
Akhirnya ketiga pria itu sepakat untuk kembali ke kota dalam waktu satu minggu lagi. Dengan banyak pertimbangan saat mereka memutuskan hal itu. Selain dari segi para konsumen, Mereka juga memperhitungkan barang persediaan dagangan mereka. Setelah dirinci, dalam satu minggu ke depan mereka baru akan belanja lagi, jadi sekalian saja mereka ambil libur.
Selain Randi dan sandi, Dandi juga akhirnya memutuskan untuk menemui orang tua Rianti. Biar bagaimanapun, pria itu juga harus segera mengambil tindakan secepatnya agar benar benar bisa menjaga Rianti lebih mudah lagi, Apa lagi di kota kecil ini, Rianti hidup sendirian. Tidak ada siapapun yang menjadi pelindungnya. Maka itu Dandi harus segera mengambil langkah, apapun yang terjadi nantinya.
HIngga hari berganti lagi, seperti biasa, tiga pria disibukan dengan kegiatan rutinnya. Kali ini yang bertugas ke pasar adalah Sandi sedangkan dua teman lainnnya bertugas di rumah makan, mempersiapkan segalanya. Tentunya selalu ada obrolan yang mengiringi kegiatan mereka itu.
"Hahaha ... terus si peneror jadi dilaporin ke polisi nggak?" tanya Randi begitu Dandi selesai menceritakan tentang kejadian semalam di toko buah wanita incarannya.
"Rianti nyerahin semua masalah itu ke tangan Romi. Heran aku, ngejar laki laki kok ya sampai segitunya. Pakai adu domba Rianti dan pemilik toko segala," ucap Dandi sembari mencetak adonan cilok dengan tangannya.
"Perbuatan wanita itu, mengingatkan kita kepada Rusdi nggak sih?" tanya Randi yang saat itu baru selesai menyiapkan bahan dan bumbu seblak.
"Hahaha ... benar, itu anak gimana ya sekarang?" tanya Dandi.
"Ya masih sama. Buktinya dia masih mencari tahu tentang kita, kan?"
__ADS_1
"Iya, juga sih. Tapi, apa dia masih ngejar ngejar Sandi? Berita terakhir yang aku dengar, katanya Rusdi akan menikah dengan teman ayahnya."
"Yah, kayak kamu nggak tahu aja orang tua Rusdi itu gimana, Dan. Paling juga pernikahan bisnis. Walaupun Rusdi juga pasti suka dengan pernikahan seperti itu, tapi kan tidak menjamin kalau dia benar benar sembuh."
Dandi nampak manggut manggut dan sangat setuju dengan apa yang dikatakan Randi. "Padahal isi celananya Rusdi, sama cewek juga berfungsi dengan baik ya? Kamu ingat kan? Saat memergoki Rusdi lagi begituan sama Angel di perpustakaan? Tapi kok malah hasratnya lebih besar ke cowok?"
"Hahaha ... namanya juga AC DC, depan bisa belakang bisa, Dan. Tapi sayang, kalau sama cowok, Rusdi yang nungging, hihhh!"
"Hahaha ... nggak kebayang kalau dulu kita nggak mergoki Rusdi dan Sandi, entah nasib Sandi sekarang bakalan kayak apa. Hahaha ..."
Apa yang diceritakan Randi dan Dandi memang benar adanya. Bahkan hari ini, di waktu yang sama, tapi di kota yang sangat jauh berbeda, Rusdi memang selalu mencari informasi ketiga mantan temannya itu. Dendam yang masih membara di dalam benak Rusdi, membuat pria itu selalu menunggu berita terbaru tentang tiga pria itu.
Demi dendamnya, Rusdi sudah berkali kali, menjadi penghambat ketiga pria itu setiap menjalin hubungan dengan wanita. Rusdi berharap kalau ketiga pria itu juga nantinya dianggap menyimpang oleh orang orang karena tidak kunjung menikah. Apa lagi Rusdi memiliki bukti perbuatan tiga pada tiga wanita di masa lalu. Bukti itu akan dijadikan penguat kalau tiga pria itu bukan pria yang lurus.
"Gimana? Apa ada kabar terbaru tentang Sandi dan teman temannya?" tanya Rusdi kepada oramg yang dipercaya untuk sesekali mengawasi kehidupan mantan teman temannya.
__ADS_1
"Untuk saat ini belum Bos. Saya sudah mendatangi ketiga rumah makan milik mereka, tapi tidak ada satupun informasi yang saya dapat," keluh orang suruhan Rusdi.
"Ya ampun! Masa mencari alamat usaha baru mereka aja, kamu nggak biisa melakukannya?" Rusdi terlihat kesal. Sejak dia mendengar kalau Sandi dan dua temannya membuka usaha di kota lain, Rusdi benar benar seperti kehilangan jejak tiga pria itu.
"Sumpah, Bos. Saya sudah mencoba mencari informasi dengan berbagai cara, tapi hasilnya zonk. Tidak ada karyawan yang memberi tahu."
"Kan kamu bisa cari tahu lewat keluarga atau saudaranya?" Rusdi benar benar semakin kesal karena anak buahnya sangat kurang inspiratif.
"Baik, Bos, aku akan cari ke sana."
"Nggak perlu! Biar aku saja yang bergerak," akhirnya Rusdi sendiri yang memutuskan mengambil tindakan. "Sekarang, kamu kerjain tugas lainnya, paham kan maksud aku?"
"Baik, bos, saya sangat paham."
...@@@@@...
__ADS_1