TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Dukungan Para Pedagang


__ADS_3

"Lah, kok ada ya laki laki modelan kayak gitu?"


"Nah, iya, Kok jadi kayak sinetron, pakai drama penculikan segala?"


"Hahaha ... lucu ya? Demi apa coba sampai mau melakukan ide begituan?"


Berbagai tanggapan langsung keluar dari mulut orang orang yang mendengar cerita Randi. Banyak yang tertawa dan tidak sedikit pula yang mencibir dengan komentar yang cukup pedas. Eliza sendiri nampak begitu lega saat menatap para pedagang yang sepertinya percaya dengan cerita dari pria yang dia tunjuk.


Berbeda dengan wanita yang tadi sempat melayangkan tamparan kepada pipi Eliza. Wanita itu langsung salah tingkah dan menahan malu begitu mendengar semua yang diceritakan Randi. "Pasti kalian bohong kan? Kalian pasti hanya mengarang cerita, iya kan?" wanita itu malah dengan lantangnya menyangkal demi menutupi rasa malunya.


"Bagaimana mereka bisa bohong kalau saksinya orang sekampung? Aneh aneh aja kamu, Mbak," celetuk seorang pedagang yang letak lapaknya di seberang jalan persis dengan lapak Eliza.


"Mbak, Mbak, cowok model kayak gitu kok dibelain mati matian. Kayak cewek nggak laku aja," timpal pedagang yang lain langsung membuat wajah wanita itu merah padam dan seketika menatap pedagang yang baru saja mengeluarkan ucapan yang bernada hinaan.


Di saat wanita itu hendak membalas celetukan para pedagang yang menyalahkan dirinya, tersangka yang tadi diceritakan oleh Randi, muncul dengan nafas yang tersengal sengal. Tentu saja kehadiran pria itu langsung di sambut sorak sorai oleh orang orang di sana.

__ADS_1


"Waduh, aktornya datang nih," celetuk pedagang dan hal itu langsung disambut dengan sorakan dan tawa yang cukup riuh dan menggema.


"Kamu ngapain disini? Pulang nggak!" bentak pria yang baru datang pada wanita yang tadi menampar Eliza. Pria itu tidak menghiraukan bermacam celetukan yang terlontar untuknya.


"Kenapa kamu nyuruh aku pulang?" wanita itu terlihat tidak terima dengan perintah yang dia dapatkan. "Kamu itu harusnya bersyukur, aku tuh kesini mau membela kamu."


"Aku nggak butuh pembelaan dari siapapun. Nggak usah bikin malu aku. Dikiranya kamu penting apa gimana!" wanita yang mendapat hardikan dari pria yang dia sukai tentu saja terperangah mendengar ucapan dari pria itu. Matanya yang menandang pria bernama Rudi itu menatap tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Udah deh, jangan banyak drama di depan dagangan orang! Nggak malu apa dilihatin banyak orang kayak gitu!" Eliza langsung mengusir mereka secara terang terangan. Rudi melayangkan tatapan tajam ke Eliza lalu pergi tanpa bersuara. Sedangkan si wanita, baru pergi tak lama setelah Rudi menghilang. Hatinya sungguh sakit saat mendengar ucapan pria yang dia cintai tadi. Wanita itu tidak percaya kalau dia tidak pernah dianggap penting.


"Mas nya hebat, bisa melindungi pacarnya dengan baik," celetukan seorang pedagang yang letaknya di depan penjual bubur kacang ijo, membuat Randi dan Eliza terkejut bukan main.


"Bener loh, Masnya sangat sat set dalam mengatasi masalah. Eliza sangat beruntung punya pacar kayak kamu," pedagang lain ikutan mengeluarkan suaranya. Jika Randi langsung tersenyum lebar, berbeda dengan Eliza yang terlihat sinis dengan tatapan tajam ke arah Randi.


"Yang bilang mereka loh, bukan aku!" Randi yang merasa tatapan Eliza adalah tatapan mematikan, seketika mengucapkan pembelaannya karena kepergok sedang cengengesan.

__ADS_1


"Ya ampun, mbak El, marahnya kok nggak habis habis?" sekarang gantian penjual bubur yang bersuara. "Harusnya sih Mbak El seneng karena pacarnya ngebelain, bukan marah marah mulu. Nanti cepat tua loh."


Lagi lagi Randi tersenyum lebar karena di sana pria itu mendapat pembelaan dari para pedagang. Eliza sendiri memilih bungkam dan tidak menunjukkan ekspresi apa apa. Dia bingung harus bersikap bagaimana. Karena ada pembeli dagangannya, Eliza bisa menutupi rasa kesalnya dengan melayani pembeli itu. Dengan sikap yang sangat ramah, Eliza melayani setiap barang yang ditunjukkan si pembeli.


"Mas nya sih orang mana? Kok kayak bukan orang sini apa yah?" tanya pedagang di seberang Eliza dengan cukup lantang sampai Eliza mendengarnya.


"Aku baru sebulan di kota ini, Bu. Kebetulan aku dan Eliza tinggal di kota yang sama di Ibu kota," balas Randi dengan ramah.


"Owalah kalian tetanggaan juga?" Randi nampak mengangguk dengan senyum yang cukup lebar. "Kenapa kamu nggak nikahin Eliza aja, Mas? Agar Eliza tidak ada yang mengganggu lagi."


"Waduh!"


...@@@@@...


Hy Reader, terima kasih, sudah mengikuti kisah ini ya? Makasih juga atas dukungannya. Othor juga mau mengumumkan nih, ada cerita baru yang sama serunya dengan cerita ini. Judulnya HANTU HANTU CANTIK. Ikuti yuk. Ditunggu dukungannya. Terima kasih.

__ADS_1



__ADS_2