
Siapapun orangnya, pasti sangat menginginkan' memiliki sebuah keluarga kecil. Entah apa itu latar belakangnya, pasti mimpi itu hadir dalam lubuk hati yang paling dalam pada benk seseorang, diluar dari kenyataan yang sedang orang itu jalani. Apa lagi jika mereka melihat sebuah keluarga kecil yang terlihat bahagia, pasti orang itu akan merasa iri dan impian itu semakin ingin diraihnya.
Begitu juga yang dirasakan oleh dua orang pria yang saat ini sedang memperhatikan seorang anak laki laki yang usianya hampir menginjak angka tiga tahuh, yang sedang bermain air bersama ibunya. Dua pria itu sampai senyum senyum sendiri melihat tingkah ibu dan anak itu.
Sandi, salah satu dari dua pria itu, sedikit merasakan peenyesalan karena dengan sengaja telah membuang waktu atas hadirnya Reyhan ke dunia. Sekarang hanya dengan melihat Reyhan dimandikan oleh wanita yang telah melahirkan anak itu, Sandi sudah merasa kebahagiaan yang tidak biasa. Kebahagian yang tulus, yang baru dia dapatkan setelah menyadari semua kesalahannya.
Berbeda dengan Randi, pria itu tidak ada penyesalan sama sekali karena dia memang tidak bertindak terlalu jauh kepada wanitanya. Tapi karena pemandangan anak dan ibu itulah, Randi merasa harus tetap semangat dalam mengejar Eliza sampai wanita itu menjadi istrinya.
"Mas bos, ada yang nyari," dua orang yang sedang asyik melihat seorang anak diamndikan oleh ibunya sontak menoleh begitu mendengar suara salah satu karyawannya.
"Loh. Paman iksan," seru Randi saat melihat siapa yang berdiri di depan tokonya. Randi pun bergegas bangkit dari duduknya dan melangkah cepat menemui Paman Iksan dan istrinya. "Silakan masuk, Paman, Bibi."
"Kamu ada waktu nggak? Paman pengin ngomong sama kamu," ucap Paman Iksan begitu Randi berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Ngomong apaan, Paman. Bicara di dalam aja, ya? Mumpung rumah makan lagi agak sepi," ajak Randi. Sepasang suami istri itu setuju saja. Mereka mengikuti Randi dan duduk di krursi yang ada di dekat meja pembatas. "Pamam dan Bibi mau makan apa? Biar nanti aku buatkan?"
"Nggak perlu, Paman cuma sebentar kok," tolak Paman iksan. Mau tidak mau Randi pun mengangguk dan duduk di sisi pria tua itu. Randi memerintahkan salah satu karyawanya untuk membuatkan minuman.
"Ada apa, Paman? Kok kayak serius banget, sampai Paman dan Bibi mau datang kesini," tanya Randi yang cukup penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh tamunya.
"Sebenarnya Paman dan Bibi nggak sengaja mampir kesini, Ran. Paman habis dari pasar, mengantar stok dagangan milik Eliza. Jadi ya Paman sekalian mampir," jawab Paman Iksan. "Tadi siang kata BIbi, di rumah ada tamu, dia orang tuanya bocah yang semalam menyerang kamu dan Eliza."
"Hah! datang ke rumah? Mau ngapain, Paman?" wajah Randi terlihat terkejut dengan berita yang disampaikan Paman Iksan.
"Lah terus, Eliza mau, Bi?" tanya Randi.
"Nah itu dia yang Paman sesalkan, Ran. Dengam bodohnya kok ya Eliza mau memaafkan begitu saja," Paman Iksan malah kini terlihat kesal, sedangkan Dandi untuk saat ini, bingung harus memberi respon seperti apa.
__ADS_1
"Ya kan apa salahnya memaafkan kesalahan orang, Pak. Lagian orang tua pelaku juga sampai memohon, katanya di kampung mereka sudah dibully oleh warga, ya Ibu Eliza jadi merasa kasihan," si Bibi membela diri.
"Terus ada buktinya nggak kalau mereka memang di bully? Bisa saja kan mereka hanya ngarang cerita?" Paman Iksan semakin memperlihatkan kekesalannya. Mungkin saja di rumah juga Paman, Bibi dan Eliza sudah meributkan masalah ini, dan sekarang, mereka mengulanginya bersama Randi.
"Ya ampun, Pak, orangtuanya aja sampai hampir menangis saat memohon kepada Eliza. Masa iya kami harus tega gitu tetap menerukan perkara itu, si Bibi juga terlihat tidak mau kalah dengan pembawaan yang tenang.
"Tahu lah, ngomong sama Ibu, pasti bapak yang akan kalah," Paman Iksan menyerah dan hal itu membuat Randi dan beberapa orang yang kebetulan menyaksikan dan turut mendengar cerita mereka, langsung ikut tersenyum melihat kekessalan Paman Iksan yang mengalah. Paman Iksan sontak langsung memandang Randi. "Menurut kamu tindakan mereka gimana, Ran? gegabah bukan?"
Kini Randi bingung harus menjawab apa. Pilihan yang sulit bagi Randi berada diantara dua kubu yang bersitegang. "Kalau menurut aku ya nggak ada yang salah sih, Paman."
"Ah kamu, malah plin plan gitu?" sungut Paman Iksan. "Lalu gimana rencana pernikahan kamu dengan Eliza? Udah sejauh mana persiapannya?"
Deg
__ADS_1
...@@@@@@...