TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Masih Memiliki Tekad


__ADS_3

Hari kini berganti lagi dan pagi ini, giliran Randi yang pergi ke pasar untuk membeli bahan tambahan yang sudah dia catat sebelumnya. Setelah menunaikan kewajiban subuh, pria itu segera mengeluarkan motornya lalu menyalakan mesin motor untuk beberapa saat. Begitu dirasa sudah cukup, Randi langsung menaiki motor dan melajukannya menuju pasar yang jaraknya kurang dari satu kilo meter dari tempat usahanya.


Seperti biasa juga disaat salah satu ada yang pergi ke pasar, maka dua orang lainnya bertugas membersihkan dan merapikan serta menyiapkan segala yang yang dibutuhkan untuk persiapan usaha mereka. Mereka benar bener terlihat sangat kompak sejak pertama kali mendirikan usaha bersama.


Meski itu usaha bersama, ketiga pria itu juga membuat perjanjian tertulis terkait usaha yang mereka lakukan agar kedepanta tidak menjadi masalah. Sudah banyak yang terjadi ketika menjalani usaha bersama, pasti akan ada perselisihan yang terjadi. Banyak faktor yang menjadi pemicunya, seperti pembagian laba, tugas dan sebagainya. Maka dari itu, tiga pria itu mermbuat perjanjian tertulis untuk mencegah hal hal yang tidak diinginnkan terjadi diantara mereka.


"Dan, kira kira nanti Rianti jadi nggak ngisiin jus di warung kita?" tanya Sandi disela sela dirinya membuat baso aci dengan berbagai isi.


"Hahaha ... aku ragu. Kayaknya bakalan batal deh, San," Dandi malah terbahak. Mengingat kejadian semalam, Dandi sudah yakin kalau kerja sama yang baru saja akan berjalan bakalan batal akibat kejadian kemarin sore.


"Ya lagian kamu sih ceroboh, Nggak pake diselidiki dulu siapa laki laki itu."

__ADS_1


"Ya kan orang awalnya Rianti manggil cowok itu dengan kata sayang, aku otomatis percaya dong. Eh nggak tahunya, Rianti malah sandiwara doang agar aku tidak mendekatinya,'" balas Dandi yang saat ini sedang memotong kulit pangsit menjadi persegi lalu mengisinya dengan adonan yang sudah disiapkan. "Kamu sendiri gimana? Apa yang akan kamu lakukan sama Arimbi?"


Sebelum menjawab, Sandi meniriskan terlebih dahulu baso aci yang sudah mengambang di dalam panci ke dalam wadah yang biasa digunakan untuk mendinginan baso aci itu. Begitu semua baso sudah berpindah tempat, dia kembali mencetak baso aci dengan tangannya. "Yang pasti ya aku akan terus maju. Udah ada anak diantara kita. Kasihan Reyhan nanti kalau nggak ada ayahnya."


"Kalau kamu mah enak, nah aku," balas Dandi sambil memasukan pangsit satu persatu ke dalam minyak panas. "Tapi ya aku juga nggak bakalan nyerah sih. Aku yang sudah merenggut kesucian Rianti, setidaknya aku juga yang harus menutupi aibnya. Kasihan dia nanti kalau mendapat laki laki yang menuntut kesucian."


Sandi nampak manggut manggut. "Ya bagus. Memang harus kayak gitu. Kalau Randi sendiri gimana ya kira kira? Apa dia akan terus maju setelah tahu Paman Eliza menantangnya?"


Sementara itu Randi sendiri saat ini sedang menyusuri setiap lapak yang ada di pasar, mencari beberapa bahan yang dia butuhkan. Karena yang belanja tiap hari bergantian, tempat tujuan mereka belanja juga secara otomatis tidak pada orang yang sama. Maka itu setiap belanja pasti mereka agak memakan waktu lama karena harus mencari barang yang akan dia beli di lapak yang berbeda.


Saat langkah kaki Randi melangkah semakin masuk ke dalam pasar hendak mencari bumbu seperti kemiri, bawang dan yang lainnya, matanya menangkap sosok yang dia kenal sedang berjualan. Secara kebetulan sosok itu menyediakan bumbu bumbu yang memang sedang dicari oleh Randi. Dengan sangat antusias, pria itu melangkahkan kakinya menuju ke lapak sosok yang sangat dia kenali.

__ADS_1


"Bawang putihnya satu kilo berapa, Mbak?" sang pedagang yang tidak menyadari kedatangan Randi seketika langsung membelalakan matanya begitu dia tahu siapa orang yang baru saja bertanya tentang harga.


"Kamu ngapain ke sini sih?" sungut pedagang itu ketus. Wajahnya langsung menujnjukan kalau dia tidak suka dengan kedatangan Randi.


"Loh, aku kan mau beli bumbu, Za. masa kamu usir."


"Pasti cuma modus doang kan?" tuduh si penjual yang ternyata adalah Eliza. "kayaknya nggak tahu sifat kamu aja."


"Ya ampun, Za, modus apaan?" bantah Randi. "Lagian kalau modus agar lebih dekat dengan kamu ya nmggak apa apa kan?"


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2