
"Apa benar kamu yang bernama Rianti?" tanya seseorang yang baru datang di toko buah kepada wanita yang sedang mempersiapkan jus buah untuk dikemas menggunakan gelas plastik seperti biasanya. Kening wanita itu berkerut dan dia sempat menghentikan pekerjaannya sejenak karena merasa aneh dengan sorot tajam tatapan orang yang baru datang.
"Iya benar saya Rianti, ada apa ya, Mas?" jawab Rianti sekaligus sembari melempar pertanyaan kembali. Meski heran, Rianti mencoba bersikap tenang karena dia tidak mau berpikiran buruk terlebih dahulu. Sikap pria itu dan juga Rianti, menjadi perhatian beberapa orang yang kebetulan sejak tadi ada di toko buah itu, seperti Pak tukang, Agus dan juga pemilik toko.
"Apa maksudnya kamu melaporkan Lila, adik saya, hah!" bentak pria itu dengan mata penuh amarah. Rianti cukup terkejut saat nama Lila keluar dari mulut pria itu, dan sekarang Rianti tahu, kemana arah pembicaraan ini.
"Oh Lila?" Rianti mencoba tetap bersikap santai meski dalam benaknya, dia merasa agak takut juga menghadapi kemarahan pria itu. "Loh, bukankah polisi sudah jelas mengatakan kesalahan adik anda? Apa anda butuh penjelasan yang lebih dari saya? Oke saya jelas kan?"
"Kamu nggak tahu siapa saya? Kamu itu hanya pendatang dan saya bisa saja mengusir kamu dari tempat ini. Jadi nggak usah kamu berani beraninya melawan saya! cabut laporan kamu atau aku akan buat kamu menyesal!" pria itu memberi ancaman lalu beranjak meninggalkan tempat itu. Namun di saat pria itu keluar dari toko hendak menuju ke motornya, pemilik toko yang disewa Rianti bergerak dan menendang motor itu hingga roboh.
Dakk!
Brak!
"Kamu apa apan hah!" bentak pria itu dengan lantang. Kemarahannya semakin berkobar.
__ADS_1
"Kamu yang apa apaan!" pemilik toko bersuara lebih keras dan lantang dengan tangan mengacung ke arah pria yang tadi marah marah dan memberi ancaman kepada Rianti. "Maksud kamu apa! Nyuruh orang merusak tokoku dan menodai penghuninya? Hah! Maksud kamu apa!"
mata pria itu terkesiap. Dia benar benar terkejut dengan tuduhan yang baru dia terima dari si pemilik toko. "Kamu nggak usah nuduh sembarangan!"
"Halah! Nggak usah ngeles!" si pemilik toko kembali menyerang kakaknya Lila. "Tiga orang itu udah ngaku kalau kamu dalang dibalik kejadian yang menimpa Rianti dengan membayar mereka perorang dua juta rupiah bukan? Miskin aja belagu, pakai nyuruh nyuruh orang!"
"Kamu jangan sembarangan kalau ngomong ya! Saya bisa laporkan kamu dengan pencemaran nama baik dan juga tuduhan palsu!" ancam pria itu.
"Silakan! saya nggak takut!" tantang si pemilik toko. "Saya juga akan melaporkan adik kamu karena sudah menfitnah saya untuk meneror Rianti, paham! Dikiranya aku nggak ada bukti apa gimana?"
"Kamu nggak tahu, kamu berhadapan dengan siapa, hah!" ancam pria itu.
Pria itu kembali terkesiap. Namun tak lama setelahnya, dia malah tersenyum. "Adiknya Bupati? Hahahah ..." Kakaknya Lila malah terkesan mengejeknya. "Nggak usah ngaku ngaku deh, Pak?"
"Ngaku ngaku? Cih!" si pemilik toko balik meremehkan lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. Diraihnya tangan pria itu dan diletakannya benda tipis berbentuk persegi panjang. "Tuh, alamat rumah aku! Perhatikan! Sama tidak dengan alamat rumahnya Bupati?"
__ADS_1
Pria itu tersenyum sinis lalu membaca kartu nama yang baru dia terima. Senyum sinisnya seketika memudar, berubah menjadi wajah yang sangat kerkejut. Sebagai pejabat kecamatan, sudah tentu dia sangat mengenal alamat rumah orang yang paling berkuasa di kabupaten ini.
"Tunggu aja! Kamu akan dipecat secara tidak terhormat karena sudah berbuat semena mena dengan jabatan kamu, dan saya adalah korbannya," si pemilik toko lalu berbalik badan. Saat kakinya melihat helm milik kakaknya Lila yang jatuh saat dia merobohkan motor, Si pemilik langsung saja menendang helm tersebut hingga masuk ke tempat sampah,
Mata pria itu kembali membelalak, tapi dia hanya diam dan langsung memperbaiki letak motornya dan pergi dari tempat itu tanpa menggunakan helmnya.
"Wahh! Bapak hebat!" seru Rianti. "Untung ada bapak di sini."
"Dikiranya saya takut kali. Sama orang seperti itu nggak usah takut!" balas si pemilik toko yang amarahnya ssedikit mereda.
"Aku sih nggak takut, Pak. Cuma kaget aja tadi," ucap Rianti berkilah.
"Tapi sebaiknya kamu tetap hati hati," si pemilik toko memberi nasehat.
"Beres, Pak!" balas Rianti sambil mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
"Tapi Ri, kalau bisa, demi keamaan kamu, mending kamu ikut Dandi ke kota deh. Bahaya jika sendirian disini!" ucapan yang keluar dari Agus langsung membuat kening Rianti berkerut.
...@@@@@...