TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Semalam Bersamamu


__ADS_3

Malam itu, di dalam salah satu kamar, suara dengkuran halus, terdengar ditengah keheningan. Seorang wanita yang matanya tidak dapat terpejam, sedikit terusik dengan suara dengkuran teersebut. Wanita itu lantas membalikkan posisi tubuhnya menghadap pria yang sudah terlelap sejak beberapa menit yang lalu.


Wanita itu hanya bisa mendengus tanpa bisa berbuat apa apa untuk menghentikan suara yang keluar dari pria tersebut. Suaranya memang tidak terlalu keras, bahkan seperti suara orang yang menghembuskan nafasnya dengan kasar. Tapi karena keadaan yang cukup hening, membuat suara itu bisa terdengar lebih jelas dan mengusik telinga wanita yang tidak bisa memejamkan mata.


Wanita bernama Rianti itu terus menatap pria yang sudah terlelap. Entah nasib buruk apa yang akan menimpa wanita itu jika tidak ingat nama Dandi untuk dimintai pertolongan. Sebuah fakta cukup mencengangkan bagi Rianti. Tiga orang tadi ingin menodai dan juga merekamnya. Sebuah fakta yang menakutkan bagi wanita yang hidup sendirian di kota orang.


Rianti tidak habis pikir, dan sejak tadi otaknya terus bekerja. Siapa kiranya orang yang dengan tega merencanakan itu semua. Beruntung, Rianti mengetahui dengan cepat dan langsung mengambil tindakan. Rianti tidak bisa membayangkan jika itu nyata terjadi, entah bagaimana nasib kedepannya dan juga orang tuanya jika tahu kabar buruk ini.


Rianti terus menatap wajah Dandi yang terlihat tenang. Dulu Rianti sangat mencintai pemilik wajah itu. Dulu Rianti begitu memujanya sampai dia tidak menyadari kepalsuan yang diberikan untuknya oleh pria itu. Tapi sekarang entah, Rianti tidak tahu harus bersikap bagaimana. Lama memandangi wajah Dandi, rasa ngantuk pun perlahan menyerang matanya. Rianti terlelap dengan posisi menghadap wajah pria di sisinya.

__ADS_1


Tanpa terasa, waktu terus melaju tanpa bisa dihentikan. Karena toko Rianti seperti berada di bawah menara masjid yang ada di taman kota, suara merdu yang menggema di pagi itu ibarat alarm yang berbunyi dan membangnkan orang orang yang tinggal di deretan toko, yang sama dengan Rianti. Bersamaan dengan itu pula Dandi lantas terbangun.


Sebelum mata Randi terbuka dengan sempurna, pria itu merasakan sesuatu berada diatas tubuhnya. Perlahan mata Dandi terbuka untuk melihatnya. Senyumnya seketika terkembang saat sebuah tangan sudah melingkar di perutrnya dan sebuah wajah berada di dekatnya. Dandi sengaja tak bergerak. Hanya kepalanya yang menoleh sedikit ke kiri untuk menikmati wajah terlelap milik Rianti.


Namun hal itu tidak berlangsung lama. Karena suara merdu yang berasal dari masjid, langsung membangunkan Rianti dari tidurnya. melihat wanita itu bergerak, Dandi langsung pura pura tidur kembali. Sekarang, gantian Rianti yang membelalakkan matanya begitu menyadari apa yang sedang dia perbuat.


Dandi benar benar manahan dirinya agar tetap terlihat seperti orang tidur. Meski dia juga tahu, saat ini Rianti masih berada di dekatnya dengan memandangi wajahnya. Randi kini merasakan tangan Rianti bergerak, melepas pelukannya. Tapi tak lama setelahnya, pria itu merasakan jari jari Rianti bergerak pelan di wajahnya. Sungguh, senyum Dandi ingin segera dia kembangkan saat itu juga.


"Coba dulu kita jadi nikah, mungkin sampai saat ini aku adalah wanita yang paling bahagia memiliki kamu," gumam Rianti sembari jari tengahnya terus mengusap wajah Dandi. "Mungkin saat ini kita sudah punya anak anak yang lucu. Tapi, sayang, itu hanya kemungkinan yang tidak akan terwujud." Rianti menghentikan gerakan jarinya tepat di atas bibir Dandi. Setelah itu dia bangkit dengan perasaan tidak menentu lalu segera beranjak keluar dari kamar.

__ADS_1


Menyadari Rianti yang telah pergi, Dandi perlahan membuka matanya dan menatap tirai yang bergerak. "Maaf, jika dimasa lalu aku begitu menyakitimu, Ri. Tapi dimasa datang, aku akan berusaha mewujudkan kemungkinan yang kamu inginkan. Aku harap ada kesempatan kedua untuk aku."


Hingga waktu menjelang siang, Dandi sudsh kembali ke tempat usahanya dan menceritakan semua yang terjadi di malam itu kepada sahabatnya. Seperti biasa, mereka berbagi cerita sambil mengerjakan pekerjaannya masing masing sesuai dengan tugasnya.


Di tempat lain, terlihat sebuah mobil berhenti di halaman salah satu rumah warga. Mobil yang terbilang mewah itu sudah beberapa kali berkunjung ke rumah itu untuk menemui seorang bocah laki laki yang tinggal di sana. Kedatangan pemilik mobil disambut dengan hangat oleh si pemilik rumah. Tanpa mereka sadari, tak jauh dari rumah itu, ada mata yang berbinar melihat sang tamu datang.


"Itu, Mul, orang tua Arimbi sudah datang. Ayok kita ke sana, kita lamar Arimbi," ucap orang itu dengan sangat antusias.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2