TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Keadaan Yang Berbeda


__ADS_3

"Anak kamu sudah gede, Mbi," Sandi mencoba membuka percakapan. Sejak pria itu selesai melaksanakan ibadah dan kembali duduk di kursi tamu, hanya ada celotehan anak kecil yang meramaikan ruang tamu rumah tersbut. Sementara dua orang dewasa yang ada disana malah saling terdiam.


"Kamu kapan nikah, Mbi?" Lagi lagi Sandi mencoba memecah keheningan, setelah rangkaian kata yang pertama terlontar, tidak ada tanggapan balik dari wanita di hadapannya hingga beberapa menit berlalu.


"Suami kamu mana?" Pertanyaan kembali terlontar. Arimbi tak kunjung membuka suaranya. Padahal Sandi mati matian mencari topik yang sekiranya pantas untuk memulai sebuah percakapan, tapi sayang, responnya tetap sama, hanya diam.


"Apa ini rumah ..."


"Sudah melihat keadaanku kan? Kenapa masih disini?"


Sandi terpaku. Mulutnya bahkan masih sedikit terbuka karena belum menyelesaikan ucapannya tapi sudah dipotong oleh wanita yang sedari memilih diam. Namun tak lama berselang Sandi kembali membuka suaranya. "Apa kamu mengusirku?"


"Terserah kamu mikirnya apa, yang pasti kehidupan di sini nggak sama kayak di kota. Semua akan menimbulkan pandangan buruk jika seorang wanita yang sudah memiliki anak, membiarkan pria asing masuk ke dalam rumah dalam waktu yang cukup lama."


Sandi tercengang, tapi tak lama setelahnya dia mengangguk paham. "Baiklah, aku permisi pulang dulu. Maaf jika ..."


"Sudah. Pulang tinggal pulang, nggak perlu bertele tele."


Ucapan Arimbi yang terkesan kasar cukup mengejutkan bagi Sandi. Tatapannnya memandang tak percaya dengan sosok dari masalalunya yang dulu selalu bersikap lembut. Sandi memaklumi, mungkin Arimbi bersikap seperti itu karena menjaga kehormatan keluarganya. Sandi pun pamit.


Sandi pulang dengan menggunakan ojeg online. Setelah menunggu tak terlalu lama di depan rumah Arimbi, ojek pesanan Sandi datang. Apa yang dikatakan Arimbi benar, kedatangan Sandi di sana pasti akan jadi tanda tanya besar dan bahan omongan. Saat Sandi naik ke motor ojeknya, matanya menangkap beberapa wanita yang juga sedang memandangnya sampai Sandi pergi meninggalkan kompleks tersebut.

__ADS_1


"Kalian lagi pada ngapain?" tanya Sandi begitu dia sampai di kontrakannya dan melihat dua sahabatnya masih duduk di balkon yang ada di lantai dua. Sandi pun mendekat ke tempat mereka berada.


"Lagi melihat masa lalunya Randi," jawab Dandi setelah memutar badan menghadap kedua sahabatnya.


"Masa lalunya Randi?" tanya Sandi yang sekarang sudah duduk diantara dua sahabatnya.


"Tuh!" Dandi menunjuk warung tenda di seberang jalan depan kontrakan mereka. "Yang jualan nasi goreng, masa lalu Randi."


Sandi melongok ke arah yang ditunjuk sahabatnya. "Masa lalu Randi cowok?"


"Ya elah, itu yang pake kerudung!" nada Dandi meningkat lebih tinggi.


"Ya elah, tinggal ngomong aja apa susahnya sih? Orang yang pake kerudung juga banyak itu," sungut Sandi.


"Eliza?" tanya Sandi dengan tatapan tak percaya. "Eliza ada di kota ini?"


"Iya, tuh di bawah. Dia jualan nasi goreng dengan suaminya."


"Ya ampun! Kok dunia kayak sempit banget ya?"


"Rianti juga ada di sini," kini Randi yang bersuara, dan hal itu cukup mengejutkan kembali bagi Sandi.

__ADS_1


"Hah! Rianti? Dimana?" Sandi syok mendengarnya.


"Tuh, di deretan pertokoan sebelah barat masjid, toko buah."


"Astaga! Rianti sudah menikah juga?" Randi dan Dandi sontak mengangguk. "Hahaha ... gila gila. tiga cewek itu sudah menemukan jodohnya masing masing, nah kita? masih gini gini aja, Astaga!"


"Arimbi juga udah nikah?" tanya Dandi.


"Anaknya aja udah gede," seru Sandi. "Aku bahkan tadi sempat diusir, agar tidak terjadi fitnah."


"Hahaha ... tragis," ejek Randi.


"Hehehe ..." Sandi tertawa lirih. "Miris ya? Mereka yang kita sakiti, justru lebih mudah menemukan kebahagiaan. Kita? Untuk membuka lembaran baru saja, susahnya bukan main."


Dandi menghembus kasar nafasnya. "Gimana nggak susah? Setiap kita dekat dengan cewek, selalu saja ada yang bikin kompor, membuka perbuatan masa lalu kita. Ya otomatis mereka mundur."


"Hahaha ... gila ya? Sedasyat itu yang namanya karma. Di saat kita ingin memperbaikinya, tiga cewek itu menghilang. Giliran udah ketemu, mereka sudah bahagia dalam hidupnya. Benar benar nasib kita sangat lucu," Randi ikut mengeluarkan kata dalam benaknya.


"Perbuatan kita memang keterlaluan sih. Hanya karena sakit hati, kita bukan saja ngancurin hidup mereka. Tapi kita juga secara tak langsung memprovikasi keluarganya sampai ketiga cewek itu lebih memilih meninggalkan keluarganya. Jika ingat kejadian itu, aku benar benar kayak pecundang. Wajar sih, jika tadi Arimbi sangat enggan berbicara," cicit Sandi.


Ketiganya kini sama sama menatap langit di atas balkon dengan segala pemikiran yang berkecammuk dan kesalahan yang menyisakan sesal.

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2