
"Loh, Masnya ke sini lagi!" seru seorang ibu saat melihat laki laki yang dia kenal wajahnya tapi tidak tahu namanya, datang ke tempat dia jualan. "Ini siapa, Mas? Ayahnya?" tanya Ibu itu sambil menunjuk pria paru baya yang datang bersama pria yang usianya lebih muda tersebut.
"Ayahnya dari hongkong!" semprot pria paru baya itu yang sangat terlihat galak meski dalam keadaan tidak marah. "Saya pamannya yang punya lapak ini," tunjuk pria itu.
"Owalah Pamannya Mbak El?" seru ibu yang menjual bubur kacang hijau langganan Randi. Ibu nampak terkejut mendengar kalau pria tua itu adalah Pamannya Eliza. "Mbak Eliza baru saja pulang, emang tadi nggak ketemu di luar?"
"Kalau ketemu, mana mungkin aku sampai sini. Bu," sungut Paman Iksan yang membuat Ibu itu malah terkekeh, bukannya takut.
"Hehehe ... mungkin lewat jalan lain. Kasian loh Mbak El, Pak. Tadi ada yang nampar pipinya."
"Apa!" pekik Paman Iksan lantang. "Ada yang nampar Eliza! Gimana ceritanya?: suara paman Iksan langsung menggelegar dengan wajah yang terlihat cukup terkejut begitu mendengar berita dari ibu itu.
"Bapak tanya aja sama Mas ini," Ibu itu malah menunjuk ke arah Randi yang sedari tadi lebih banyak diam. "Tadi, untung ada Mas ini. Sebagai pacar, mas ini benar benar melindungi Mbak El. ya Mas ya?"
Randi sontak tersenyum canggung. Apa lagi pandangan Paman Iksan terlihat tajam dan menyeramkan, membuat Randi sedikit merasa was was. Yang memberi tahu tentang kejadian yang menimpa Eliza, bukan hanya penjual bubur saja, tapi para pedagang lain yang letaknya tidak jauh dari lapak Eliza dan yang menyaksikan peristiwa tadi pagi juga ikut bersuara.
__ADS_1
"Ya udah, Bu, terima kasih infromasinya," ucap Paman Iksan lalu menatap ke arah Randi. "Kita pulang, kamu harus ngasih penjelasan tentang kejadian tadi," tanpa menungu balasan dari Randi, Paman Iksan langsung saja berbalik arah dan melangkah menuju ke arah pintu utama pasar yang tadi mereka lewati.
Randi pasrah saja mengikuti pria itu dan sedikit merasa dongkol dengan sikap para pedang yang justru malah memberinya semangat dengan senyum yang begitu lebar. Dengan mengendarai satu motor, Paman Iksan dan Randi berboncengan menuju ke rumah pria tua tersebut.
"Loh, Bapak darimana? Kok pulang sama ..." ucapan sang istri terhenti karena wanita itu tidak mengetahui nama pria yang datang bersama suaminya.
"Randi, bu," Randi yang menyebutkan namanya sendiri, meneruskan ucapan bibinya Eliza yang terhenti beberapa saat tadi, dan mereka saling berjabatan tangan.
"Eliza mana, Bu? Tolong panggilkan!" titah Paman Iksan tanpa menjawab pertanyaan dari istrinya. Wanita itu sontak saja masuk ke dalam, sedangkan Iksan dan Randi memilih duduk di kursi yang ada di teeras rumah.
"Paman yang mengajaknya," bukan Randi yang menjawab tapi Paman Iksan. Eliza sudah pasti kembali merasa terkejut sembari duduk di kursi yang lain.
"Ada apa? Kok Paman malah ngajak Randi ke rumah?" tanya Eliza dengan segala rasa penasaran yang tiba tiba mencuat dalam benaknya.
"Mulai malam nanti, Randi yang akan mengantar kamu pulang setelah kamu membantu Taryo jualan," titah Paman Iksan langsung ke tujuan utama, tanpa mencari tahu terlebih dahulu dan menanyakan pendapatnya ke Eliza.
__ADS_1
"Loh, kok malah jadi kayak gini, Paman? Nggak lah, aku nggak mau diantar sama pria itu," Eliza menolak dengan tegas. Sedangkan Randi memilih diam saja, walaupun dirinya kecewa karena Eliza menolak keinginan pamannya.
"Kamu mau kejadian semalam terjadi lagi?" tanya Paman Iksan dengan suara sedikit lebih keras, bahkan hampir saja mengeluarkan bentakannya kepada Eliza. Untung Paman Iksan masih bisa mengendalikan diri, "Tadi aja kamu kena tampar orang kan di pasar? Ngaku!"
Mata Eliza langsung membelalak, lalu dilemparkan pandangannya ke arah Randi dengan tatapan yang cukup tajam. Seketika Randi menggerakan telapak tangannya sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali sebagai isyarat kalau Randi tidak menceritakan tentang kejadian di pasar tadi.
"Bukan Randi yang cerita, tadi Paman ke pasar dan mendengar kejadian yang menimpa kamu dari orang orang pasar," Paman Iksan kembali melanjutkan ucapannya karena perasaannya cukup peka dengan sikap yang ditunjukkan Eliza.
"Ya ampun! Paman ngapain ke pasar?" entah sudah beberapa kali Eliza dibuat terkejut dengan sikap pamannya hari ini.
"Ya nyari kamu lah, buat ngobrolin yang tadi Paman sampaikan."
"Ya ampun, Paman. masa aku tiap hari pulang sama Randi?"
"Tidak masalah. Kamu tinggal nurut aja. Atau kalau mau, paman nikahkan kamu dengan Randi, iya?"
__ADS_1
...@@@@...