanita bersama Dandi.


"Wanita ini siapa, Dan? Pacar kamu?" pertanyaan dari sang ibu membuat Dandi bingung. Sepertinya orang tuanya Dandi lupa wajah Rianti, karena mereka tidak pernah bertemu sejak tiga tahun yang lalu.


"Nanti dulu," ucap pria lain yang usianya tidak jauh dari dandi dengaan pandangan menyelidik. "Ini Rianti kan? Cewek yang nggak jadi kamu nikahin?"


"Apa!" pekik orang tua Dandi secara bersamaan.


"Ayo masuk, ngapain masih berdiri di situ?" ajak Randi yang juga baru saja sampai di rumahnya.


"Malu aku, Ran, masa aku baru pertama datang ke rumah kamu, langsung nginep di sini?"


"Udah nggak usah banyak alasan. Ayo," Randi langsung meraih tangan Eliza, tapi wanita itu menolaknya.


"Ngapain sih, pegang pegang? Jalan sendiri juga bisa," sungut Eliza.

__ADS_1


"Ya udah ayok jalan," mau tidak mau, Eliza melangkah di belakang Randi menuju pintu utama. Rumah Randi lumayan besar juga dan Eliza sedikit kagum tadi saat pintu gerbang dibuka dan matanya melihat rumah pria yang saat ini sedang bersamanya.


"Om Randi?" teriak seorang anak perempuan yang sedang asyik bermain sendiri. Teriakan anak perempuan itu, sontak saja mengejutkan semua yang ada di rumah itu. Mereka pun langsung beranjak menuju kedatangan anggota keluarga mereka yang baru sampai di ruang tamu tapi dihadang oleh anak perempuan tadi.


"Loh, Ran? Kok pulang nggak ngasih kabar?" ucap seorang wanita yang masih muda dan sepertinya dia adalah kakaknya Randi. Wanita itu dan anggota keluarga yang lain cukup heran dengan kedatangan Randi yang membawa seorang wanita. "Siapa dia, Ran? calon istri?"


Randi pun tersenyum setelah menjabat tangan semua anggota keluarganya. "Iya, Mbak."


"Wahh! Mamah bakalan punya mantu lagi, nih," ucap Ibunya Randi lalu menghampiri wanita yang saat ini sedang gugup.


"Nama kamu siapa, Nak?"


"Eliza, Tante."


"Eliza?" ucap kakaknya Randi dengan kening berkerut. "Kok kaya nama wanita yang pernikahannya kamu hancurkan, Ran?"


Deg!


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2