TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Perlahan Terungkap


__ADS_3

Setelah subuh usai, suasana pasar di sebuah kota sudah terlihat begitu ramai. Pasar yang dikenal sebagai pasar induk di kota tersebut, memang hampir setiap hari ramai dengan kegiatan jual beli. Tidak hanya siang hari saja, kegiatan jual beli itu berlangsung, dan hampir selama dua puluh empat jam, transaksi jual beli terjadi di sana.


Seperti pagi ini, suasana ramai juga sedang berlangsung di pasar tersebut. Diantara keramaian orang orang yang ada di sana, terlihat seorang pria dengan sangat santainya menenteng barang belanjaan dalam beberapa kantong plastik. pria yang masih hidup sendiri itu, terlihat santai saat membeli beberapa barang yang dia butuhkan.


Begitu dia bertemu dengan wanita paru baya yang mengenali wajahnya, pria tersebut memilih istirahat sejenak di lapak wanita itu sembari ngobrol sejenak. Kebetulan di lapak wanita tersebut menjual beberapa barang dagangan yang berhubungan dengan usaha pria itu. Jadi sepertinya sangat tepat jika dua orang yang baru kenal beberapa hari itu sangat nyambung dalam obrolan yang terjadi diantara mereka.


"Mas Sandi memang sudah lama kenal dengan Arimbi?" tanya wanita itu yang mengaku bernama ibu Farida. Padahal baru saja Sandi ingin menanyakan sesuatu tentang wanita bernama Arimbi, tapi ibu Farida terlebih dahulu membukanya.


"Kenal, Bu," jawab Sandi singkat. "Kenapa?"


"Nggak apa apa, Nak. Berarti Nak sandi tahu rumah Arimbi nggak?" pertanyaan Farida tentu cukup membuat Sandi terkejut. Kening pria itu bahkan sampai berkerut untuk menunjukkan rasa herannya.


"Ya tahu, Bu. Emang ibu nggak tahu rumah Arimbi?" tanya Sandi dengan segala penasarannya. Wanita itu menggeleng lalu dia tersenyum kecil. Tentu saja gelengan ibu itu semakin mengejutkan lawan bicaranya. "Masa ibu nggak tahu? Emang ibu siapanya Arimbi?"


Wanita itu keluar dari lapaknya dan memilih duduk di bangku panjang sebelah pemuda itu. "Sekitar tiga tahun yang lalu, Ibu sama suami ibu bertemu Aimbi di sebuah warung di tepi jalan saat ibu sama bapak pulang dari rumah keluarga."

__ADS_1


"Apa!" pekik Sandi dengan segala rasa terkejut yang langsung menyeruak begitu mendengar penuturan dari wanita tua di sebelahnya.


Ibu Farida melanjutkan ceritanya. Sekitar tiga tahun yang lalu dia dan suaminya sedang berkunjung ke rumah keluarganya. Saat pulang, Bu Farida dan suami mampir di sebuah warung di kota yang mereka lewati makan dan setelahnya mereka menghabiuskan waktu di sebuah alun alun. Di sana mereka bertemu dengan Arimbi yang terlihat seperti orang bingung.


Bu Farida yang penasaran lantas mendekati Arimbi dan mencoba mengajak ngobrol wanita itu. Awalnya Arimbi hanya menanggapi biasanya saja, namun lama kelamaan wanita itu menangis dan menceritakan segala yang menimpanya. Bu Farida nampak begitu terkejut mendengar penuturan Arimbi. Bu Farida yang memang tidak di karuniai seorang anak, mengajak Arimbi untuk ikut tinggal bersama dan sampai sekarang hampir empat tahun Arimbi hidup bersama pasangan suami istri itu.


"Jadi Reyhan ..." Sandi tidak bisa melanjutkan ucapannya karena mendadak bibirnya tidak kuasa untuk meneruskan kata katanya.


"Karena mengandung Reyhan lah, Arimbi memilih pergi dari tempat lahirnya. Ibu nggak nyangka, Kok ada laki laki jahat seperti itu. Perasaan wanita buat taruhan. Mana sampai hamil lagi. Dasar laki laki kejam."


"Apa Mas Sandi pernah bertemu orang tua Arimbi?"


Pria itu menggeleng lemah. Jangankan bertemu, untuk berhadapan langsung saja, Sandi tidak memiliki keberanian. Berbagai macam rasa kini berkecamuk di dalam benak pria itu. Karena tidak sanggup lagi mendengar kisah pahit akibat seorang wanita akibat perbuatannya, Sandi memilih pamit dengan alasan karena waktu sudah siang.


"Kamu kenapa, San? pulang dari pasar kok bengong?" tanya Randi sembari memeriksa barang belanjaan yang Sandi bawa.

__ADS_1


"Ketempelan setan kali," celetuk Dandi yang saat itu baru saja selesai merapikan beberapa bahan utama di tempatnya.


"Ternyata benar Reyhan itu anak aku, Dan."


"Apa!" ucapan Sandi sontak membuat kedua temannya memekik bersamaan. "Yang bener San?" tanya Randi memastiksn.


Randi mengangguk. "Aku tadi bertemu dengan neneknya Rayhan di pasar, dan dia cerita semuanya. Ternyata Arimbi pergi dari kota karena mengandung anak aku, dan aku dengan tega malah menolak kehadirannya."


"Astaga, San! Pantes anak itu mirip banget sama kamu," cetus Randi.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" tanya Dandi. Sandi hanya bisa menggeleng bingung. Ketiga pria itu lantas duduk satu baris di balik meja pembatas. "Sepertinya ini sudah menjadi karma kita, dan untuk menebusnya, kita harus meluluhkan hati para wanita yang sudah kita" sakiti."


"Benar."


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2